Wah si Martin makin lama makin mirip dengan kloningannya yaitu Aberson
"Amburadul" Sihaholo, makin lama makin ngawur dan tidak rasional mungkin
lagi stressss ..ssss ya ... lho kok bingung.

Saya tambahin sedikit lagi daftar nepostimenya Taufik Kiemas yaitu adik
kandungnya yang di DPRD DKI saya lupa namanya, serta sebagian besar di
DKI adalah teman dekatnya Taufik Kiemas, serta di DPRD kampung
halamannya Taufik Kiemas di Palembang yaitu sebagian besar masih sanak
familinya.

Ngamuk yok ...

Zaki Tugiyo
(yg lagi kepengen nepotisme)
----------
From: Martin Manurung
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] nepotisme atau bukan?
Date: Thursday, October 14, 1999 9:26AM

Maksudnya Adidjoko itu, sistem pemilu yang berbeda. Kalau jaman dulu,
Tutut
dk (dan keluarga) itu masuk melalui sistem pemilu yang tidak demokratis
dan
penuh rekayasa. Golkar bisa menang 70,...% dengan aneka ragam
intimidasi.
Dengan nepotis, Soeharto bisa taruh anak-anaknya jadi caleg dan PASTI
terpilih dengan sistem pemilu yang tidak demokratis dan penuh intimidasi
itu. Kalau sekarang, dengan sistem yang relatif lebih demokratis.
Kalaupun
Guruh dan Taufik jadi Caleg, tapi kalau di daerah pemilihannya PDI
Perjuangan kalah, mereka tidak bisa masuk ke DPR. Sistemnya stelsel
daftar,
pemilih bisa melihat calon-calon dari daerahnya sendiri. Kalau tidak
suka,
bisa coblos partai lain. Jadi, bukan persoalan nepotisme.

Saudara Wisnu, untuk obyektif, juga harus melihat berbagai latar
belakang
permasalahannya. Tanpa itu, obyektifitas malahan akan melenceng ke "asal
tembak". Atau malahan bisa menjadi subyektif juga; karena tak suka, cari
alasan yang kira-kira "obyektif" tanpa melihat konteks, latar belakang
dan
prosesnya.

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
_________________________________________________
E-mail: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Visit http://come.to/forma-kub

 -----Original Message-----
From: Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 14 Oktober 1999 6:31
Subject: Re: [Kuli Tinta] nepotisme atau bukan?


>On Sun, 10 Oct 1999, adidjoko mulyono wrote:
>
>> hai mas wisnu ketemu lagi kita ya....dulu di ugm club kita beda pendapat
>> sekarang masih lhoooooooooooo ( nuwun sewu ).
>
>Hai juga, mas.
>Wah, sampe lupa saya. Beda pendapat? Siapa takut? Demokrasi kok mas.
>
>> buat keluarga mega ........cara pemilihan harus melalui daerah yg
diprogram
>> sebelumnya...otomatis karena guruh dan taufik didaerahnya pdi-p  menang
yo
>> lumrah kalau jadi anggota dpr.
>
>Kalau begini, ya waktu Tutut dan sodaranya jadi anggota DPR, ya normal
>saja dong. Mereka toh tidak umpel2an mewakili satu kecamatan Cendana. Weh
>mas, kalau ukurannya begini, ya nanti yang dilakukan Golkar (dulu) itu
>bener semua.
>
>> kecuali dpr reformasi sekarang membuat uu bahwa satu keluarga maksimal
satu yg
>> menjadi anggota dpr.
>
>Betul.
>Itu artinya, waktu anak2nya Suharto jadi anggota DPR, karena belum ada UU
>DPR yang membatasi jumlah anggota keluarga yang bisa jadi anggota DPR, ya
>benar juga dong. Wah, bingung aku.
>
>> aku nggak mbak mbak mega..........yg pebting uu harus direformasi.
>
>Sama. Saya nggak ambil pusing pada partai mana. Saya cuma mau kita ini
>demokratis dan tidak munafik.
>
>WAM


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke