From: Anti_SQ <[EMAIL PROTECTED]>
> Saya sengaja mengambil ayat 56 Surat Al Qashash untuk
menjawab kasus YB
> Mangunwijaya yang dikemukakan oleh Bung Aswat dengan
maksud menyampaikan
> perbandingan bahwa jangankan cuma seorang Mangunwijaya
yang bukan
> "koneksi" siapa-siapa, Abu Thalib yang koneksi Rasulullah
saja tidak
> dapat didoakan karena dia mati kafir.
> Tapi rupanya mbah Soeloyo kurang puas dengan contoh
perbandingan seperti
> itu, karena itu saya akan ambilkan ayat lain yang
menunjukkan larangan
> secara langsung seperti yang mbah Soeloyo minta.

> "Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah)
seorang yang
> mati di antara mereka dan janganlah kamu berdiri di
kuburnya
> (mendoakan). Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah
dan rasul-Nya
> dan mereka mati dalam keadaan fasik".(QS At-Taubah ayat
84)
> Mudah-mudahan semuanya bisa puas dengan ayat yang sudah
sangat tegas
> itu.
------ delete-------
> Jadi, larangan seorang muslim untuk mendoakan non-muslim
yang telah
> meninggal dunia sudah tegas dan nyata.
> Anti_SQ
>
assalamu'alaikum,

bung anti_sq dan netters sekalian yang berminat dengan
bahasan ini,
terimakasih atas balasan bung anti_sq, yang sangat berarti
buat saya.
seperti yang saya kemukakan di awal dengan "sekalian ngaji
nih", ternyata berlanjut dan bener-bener saya jadi ngaji.
tentu tanpa guru,
wong sendirian je.

saya tetap keberatan dengan pernyataan mendoakan orang non
muslim yang telah meninggal itu merupakan larangan. pertama
dalam ayat 56-al-qashas telah jelas, peristiwanya bukan nabi
mendoakan pamannya, tetapi usaha nabi meminta pamannya untuk
menerima ajaran islam. dan itu telah diputuskan oleh Allaah,
bahwa beriman dan tidaknya seseorang
masih bergantung kepada "keadaan" orang itu sendiri, juga
atas kehendakNya.

kemudian yang kedua, maaf, saya akan menyampaikan penilaian
dan keluhan. penilaian dan keluhan itu ada hubungannya
dengan keterpakuan pola pikir muslimin dalam merefer suatu
ayah al-qur'an atau hadits yang benar-benar tertumpu pada
lafal, tanpa menengok substansi dan essensinya..

biasanya dalam menghadapi suatu masalah yang bersinggungan
dengan keagamaan, langsung di"pukul" dengan ayat atau
hadits. tetapi sayang (dalam penilaian saya) hanya satu ayat
saja atau bahkan kadang-kadang sepotong ayat. ini saya nilai
benar-benar "memprihatinkan".

bukankah ada kemungkinan suatu ayat itu hanya kesimpulan
dari rangkaian ayat? atau paling tidak berkaitan dengan
ayat-ayat lain atau
surat-surat lain? sayangnya memang al-qur'an yang sampai di
jaman hidup kita adalah sebuah kitab yang telah di-edit,
disusun dan disesuaikan dari banyak catatan (kala itu) oleh
ustman bin affan. sehingga kalau tidak mendalam
pengkajiannya, hilanglah semangat graduasi penyampaian wahyu
kepada nabi yang mampu mengubah sekelompok suku-suku bangsa
arab, dasi suatu negeri kecil (madinah) yang tandus dan
kering di padang pasir, berkembang sedemikian pesatnya
meliputi sepertiga dunia kala itu.

maaf saya menulis terus terang, bahwa kalangan muslim
sekarang lebih banyak meninggalkan "SEMANGAT KEIMANAN" yang
terkandung dalam surat-surat pendek di juz 30 yang
kesemuanya turun di makkah. yang waktu itu mampu
menyemangati sekelompok muslimin awal untuk berhijrah dengan
keyakinan akan membangun kehidupan yang baru.
sementara sekarang banyak pemikir muslim justru
berputar-putar pada ayat-ayat panjang yang tak
habis-habisnya dan malah cenderung memecah belah pemikiran.

contoh gampangnya, orang berbicara tentang sistem
perekonomian non-riba dan menolak sistem bank modern, karena
mengandung riba. namun kenyataannya adakah yang mengetahui
sistem non riba itu yang mampu berkembang dan diakui
kehandalannya? lebih jauh lagi dalam dunia perdagangan,
adakah ahli yang mempelajari metode dan bagaimana cara-cara
nabi berdagang, kalau memang ummat muhammad mengakui
kepiawaian nabi dalam berdagang?

itu penilaian sekaligus keluhan saya sebagai seorang yang
mengaku islam tetapi dengan pengetahuan keagamaan yang
terbatas ini. hubungannya dengan at-taubah yang dikemukakan
bung anti_sq, jelas sudah seperti yang saya keluhkan di
atas. itu adalah kurang lengkapnya bung anti_sq merujuk
surat at-taubah-nya. bukankah dalam pengertian yang lebih
luas ayat 84 itu berkaitan sejak ayat 81bahkan berlanjut
terus hingga ayat 110 dengan tema besar bahasan ORANG
MUNAFIK, sama sekali bukan membahas kekafiran seseorang.

pada penggal ayat 81 hingga 87, dimana ayat yang diajukan
bung anti_sq berada, bahkan khusus membahas nasib
orang-orang munafik dalam menghadapi perang-perang pembelaan
agama, yaitu sekelompok orang yang merasa gembira karena
tidak diajak perang, dan mereka berusaha agar tidak ikut
berperang. dan pada suatu tafsir (al-bayaan kalau tak
salah), nabi dilarang menyembahyangkan dan berdoa di kubur
orang-orang begini khusus yang terbunuh dalam peperangan
membela agama.

sedang pada orang-orang yang mengaku beragama islam,
siapapun, tetap menjadi kewajiban orang sekitarnya untuk
menyembahyangkannya ketika meninggal secara alami, bukan
terbunuh pada peperangan. contoh kasus adalah tokoh terkenal
abdullah bin ubay pada masa kehidupan nabi dan tha'labah
pada masa pemerintahan ustman bin affan.

sekian tanggapan saya, mohon maaf bila kurang berkenan dan
mohon diajari lagi bila banyak kesalahan....

wassalam,

mbah soeloyo
------------


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke