Tulisan Arief Budiman di Kompas kemarin dulu terus terang mengusik saya. " Kenapa kok bisa timbul reaksi anti Ostrali ?. Apakah dari Indonesia tidak bisa jelas dan terang benderang ( seperti di Ostrali ) , bahwa telah terjadi kejahatan dahsyat biadab anti kemanusiaan di Timor Timur?. Dan kita tak mampu menghentikannya! " Gugah Arief. Pertanyaan dan keheranan senada juga diutarakan oleh Nuim Khayyat , penyiar senior pada Radio Australia lewat emailnya. Ya . Mengapa kita mual pada Ostrali ? Setelah saya renungkan , mungkin begini. Kita tahu betul bahwa telah terjadi kebinatangan di Timor Timur. Tapi kita-kita pun tahu betul bahwa ( Insyaallah dan Alhamdulillah ) , sejauh pikiran sekalipun, kita-kita amat jauh dari niat berbuat berbuat zalim seperti itu. Jadi sewaktu orang Ostrali macam Howard bernapsu ngajarin kita : " Hai ! bangsa biadab ! berhentilah berlaku biadab . Atau kamu saya hajar dan saya hinakan seperti milisi2 ini !" , perut kitapun jadi mual. Apalagi kita tahu telah terjadi pembesaran2 disana-sini. Saya jadi Ingat peristiwa 14 Mei. Korbannya adalah saudara2 kita keturunan Cina . Bangsa kitapun mendapat dampratan dan pertanyaan dari mana-mana. Lebih khusus lagi , sorotan banyak diarahkan pada kaum Muslimin ( ingat tudingan ucapan Allahu Akbar yang diucapkan pemerkosa yang amat menyakitkan itu ) . " Memperkosa itu biadab, meskipun korbannya Cina ! . Nyolong itu biadab ! meskipun korbannya Cina.... " : Saya dan banyak orang Islam-pun jadi mual mendengar petuah wisdom demikian itu. Apalagi saya mengira bahwa ada pembesaran2 disana-sini. Cohen lebih jernih. Dengan fokus dia melayangkan ancaman tegasnya pada TNI. Herannya sedikit sekali politisi atau kita-kita ini yang melihat dan punya nyali berkata bahwa biang-kerok semua ini adalah "HANYA" gerombolan jahat yang terdapat dalam TNI. Memang benar kalau kita kurang adil kalau mau menimpakan "semuanya" pada TNI. Kita melihat adanya unsur yang cukup beradab dalam TNI. Contohnya mungkin orang seperti Sudrajat dan Yudhoyono. Tapi siapa lagi yang bisa menghentikan gerombolan bersenjata selain yang bersenjata pula ? Sampai kapan kita mesti menunggu ?. Sampai minggu kemarinpun gerombolan tersebut masih berteriak jumawa : " NYAWA MANUSIA TIDAK ADA ARTINYA BAGI KAMI !" . Dan apakah tidak pantas bagi kita menanggung kotoran akibat kelakuan sebagian dari bangsa kita pula ? Wassalam. Abdullah Hasan. ______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
