On Mon, 4 Oct 1999, tri man wrote:
> Golkar, jelas memihak Poros Tengah. Kelompok ini telah menunjukkan sikapnya
> yang zig-zag sejak awal. Bisa dilihat dari komponen-komponen pendukung
> kelompok ini. Sebagai kuda tunggangan, politisi model-model begini paling
> enak untuk dijadikan teman untuk mendukung sebuah tujuan dari kelompok lain
> yang memerlukan.
Ya, begitu lah politik. Kalau tidak demikian, namanya moralis. Yang jelas,
politik memang, mestinya melibatkan take and give. Kalau tidak, ya syah2
saja waktu Golkar (dulu) tidak mau power sharing. Apakah begini ini lebih
benar? Pertanyaannya, apa itu cuma dilakukan Poros Tengah? Gimana dengan
PDI-P tempo hari?
> Golkar, jelas butuh 'teman-teman' yang seperti ini. PDI Perjuangan dan PKB
> sedemikian kerasnya dalam bersikap. PKB, lihat, meski Gus Dur dicalonkan
> sebagai capres, PKB sama sekali tak kendur untuk menyalurkan suaranya ke
> calonnya PDI Perjuangan. Pun demikian para PDI Perjuangan dalam menyikapi
> sebuah keyakinan. Ketika semua sibuk melakukan lobby dan kasak-kusuk, mereka
> tetap dengan programnya sendiri. Sulit sekali untuk merubah sikap politik
> PDI Perjuangan dan PKB ini.
Jika kita menilai secara jujur, tidak hanya Golkar yang butuh teman. PDI-P
jelas sangat butuh. Bukan butuh suaranya, tapi butuh untuk diakui sebagai
kelompok reformis. Itu sebabnya partai ini ngebet menggandeng PAN. Sebab,
sudah berulang kali ditegaskan, dan dapat dibuktikan secara jujur, PDI-P
sama sekali bukan partai reformis. Kecuali kalau ukuran reformis atau
tidak itu adalah: bukan Golkar. Dan rasanya, ini ukuran gila.
> Poros Tengah, boleh dibilang 'willem', 'dijawil gelem'. Tergantung apa dan
> seberapa besar imbalannya. Buat Golkar, politisi model beginilah yang perlu
> dicari. Lebih-lebih Poros Tengah memang dibangun untuk menghempang calon PDI
> Perjuangan (dan PKB). Tinggal disenggol sedikit saja, langsung mekar.
Anda kecewa karena dukungan anda, PDI-P, _kalah_?
Jika memang Poros Tengah itu gampang didekati, kenapa PDI-P tidak
melakukannya? Tolol sekali rasanya kalau kesempatan semacam itu dilewatkan
begitu saja. Saya lebih yakin, Poros Tengah tidak sekedar mudah dijawil.
Tapi memang punya misi tersendiri. Dan misi ini secara arogan tidak
diakomodasi PDI-P. Lagi pula, kalau Amien Rais dianggap sebagai tokoh
reformis, kenapa anda tidak ikut senang dengan terpilihnya dia? nampak
sekali bahwa anda sangat membela PDI-P.
> Perhatikan, siapa yang menyuarakan kegembiraan atas terpilihnya AR menjadi
> ketua MPR tersebut. Semua adalah para Golkarwan, serta mereka-mereka yang
> sejak awal memang lebih memilih Habibie, seperti Hamzah Haz, Hartono
> Marjono, dll.
So what? Salahkah mereka? Memangnya kalau yang menang bukan Amien, terus
orang2 PDI-P yang teriak2 anda juga mau menyalahkan? Mas, boleh sih anda
mendukung PDI-P. Tapi jangan terus menyalahkan pihak yang menang. Itu
nggak fair namanya.
> Menggaet Poros Tengah memang semudah menggaet cewek-cewek yang banyak mejeng
> di pinggir jalan itu. Inilah yang benar-benar disebut 'pelacuran politik'.
> Posting-posting penggemar AR, coba ingat-ingat, betapa mereka menajiskan
> Golkar, serta mengolok-olok PDI Perjuangan yang kata mereka mendekat ke
> Golkar itu. Lho sekarang ?
Apa bedanya dengan PDI_P yang ngakunya reformis, tapi menyerahkan suaranya
ke TNI? Lebih terhormatkah mereka? Andai saja PDI-P tidak terlalu banyak
mulut mengaku reformis, seperti keyakinan saya dan banyak orang,
barangkali pelacuran politik di DPRD DKI itu tidak terlalu menghebohkan.
Saya bukan penggemar Amien Rais. Tapi, ini toh lebih baik daripada yang
lainnya.
> Triman
Wisnu AM
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!