Saya rasa Anda bisa memperoleh lawan tanguh untuk berdiskusi
mengenai hal itu di Diskusri Sara, Spiritual, dll.  Arsip
mengenai debat dan diskusi itu dengan segala argumentasinya masih
tersimpan di milis itu. Saya justru memperoleh pelajaran yang
sangat luar biasa mengenai Al-Qur'an dan Hadits dari diskusi
tersebut. Sangat berharga!

Saya menghargai pendapat Anda, namun saya melihat  bahwa ada umat
yang merujuk sumber yang sama namun mempunyai implementasi yang
berbeda. Apakah itu akan Anda katakan sebagai Islam abangan
terserah, karena itu adalah hak Anda. Namun  Yaser Arafat,  Kiai,
Mhs Gus Dur, Sobari, Prof Sukuh, dan ulama itu merupakan
keragaman lain
yang saya lihat

Point saya adalah marilah kita mulai membangun sikap saling
menghargai keragaman untuk mulai membangun Indonesia Baru yang de
facto memang sangat beragam bahkan sebelum negara ini ada.
Menganggap apa yang diyakini benar adalah keharusan.  Namun inti
demokrasi adalah menghargai perbedaan pendapat. Itulah yang harus
diwujudkan kalau kita benar-benar ignin mewujudkan satunya kata
dan perbuatan
untuk membangun masyarakat demokratis.


----- Original Message -----
From: Anti_SQ <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [Kuli Tinta] TURUT BERDUKA CITA DAN BELASUNGKAWA


Sebelumnya saya mohon maaf kalau Bung Aswat bukan muslim. Tapi
dalam
Islam itu yang harus jadi rujukan utama adalah Al-Qur'an dan
Hadits, dan
bukan kasus-kasus (yurisprudensi). Dengan demikian jika ada
kasus-kasus
(yurisprudensi) yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadits,
seorang
muslim tetap harus berpatokan pada Al-Qur'an dan Hadits.

Sekarang saya mencoba menjawab dengan Al-Qu'an surat Al-Qashas
ayat 56

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang
yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang
dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau
menerima petunjuk. (QS:28:56)

Ayat Al-Qur'an ini turun sebagai peringatan kepada Rasulullah SAW
ketika
beliau berusaha mendoakan paman yang sangat dicintainya Abu
Thalib yang
telah meninggal dunia dalam keadaan kafir (non muslim).

Jadi kesimpulannya, tidak boleh seorang muslim mendoakan orang
non
muslim yang sudah meninggal.


Anti_SQ






______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke