Sent: Wednesday, October 13, 1999 12:52 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] TURUT BERDUKA CITA DAN
BELASUNGKAWA

sdr. anti_sq:
> Saya memang sudah menduga bahwa anda akan berkelit dengan
alasan bahwa
> ayat tersebut berhubungan dengan orang munafik (Abdullah
bin Ubay).
>
bs:
maaf bung anti_sq. bukannya saya berkelit. tetapi justru
sebaliknya, ingin mengemukakan argument dengan menggunakan
penalaran. justru dalam tafsir
yang saya baca, ayat itu tidak khusus membahas tokoh
abdullah bin ubay, melainkan tentang sifat orang-orang yang
enggan ikut berperang dengan berbagai  alasan,$B!!(Bsehingga
meminta ijin kepada nabi untuk tinggal. atau orang yang
berperangnya$B!!(Bbukan atas alasan ikut berjuang bersama nabi,
melainkan demi ketenaran diri$B!!(Batau tujuan lain yang rendah.
sekali lagi bukan membahas orang kafir (tidak bertuhan)
tetapi orang yang digolongkan MUNAFIK.

cerita tentang abdullah bin ubay malah terletak di ayah 81,
yang ternyata nabi menyembahyangkannya, sementara umar
mencoba menghentikan dengan menarik jubah nabi. namun nabi
tetap menunjukkan sikap pemaafnya bukan?
dengan alasan belum ada ketentuan yang sampai bahwa nabi
tidak harus menyembahyangkan si jenazah.

kemudian pada ayat 84, memang dinyatakan bahwa tidak layak
menyembahyangkan golongan orang ini, yaitu yang mengaku
muslim dan berpenampilan islam, tetapi sesungguhnya tidak
beriman. namun sayang, ada
juga ketentuan yang menyatakan bahwa ummat awam seperti kita
ini tidak
diberi tahu lewat "wahyu" seperti halnya nabi yang
menyatakan bahwa si fulan itu munafik, si badung itu kafir
dsb. apalagi bila orang-orang itu menunjukkan diri sebagai
muslim. inilah jalan penalaran saya, semoga masih sehat.

> Perlu anda diketahui bahwa untuk memahami Al-Qur'an kita
tidak boleh
> terpaku semata-mata pada konteks ayat tersebut. Janganlah
kita berkelit
> bahwa jika suatu ayat berhubungan dengan suatu kejadian
maka ayat
> tersebut hanya berlaku untuk kejadian tersebut.
>
maaf lagi, kalau saya memandangnya justru terbalik. dalam
memahami suatu ajaran sebaiknya mengetahui sampai ke
konteksnya, sampai ke sebabnya. niscaya akan semakin dalam
pemahamannya dan tidak mudah goyah. contoh gampangnya,
mengapa di qur'an hanya dibahas pemeluk agama selain islam
itu nashara, yahudi dan majusi? kalau saya bernalar, akan
menghasilkan, karena qur'an diturunkan di wilayah dengan
ragam keagamaan begitu. dengan tanpa mengandaikan bila
qur'an diturunkan di tempat lain. karena dalam pemahaman
saya, mungkin sekali sesuatu ajaran yang intinya sama atau
serupa dengan injil, taurah dan qur'an itu sendiri telah
diturunkan di kelompok budaya lain dengan cara dan metode
yang Allaah sendirilah yang maha mengetahui..

> Dalam penetapan hukum, Islam menganut kaidah-kaidah Ushul
Fiqih.
> Kaidah-kaidah tersebut pada intinya berkaitan dengan
logika (akal
> sehat). Karena itu, sebenarnya, walaupun seseorang tidak
hapal atau
> tidak mengetahui kaidah-kaidah tersebut, sepanjang dia
menggunakan
> logika yang baik (akal sehat), Insya Allah secara tanpa
sadar dia akan
> mengikuti kaidah-kaidah tersebut
>
boleh bertanya?
ilmu fiqh itu siapa yang mengkonsepkan? apakah itu juga
diwahyukan?
saya tertarik mempertanyakan ini gara-gara merenungi makna
ayat al-ghaasyiyah ayat 17 hingga 20 itu lho bung anti_sq.
bahwa untuk memahami
kejadian yang dahsyat, yang berupa kembalinya seluruh
makhluk ke asalnya,
manusia dianjurkan atau dipertanyakan (?) mengapa tidak
memikirkan
1. unta (sementara ulama menterjemahkannya sebagai awan
sumber hujan) diciptakan.
2. langit ditinggikan, sehingga langit itu selalu di atas
manusia.
3. gunung-gunung ditegakkan (padahal berdiri diatas benda
pasta)
4. bagaimana bumi dibentangkan, padahal dia berbentuk bulat.
apakah hal itu semua akan terjawab dengan hukum doktrinal
(kalau tidak salah ini terjemahan dari ushul fiqh), karena
ternyata manusia masih diberi kesempatan bahkan dituntut
untuk selalu berfikir dalam memahami "gumelarnya" jagad raya
ini sehingga benar-benar sadar bahwa ia hanyalah makhluk
saja.

dan untuk itu kedudukan nabi hanyalah sebagai pembawa pering
atan. yang tugasnya memberi peringatan akan kejadian maha
dahsyat itu.

> Ada banyak kaidah ushul fiqih tersebut, dua diantaranya
(yang relevan
> dengan pembahasan ini) adalah sbb:
>
> 1. Jika suatu ayat (hukum) berlaku untuk suatu kejadian
yang lebih umum,
> maka ayat (hukum) tersebut berlaku juga untuk kejadian
lain yang lebih
> khusus.
>
> 2. Jika suatu ayat (hukum) berlaku terhadap suatu kejadian
karena suatu
> sebab, maka ayat (hukum) tersebut berlaku juga untuk
kejadian lain yang
> mempunyai sebab yang sama.
>
> Sekarang mari kita perhatikan lagi ayat 84 Surat At-Taubah
tersebut
>
> "Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah)
seorang yang
> mati di antara mereka dan janganlah kamu berdiri di
kuburnya
> (mendoakan). Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah
dan rasul-Nya
> dan mereka mati dalam keadaan fasik".(QS At-Taubah ayat
84)
>
sekali lagi menurut pemahaman saya yang diberitahu bahwa si
fulan itu munafik (dalam konteks ayat di atas) hanyalah
nabi. kita tidak tahu kemunafikan seseorang, sehingga tidak
pula kuasa memutuskan "menyembahyangkan atau tidak". kalau
ditarik ke depan tentang belasungkawa, maka masih menurut
pemahaman saya, orang munafik itu bukan hanya milik muslim,
melainkan semua kelompok manusia, dalam setiap agama, akan
didapati sifat-sifat munafik itu.

> Sekarang mari kita gunakan logika (akal sehat) kita sambil
menerapkan
> kedua kaidah di Ushul Fiqih di atas.
>
> Dalam ayat tersebut Allah telah menganggap kafir Abdullah
bin Ubay
> walaupun sebenarnya dia belum menyatakan keluar dari
Islam. Dengan kata
> lain, walaupun belum kafir secara formil, Abdullah bin
Ubay telah kafir
> secara materil (substansial). Apakah kesimpulan yang bisa
kita ambil ?
> Kalau untuk orang yang mati dalam keadaan kafir secara
materil
> (substansial) saja kita dilarang mendoakan, apalagi untuk
orang yang
> mati dalam keadaan kafir secara formil dan materil.
>
wah kalau membahas kafir begini saya tidak berani.
benar-benar tidak berani.
pasalnya saya telah menyatakan dan setiap hari saya
ulang-ulang bahwa tuhan saya adalah satu, maha satu, Allaah.
yang sifatnya antara lain adalah penguasa segala alam, semua
makhluk. yang berarti pada dasarnya semua makhluk itu
bertuhan. saya tidak berhak menanyakan tuhan kamu apa, tuhan
kamu siapa. sama juga saya tidak berhak menyatakan misalnya
"kalau tuhan saya allaah, siapa tuhan kamu?". karena saya
anggap dengan demikian saya menggugurkan
syahadad saya.

sekali lagi, dalam pemahaman saya, untuk memahami sesuatu
ajaran sedapat mungkin saya harus memahami pula
kontekstualnya. karena pesan leluhur saya, "jangan sampai
kamu berkata-kata tanpa tahu makna kata-kata itu, apalagi
perkataan itu dalam rangka berkomunikasi dengan tuhan".
dengan rumusan tiga petuah:
1. jangan keburu berangkat bila belum tahu tempat singgah
pertamanya
   (jujugan)
2. jangan keburu berpakaian bila belum tahu ukuran dan makna
pakaiannya
3. jangan keburu menyuap (makan) sebelum yakin makanan itu
enak dan aman.

nah sebagai penutup saya akan menyampaikan cerita kejadian
nyata di tempat saya tinggal sekarang, okayama-jepang.
ada seorang kenalan saya orang jepang yang menjadi muslim,
namanya muhammad akashi. perlu diketahui orang jepang,
karena sistem bahasa tuturnya, tidak kenal konsonan "l",
semua l akan dibaca "r".
suatu ketika akashi bertanya ke teman saya:
"saudara, apakah saya ini diterima doa dan sembahyang saya
oleh kamisama (sebutan tuhan untuk orang jepang)"
"kenapa?"
"karena saya selalu salah bila menyebut asmanya, menjadi
arraah"
(teman saya kerepotan menjelaskannya)
kali kedua dia bertanya lagi:
"saudara, mengapa muslim menyebut orang jepang itu kafir?"
(diterangkan macem-macem oleh teman saya)
"mengapa tuhan menetapkan orang berbangsa-bangsa, sehingga
bangsa saya
menjadi begitu, (kafir-red)?"
(teman saya kembali kebingungan)
akhirnya dia bertanya lagi:
"saudara, mengapa tuhan itu hanya satu?"
nah untuk ini saya minta tolong kepada rekan sekalian untuk
membantu teman saya menjawab pertanyaan mohammad akashi
itu...

wassalam,

mbah soeloyo alias drajad
----------------------

































______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke