Kalau toh akan terjadi kudeta militer setelah lebaran nanti, menurut saya hal ini 
wajar-wajar saja, sebab kenyataan menunjukkan bahwa sipil belum (atau mungkin tidak) 
mampu untuk memainkan mekanisme demokrasi yang ilegan.

Kedua dalam masyarakat atau negara yang sedang mengalami transisi dari otoritarian ke 
demokrasi, maka berbagai kemungkinan akan terjadi. Samuel P. Hutington pernah 
mengemukakan bahwa dalam masa transisi tersebut ada kemungkinan dapat berubah ke arah 
demokrasi maupun kearah yang lebih otoriter. Ini teori baku dalam dunia ilmu politik.

Gelombang demokrasi ketiga ( dalam bukunya Samuel P. Hutington) juga memberikan 
indikasi bahwa pada umumnya perubahan negara dari otoriter ke demokrasi dipelopori 
oleh elit-elit militer. Contoh dalam buku tersebut menunjuk pada perubahan yang 
terjadi di portugis yang merupakan awal dari terjadinya gelombang demokratisasi III. 
Di Filipina-pun, Corri Aquino tidak mungkin melaksanakan demokrasi dengan menumbangkan 
diktator Marcos - secara single fighter. Ia butuh bantuan dari komponen utama yang ada 
disana seperti Militer (Fidel Ramos & Honassan) dan pihak gereja (kardinal Sin).

Dengan demikian kalau di Indonesia akan terjadi kudeta militer, maka secara teoritis 
hal tersebut mungkin saja terjadi. Tetapi persoalannya, apakah Indonesia berani 
menghadapi embartgo ekonomi dari Amerika yang pernah terlontar dari mulut Medelin 
Albright sebelum Pemilu tahun lalu. Dan kalau hal ini tetap tidak menjadi pertimbangan 
utama, maka militer harus belajar kepada Saddam Husein yang selama ini masih survive 
walaupun di embargo ekonomi oleh barat.

Jadi kalaupun militer akan melakukan kudeta, maka persoalan lain yang harus 
diketengahkan adalah, apakah militer dapat menjadi tulang punggung demokratisasi 
seperti yang dilakukan oleh militer portugis ketika gel. demokratisasi III 
berlangsung. Pendek kata apakah militer Indonesia mengenal tradisi demokrasi secara 
universal. Kalau mereka sudah mengenal dan paham akan demokratisasi (sebagai suatu 
proses), maka kudeta yang dilakukan tersebut dapat dikatakan sebagai langkah antara 
untuk mengembalikan demokrasi di negeri ini dengan lebih elegan lagi, serta menekan 
proses terjadinya disintegrasi sebagaimana dikemukakan dalam thesisnya John Naisbitt, 
bahwa demokrasi cenderung menimbulkan disintegrasi.

jawab lho pendapat ini, kalau tidak yo uwis ora opo-opo wong diskusi tak berdampak 
apa-apa, hanya merupakan sarana pencerahan masyarakat sipil doang.

terima kasih bin tengkyu.
 
--




Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at 
http://www.eudoramail.com

-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke