At 07:28 PM 1999-12-29 +0700, Martin Manurung wrote:
>Ini surat saya kepada Menteri Perhubungan Bapak Agum Gumelar mengenai
>kegawatan pelayanan dan pengelolaan angkutan penumpang oleh PT. Pelni.
>Dengan pembebasan tiket non seat, keselamatan pelayaran bisa di ujung
>tanduk. Karena tidak mendapat tanggapan sebagaimana mestinya, saya buka saja
>di milis ini. Kalau ada yang punya akses ke Menhub, mohon disampaikan. Kalau
>pun tidak, minimal bisa memberikan "wanti-wanti" bagi mereka yang berencana
>memakai jasa angkutan laut.
>
>Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
>____________________________________________
>Default: [EMAIL PROTECTED];
>For Personal Mail: [EMAIL PROTECTED]
>Others: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
>
>Jakarta, 16 Desember 1999
Martin,
Angkutan laut kita memang payah sekaleee. Waktu aku masih di Ambon (lebaran
nanti tepat setahun yang lalu), aku punya banyak pengalaman menggunakan
kapal-kapal Pelni maupun non Pelni (?) apabila penerbangan lagi nggak ada
atau memang tidak dilewati jalur penerbangan.
Di daerah-daerah tersbeut kapal memang satu-satunya alat angkutan
masyarakat yang affordable bagi kebanyakan masyarakat disekitar situ. Dalam
keadaan seperti itu yang menjadi pikiran adalah bagaimana bisa pulang balik
ke Ambon lagi. Entah mengapa waktu itu aku nggak terlalu mikirin yang
namanya keselamatan. Jangan kan keselamatan, asuransi saja pasti nggak ada
yang nanggung. Lha wong jalur pesawat kecil antar kota (Ambon-Banda,
Ambon-Ternate, Ambon-Tual) saja pake Merpati yang charter flight yang
dikecualikan dari asuransi jiwa punyaku.
Aku punya pengalaman paling buruk menggunakan kapal motor (kapasitas l.k.
300 orang) waktu aku harus pergi ke Falabisahaya (di P. Mangole, gugusan
kepulauan Sula) kira-kira satu setengah tahun yang lalu. Falabisahaya
termasuk jalur reguler yang dilalui kapal motor yang akan menuju Bitung,
Manado. Jadi jalurnya Ambon, Namlea (P. Buru), Dofa, kemudian Falabisahaya.
(itu perhentian-perhentian yang aku ingat, soalnya kapal sering sekali
berhenti sampai aku lupa persinggahannya mana saja). Dalam keadaan normal
perjalan akan ditempuh 20 jam. Di Fala ini kotanya cukup hidup karena ada
pabrik kayu Barito yang sangat besar untuk daerah itu. Dalam keadaan normal
sih ada pesawat charter yang berpenumpang sembilan ke Fala. Karena krisi
moneter nggak ada orang/perusahaan yang mau make lagi, kecuali big boss.
Jadi satu-satunya pilihan adalah naik kapal motor itu. Kapal yang melayani
jalur ini ada dua, besar kapalnya sama, berangkat hampir bersamaan, selisih
beberapa jam saja.
Sesuai dengan anjuran orang yang sudah berpengalaman melalui jalur itu, aku
minum dimenhidrinat (antimo) supaya nggak mabuk laut. terus atas
inisiatifku aku minum imodium supaya nggak kebelet (maaf) berak dalam
perjalanan. Persediaan aqua seorang membawa 4 botol besar saja, soalnya
nanti masih bisa beli di perjalanan. Makanan, kami bawa roti secukupnya,
soalnya kalau buah macam pisang, singkong, dll. banyak dijual di perhentian.
Perjalanan dimulai dari Ambon. Kami sudah mengantisipasi keadaan dengan
melakukaan KKN dengan ABK, menyewa kamar ABK. Kamar itu berukuran sekitar
1.75x2.25x2 sangat kecil, disitu ada tempat tidur susun, lengkap dengan
tungau, kecoa, tanpa AC tentu saja. Tapi aku sunggh bersyukur karena
keadaan itu sungguh lebih baik dari pada tempat tidur penumpang yang tiga
susun mulai dari lantai, ukurannya kira-kira 0.75x1.90. Kapal dalam keadaan
sangat-sangat penuh aku perkirakan ada 400 orang di kapal itu.
Setelah delay 3 jam kami berangkat dari Ambon jam 14 menuju Namlea. Hampir
disteipa perhentian, penumpang bertambah. Ada yang turun sih. Tapi lebih
banyak yang naik. Karena kapal itu adalah kapal satu-satunya, dan kapal
berikutnya baru akan muncul seminggu lagi. Dari Namlea penumpangnya
kira-kira sudah mencapai 500 orang. Jadi disetiap tempat di kapal itu sudah
berisi manusia. Jalan, dek, geladak, di atas atap, pokoknya penuh. Untuk
mencapai kamar mandi saja susahnya setengah mati. Takut nginjak orang. Jadi
kami kalo (maaf) kencing ya di botol aqua....terus dibuang kelaut.
(Ngotorin laut dengan botol aqua, sayang sekali memang!!!!).
Disetiap perhentian penumpang sudah menunggu berjam-jam sebelumnya. Anak
kecil, ibu-ibu, oma, opa, semua menunggu dengan sabar dan berharap bisa
naik ke kapal. Mereka sangat antisipatif, bahkan sebelum kapal
ditambatkanpun sudah langsung naik, lewat pintu, juga lewat jendela-jendela
yangada di lambung. Doa-doa rasanya sudah habis saja. Dalam keadaan begitu
aku pasrah saja. Kalau mau mati, toh tak seorangpun bisa
menolong. Nakhkoda tua yang memimpin perjalan berteriak-teriak pada anak
buahnya untuk mengatu bawaan para penumpang sesuai beratnya sehingga kapal
tidak mudah oleng. Bawaan mereka mulai dari sepeda, kambing, pisang,
singkong, televisi, radio, kasur busa, dan segala macam barang yang tidak
akan terlintas dalam pikiran kita untuk dibawa dalam perjalanan macam itu.
Dengan saratnya muatan, saya yakin kapal menjadi terlihat lucu dari
darat, geleng kanan kiri, jalan lambat-lambat sekali. Padahal mesin diesel
"Dong Feng" sudah menderu lebih keras dari biasanya. Gelombang lautpun
menjadi irama yang meneduhkan. Hanya dengan kepasrahan dan syukur yang
tulus kita dapat menikmati perjalan macam itu.
Perjalanan mengalami delay yang agak panjang setelah sampai di Sanana (P.
Sulabesi). Dengar dengar karena kami harus melewati selat yang paling
berbahaya yaitu selat antara P. Taliabu dan P. Mangole. Aku lupa namanya.
Jadi nakhkoda dengan feelingnya mampu menentukan timing yang tepat untuk
melewati selat itu. Orang Barito cerita bahwa pernah ada kapal perusahaan
yang tenggelam di selat itu waktu membawa beberapa buldozer, dan kendaraan
berat. Dan sampai sekarang tak satu bangkainyapun yang ketemu. Waktu lewat
selat itu baru tahu, oh.... begini toh selat yang berbahaya itu. Rupanya
kalo kita memandang ke luar, akan nampak pusaran-pusaran air berdiameter
20-30 meter. Dan janagn khawatir pusaran itu tidak hanya satu tapi banyak
di sekitar kapal. Kapal harus berakrobat disekitar pusaran air kalau tidak
mau terseret kedalam. Ugh...
Tapi akhirnya kami sampai juga dengan selamat. Dan bahkan pulang dengan
rute yang sama dan dengan kapal yang sama. Bisa dibayangkan penduduk
disekitar situ kalau ada urusan ke kabupaten. Sebelum dipecah jadi beberapa
propinsi, pulau-pulau sekitar itu masuk Kab. Maluku tengah yang beribukota
di Masohi, P. Seram. Masohi hanya sekitar 45 menit dengan speed boat yang
banyak tersedia di Tulehu di P. Ambon.
Kalau mengingat perjalan itu saya sedih sekali. Bagaimana saudara-saudara
kita belum banyak yang belum menikmati fasilitas umum. Padahal orang-orang
di pulau-pulau besar saling berebut uang yang belum tentu milik mereka.
Bagaimanapun buruknya fasilitas kapal Pelni seperti Siguntang, Dobon Solo,
dan beberapa kapal sejenis yang melewati jalur Ambon-Banda, Ambon-Ternate,
Ambon-Tual, akan menjadi surga bila dibandingkan jalur-jalur perintis yang
banyak di nusantara ini.
Salah siapa sih ini semua? Impor kapal sudah boleh belum seh? Manajemen
rute? Sikap mental birokrat? We can blame almost every single person in
this country except rakyat kere, can't we. Or we can just blame them, too. :-\
Semoga sekarang keadaan jauh lebih baik. Kan kita menuju Indonesia baru.!!!!
ari
>Kepada:
>Yth. Bapak Menteri Perhubungan
>Letjen (TNI) Agum Gumelar
>di�
> JAKARTA
>
>
>Dengan hormat,
>
>Dalam perjuangan dan pengorbanan mewujudkan reformasi yang sejati, mahasiswa
>telah memberikan segalanya. Semuanya itu dilakukan demi menyelamatkan masa
>depan rakyat, bangsa dan negara Indonesia dengan mewujudkan pemerintahan
>yang baik dan bebas KKN. Reformasi total dengan memerangi KKN, adalah upaya
>keras untuk mencapai hakekat reformasi. Karena itu, kabinet dibawah
>pemerintahan Presiden Gus Dur dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri,
>hendaknya berkemauan politik untuk secara jujur dan serius melaksanakan
>tuntutan reformasi itu.
>
>Dalam rangka itu, melalui surat ini saya sampaikan keprihatinan dan
>keresahan masyarakat kepada Bapak Menteri Perhubungan, berkaitan dengan
>pelaksanaan penjualan tiket dan pengangkutan penumpang melalui kapal-kapal
>PT. PELNI seperti yang terjadi selama ini, terlebih-lebih pada musim liburan
>sekolah, menjelang dan sesudah Natal, Tahun Baru dan Idul Fitri Tahun 2000.
>Saya melakukan pengamatan ilmiah, dan terdapat pokok persoalan sebagai
>berikut:
>
>1. Jumlah permintaan jasa kapal laut (tiket) meningkat sangat tajam
>(mencapai 150% s.d 200%), sedangkan kemampuan angkut kapal menurun. Hal itu
>disebabkan terdapat kapal yang melakukan dock. Karena keadaan itu, maka
>dalam beberapa kali pelayaran kapal PT. PELNI, terutama untuk jalur-jalur
>angkutan padat akan mengalami passanger factor antara 180% s.d 240% dari
>kepampuan angkut kapal.
>Akibatnya, bukan saja masyarakat sulit dan melakukan segala cara untuk
>mendapatkan tiket. Tetapi, lebih memprihatinkan daripada itu, pelaksanaan
>dan situasi di dalam kapal sungguh tidak nyaman, dan tidak aman. Bahkan,
>keselamatan penumpang dan kapal sangat rawan bahaya atas ancaman
>tenggelamnya kapal, perkelahian dan kerusuhan antar penumpang karena dipicu
>oleh situasi yang emosional, benturan fisik dan rebutan tempat tidur di
>dalam kapal. Harus pula diwaspadai, bahaya �perusuh� yang memanfaatkan
>situasi itu untuk kepentingan tertentu secara tidak bertanggung jawab.
>
>2. Persoalan kedua, adalah berkaitan dengan pelaksanaan penjualan tiket oleh
>PT. PELNI dan travel biro. Masalahnya adalah:
>
>a. Sistem penjualan tiket masih cara manual. Agen penjualan tiket belum
>dapat mengetahui nomor tempat tidur (seat) yang masih tersedia pada kapal
>dan pada jalur pelayaran. Penjualan tiket di agen perjalanan harus terlebih
>dulu menanyakan dan memesan via telepon kepada PT. PELNI bila ada konsumen
>pembeli tiket. Calo-calo penjual tiket banyak berkeliaran, sementara
>pernyataan PT. PELNI, penjualan tiket di Jakarta sampai bulan Januari 2000
>sudah habis terjual. Ada dugaan kuat, bahwa banyaknya pencaloan tiket itu
>karena terjadi kolusi yang mapan (established) antara PT. PELNI dengan
>oknum-oknum calo tiket. Sementara itu, perhatian Ditjen Hubla untuk
>melakukan pengawasan dan penindakan tidak pernah ada. Kolusi itu memang
>memungkinkan terjadi dan memberi peluang menguntungkan, sebab potongan harga
>bagi tiket penumpang yang batal bepergian hanya sebesar 10% dari harga jual
>tiket, sehingga para calo cukup mengenakan harga �gelap� yang lebih tinggi
>dari 10% untuk mendapatkan keuntungan (gain).
>
>b. Aneh tapi nyata, dimana terjadi penjualan tiket kelas ekonomi berstatus
>�non seat� (tanpa tempat tidur) dengan harga yang sama dengan tiket kelas
>ekonomi yang memiliki nomor seat. Penjualan tiket ini tidak hanya di PT.
>PELNI tetapi juga banyak di travel-travel biro. Karena persoalan yang aneh
>ini, maka nomor seat yang tertera dalam tiket kelas ekonomi, tidak lagi
>berlaku. Hal itu disebabkan jumlah penumpang menjadi tidak terkendali dan
>terjadi rebutan tempat tidur di dalam kapal, malah dalam banyak kasus,
>tempat-tempat tidur itu telah lebih dulu �dikuasai� oleh para preman atau
>jagoan-jagoan di atas kapal dengan cara mengkaplingnya dengan pembatas/patok
>tali plastik. Bagi tempat yang dikuasai ini, untuk mendapatkannya dari
>penguasa di atas kapal, penumpang harus membayar Rp. 10.000 s.d Rp. 15.000
>per tempat tidur (seat).
>Karena persoalan penjualan tiket kelas ekonomi �non seat� itu, maka
>pengangkutan penumpang jurusan Tg. Priok-Belawan oleh KM. Kelud dan KM.
>Sinabung, yang masing-masing berkapasitas 2400 orang (sudah termasuk
>dispensasi), pada tanggal 15, 19, 23 Desember 1999 (untuk KM Kelud) dan 17,
>21,25 Desember 1999 (untuk KM Sinabung) diperkirakan akan mencapai 5000
>orang. Hal itu, sangat berbahaya bagi keselamatan pelayaran dan merupakan
>pengingkaran terhadap hak konsumen. Sebab, fasilitas tempat tidur yang
>tertera pada tiket sudah termasuk harga yang dibayar, tetapi karena PT.
>PELNI menjual tiket yang berstatus �non seat�, maka hak konsumen yang
>memiliki nomor seat menjadi hilang.
>
>c. Persoalan lain yang dialami penumpang di dalam kapal, bahwa kasur (alas)
>tempat tidur masih harus dibayar dengan harga sewa Rp. 10.000/buah. Dalam
>hal ini, sungguh PT. PELNI tidak memiliki lagi etika dan moral bisnis yang
>wajar, serta penumpang/konsumen (yang adalah rakyat Indonesia), selalu dalam
>posisi yang dirugikan.
>
>Demikian saya sampaikan untuk menjadi perhatian Bapak Menteri Perhubungan.
>Saya mengharapkan agar Ditjen Hubla dan PT. PELNI, dapat cepat tanggap dan
>tidak bersifat masa bodoh terhadap masalah-masalah yang meresahkan
>masyarakat. Paradigma lama dan perilaku birokrasi yang lalu, hendaknya
>secepatnya ditinggalkan. Dan segala pelanggaran atas ketentuan hukum dan
>pengingkaran hak-hak konsumen (rakyat), saya mohon agar Bapak Menteri
>Perhubungan memberikan tindakan terhadap pelaku-pelakunya. Tindakan dan
>langkah korektif yang cepat tanggap itu, akan memberikan signal bagi
>masyarakat bahwa Departemen Perhubungan memiliki kemauan, kejujuran dan
>kemampuan untuk melakukan reformasi total langsung pada
>permasalahan-permasalahan praktis yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
>Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada Bapak, untuk menegakkan birokrasi
>yang bersih dan baik (clean and good), guna memberikan pengharapan baru pada
>Indonesia baru yang kita jelang bersama. Atas perhatian dan langkah korektif
>dari Bapak Menteri, saya ucapkan terimakasih.
>
>Hormat Saya,
>
>
>Martin Manurung
>Mahasiswa dan Asisten Dosen
>Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI),
>
>Tembusan.
>1. Yth. Bapak Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid
>2. Yth. Ibu Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri
>3. DPR-RI
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!