----- Original Message -----
From: Phantom Stranger <[EMAIL PROTECTED]>

apa benar sudah banyak?
kok saling benci antar agama tetap banyak? learning point apa
yang sudah
diperoleh?
__________________________________________________________

Bung Phantom yang selalu merangsang,

Banyak dan sedikit itu relatif. Namun kemajuan cukup lumayan. Di
tingkat nasional kita melihat Gus Dur, Sobari yang tampak dan
masih banyak yang lain tidak tampak. Demikian pula telah hadir
santri-santri sarungan yang dikonotasikan tradisional namun
memiliki visi Indonesia modern. Lihat  pula sebagai misal
kegiatan-kegiatan sosial atau profesional yang anggotanya sangat
majemuk. Bung Martin dengan kelompoknya sedang bekerja untuk itu.

Di tingkat lokal Yogya yang saya amati, dialog dan komunikasi itu
lumayan kelihatan. Shalawat dan Salam Damai bersahutan bukan hal
yang mustahil. Silahkan pula datang ke Universitas Katolik
Parahyangan di Bandung. Gambaran itu sangat jelas terlihat kasat
mata. Emha ketika muda, keluar masuk institusi agama lain dan
bergaul dengan para pemuka agamanya dengan bebas. Di beberapa
universitas di Yogya bahkan sudah menawarkan kelas lintas agama.
Mahasiswa yang majemuk itu saling berdiskusi dan  mempretasikan
paper yang berlainan agama.

Sejauh yang saya amati, hal itu mungkin terjadi karena semangat
saling menenggang dan menghargai keyakinan masing-masing dan
tidak berusaha untuk meyakinkan kebenaran masing-masing. Apakah
didalam riwayat Nabi Muhamad SAW tidak ada cerita bahwa nabi
pernah mempersilahkan mereka yang beragama lain untuk menggunakan
tempat Nabi untuk beribadah?

Selama keterkotakan dan ketertutupan itu tidak dibuka maka bangsa
ini melalui generasi mudanya tidak mungkin untuk melepaskan diri
dari persoalan-persoalan dasarnya. Saya mendapat kesan pada
awalnya  bahwa kita mengalami kemunduran pemahaman terhadap
hakekat bangsa ini sejak penetapan Dasar Negara. Untung ada
santri sarungan yang berhasil mengambil peran dan meyakinkan saya
bahwa kesan saya salah.

Nah kalau soal mengapa masih ada kebencian, itu juga relatif
sifatnya. Selama manusia itu masih memiliki kenginan untuk
menguasai namun benteng pengendaan diri yang dibangun melalui
pendidikan baik formal maupun non formal serta melalui kehidupan
sosialnya belum terbentuk maka kebencian itu akan selalu ada. Itu
hakiki sifatnya.

Sebagai penutup, arsitek makam Uskup Katolik Mgr Soegiyo Pranoto
adalah Soekarno yang Muslim dan kalau saya boleh mengetahui
siapakah arsitek Istiqal?  Bukankah itu fakta. Sayang memang
bahwa learning process dan learning rate masing-masing individu
telah ditakdirkan berbeda-beda sesuai dengan DNA dan lingkungan
sosialnya.


��
"Pemujaan kepada Tuhan  Yang Mahabesar diungkapkan lewat
pengangkatan
manusia hina ke taraf kemanusiaan yang layak, sebagaimana
dirancang
Tuhan pada awal penciptaan, tetapi dirusak oleh hukum rimba
buatan
manusia." [Romo Mangun]


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke