On Tue, 15 Feb 2000, pabu sacilat wrote:
> Serpak terjang Amin ketika masih di lingkungan akademis dapat dilihat.
> Contohnya ketika terjadi anaksasi irak atas kuawait itu lho. pendapatnya
> khan lari ke masalah barat dan timur, kemudian merembet ke masalah
> muslim dan non muslim. wacana barat dan timur itu khan selalu dikaitkan
> dengan muslim dan non muslim. Ini khan stereotype dari peta politik
> islam pada umumnya. Ini bukan provokasi lho. tetapi kenyataan.
WAM:
Saudara Asu (sorry, selama anda masih makai nama Pabu Sacilat, saya akan
memanggil anda begini).
Dan tahukah anda, gara-gara perang Irak orang-orang muslim di negara Barat
dimusuhi? Di negara di mana saya belajar waktu itu, ada mesjid dilempar
molotov. Mereka tidak tahu bahwa Irak dan Kuwait itu sama-sama berpenduduk
muslim. Picik sekali kalau anda menyalahkan Amien Rais dalam kasus itu.
Dan Amien Rais benar. (Kalau saja anda sudah pernah mendengar thesis
Samuel Hutington, tentu anda tidak gegabah menyalahkan Amien. Tapi nggak
apa-apa sih kalau anda tidak pernah dengar thesis itu).
> Saya orang muslim (abangan) tetapi kalau cara perpolitikan islam seperti
> itu yang kapan majunya. Contohnya lagi ketika orde baru masih berkuasa.
WAM:
Jawaban anda khas dengan pengakuan anda: muslim abangan.
Jika pengetahuan dan pengamalan anda tentang agama anda tidaklah sedangkal
yang anda akui, saya yakin omongan anda akan berbeda.
> saudara-saudara kita yang non muslim untuk mendirikan tempat ibadah saja
> sulitnya setengah mati. Nah kalau yang muslim hampir diseluruh pelosok
> indonesia, sampai di desa-desa terpencil dapat dengan mudah didirikan
> masjid atau surau atau mushola.
WAM:
Dan tahukah anda, di Sulut orang harus mencari tempat yang jauh dari
perkampungan untuk mendirikan mesjid? Atas dasar apa anda menganggap bahwa
orang Islam juga tidak dipersulit mendirikan mesjid? Begitulah omongan
orang Islam yang tidak pernah bergaul dengan orang Islam yang menjalankan
syariat dengan benar. Omongan anda lebih mirip omongan Yahudi daripada
omongan orang Islam. Orang macam anda pasti malu mengaku sebagai orang
Islam. Apalagi mengerjakan pekerjaan sebagai seorang muslim. Di mata anda,
Islam pasti identik dengan segala kesalahan.
> Dulu ketika Paus datang ke Indonesia. khan ada surat terbuka dari sang
> Ketua Muhammaddiyah (Pak AR dari Yogya) itu. yang mengatakan bahwa
> cara-cara untuk menyebarkan agama kaum nasrani sudah tidak etis, yaitu
> dengan bagi-bagi kue, bagi-bagi baju. Lho kalau kecurigaan semacam ini
> kemudian dilanjutkan dengan wacana gerakan kristenisasi atau
> katolikisasi, mau dikemanakan kerukunan kita.
WAM:
Akankah anda mengorbankan agama anda (kayaknya sih iya) in the name of
kerukunan? Kerukunan tidak bisa dibangun dengan menginjak yang lainnya.
> Kita ini sering kok selalu curiga dengan gerakan-gerakan ritual keagamaan.
> Mengapa demikian ya karena dikaitkan dengan politik itu. Mas Amin dulu
> khan juga begitu. Kalu sekarang sudah berubah (dan manusia itu katanya
> akan selalu berubah), maka kapan perubahan Mas Amin itu dapat dijamin
> secara empiris. contohnya saja biasa nggak si orang nasrani itu menjadi
> presiden.
WAM:
Bisa nggak seorang islam menjadi pemimpin di negara Kristen?
Nggak bisa! Kata orang bule, kalau itu dilakukan secara demokratis, so
what? Begitu pula di Indonesia. Kalau itu dilakukan secara demokratis, so
what?
Di Inggris beberapa tahun lalu pernah terjadi, seorang keturunan Pakistan
(dan muslim) dijadikan bulan-bulanan pers Inggris gara-gara mencalonkan
diri sebagai MP. Dan akhirnya dia gagal. Terus menurut anda, yang beginian
ini bener apa enggak? Kenapa anda jadi kena inferiority complex? Segala
yang terjadi di sini dianggap salah?
> Dulu ketika PDIP calegnya banyak yang non muslim semua ribut-ribut
> (apalagi MUInya itu). Apakah orang non muslim di Indonesia itu hanya
> numpang hidup.
WAM:
Dan apakah pemilih muslim (yang katanya 80% di PDI-P) itu boleh dibohongi?
Apa hubungannya peringatan MUi dan dengan hak non muslim untuk hidup di
Indonesia? Wajar dong, kalau pemilih PDi-P itu berjumlah 80% maka 80%
calegnya juga mesti muslim. Jika tidak, apakah bukan penipuan? Justru yang
tidak wajar itu kalau 80% pemilih muslim hanya memperoleh 20% caleg
muslim.
> Islam memang merupakan agama mayoritas bahkan Indonesia dianggap merupakan
> negara islam terbesar didunia dan oleh sebab itu orang muslimlah yang
> mempunyai hak politik lebih banyak ketimbang orang non muslim. Nah ini
WAM:
Berdasarkan asas keterwakilan, jelas itu betul. Kecuali anda sudah
mempersetankan asas keterwakilan. Dan seorang demokrat tidak akan
mempersetankan keterwakilan. Kecuali anda juga mempersetankan demokrasi.
> khan paradoks sekali, katanya kita bukan negara agama (islam), mengapa
> kok ada statement semacam ini. Kalu toh memang kenyataannya demikian,
> khan tidak perlu diungkapkan oleh para politisi kita. Termasuk Mas Amin
> itu.
WAM:
Memang kita tidak menganut negara agama. Buktinya, peraturan yang ada
tidak didasarakan pada agama. Apakah menurut penalaran anda bukan negara
agama itu= mengesampingkan Islam?
> Kasihan lho masyarakat nasrani kita itu. Misalnya Kasus Ambon (moga-moga
> cepat dapat diselesaikan) yang diekspos besar-besar di seluruh media
> massa khan pembunuhan dan pembantai yang dilakukan oleh orang-orang yang
> mengatas namakan dirinya nasrani. Lha orang-orang muslim disana apa juga
> tidak membantai. Padahal jumlah kedua penganut agama tersebut di sana
> khan seimbang.
WAM:
Bohong!
Di luaran, bahkan juga di Indonesia, ada kecenderungan bahwa orang islam
difitnah. Jika korbannya orang Nasarani, beritanya digede-gedein.
Sebaliknya jika yang jadi korban orang islam. Strait Times belum lama ini
diprotes karena kebijakan timpang seperti ini. (Dan anda, maklum cuma
abangan, sama sekali tidak tergerak untuk meluruskan kezaliman ini? Bahkan
anda merasa lebih bangga jika bisa menyalahkan orang Islam? Naudzubillah).
> Memang jika dilihat dari kenyataan secara fisik orang-orang muslim banyak
> yang terpinggirkan, misalnya kasus Tanjung priok, kasus Lampung, kasus
> Aceh. Tetapi kita juga perlu melihat dong peminggiran kaum nasrani
> ditinjau dari aspek psikis.
WAM:
Tunjukkan yang mana?
> Kasus Budiman Sudjatmiko yang di tolong romo Sandyawan, khan juga
> dicurigai bahwa romo Sandyawan telah menerapkan teologi pembebasan yang
> berbau marxis itu. Coba kalau sekarang dibalik yang menolong itu seorang
> ulama muslim, apa tanggapannya.
WAM:
Bahwa Sandyawan menolong orang, tidak dengan serta merta menjadikannya
dicurigai menerapkan teologi pembebasan. Dan teologi pembebasan memang
tidak ada hubungannya dengan tolong menolong. Perkara bantuan Sandyawan
pada Budiman jadi lain, jika diingat kesukaan PRD mengemukakan teori
berlandaskan pada ajaran Marxis. Dan setahu saya, di lingkungan islam
tidak ada ajaran yang mirip teologi pembebasan.
> Jadi pada hakikatnya selama masih ada gerakan-gerakan yang fundamentalis
> baik islam maupun nasrani, maka proses persatuan indonesia masih tetap
> harus diupayakan.
WAM:
What's wrong with being a fundamentalist?
Seorang fundamentalis adalah seseorang yang melaksanakan ajaran agamanya
secara ketat. What's wrong with this? Seorang fundamentalis tidak dengan
serta merta menjadi suka ribut, selama ajaran agamanya tidak diganggu
gugat. Ya apa masalahnya kalau ada fundamentalist Islam atau agama lain.
Pikiran anda sudah tercekoki ajaran bahwa fundamentalis itu jelek.
> Lha sekarang bagaimana apakah Mas Amin siap untuk menghadapi kemungkinan
> jika PAN yang terbuka itu dipimpin oleh orang Non muslim.
WAM:
Selama prosesnya demokratik, what's wrong with that?
> Contohnya dalam persoalan Imtak yang menjadi perdebatan di kongres PAN I.
> Bagaimanakah pendapat Mas Amin, khan masih ngambang to. Beda dengan Mas
> Bara dan Mas Faisal sing egaliter dan inklusif itu. tegas, lugas,
> konsisten, dan transparan.
WAM:
What's wrong with that?
Memangnya di agama lain tidak diajarkan keharusan beriman dan bertaqwa
(pada agamanya)? Memangnya di agama lain cuma diajarkan hidup hura-hura?
Aneh. Yang begini saja diributkan. Persis dengan kejadian Piagam Jakarta.
Orang Islam yang mau menjalankan agamanya dengan benar justru dilarang.
Apa hubungannya azas Imtaq dengan soal egaliter dan inklusif?
> Apakah kalau asas ini tidak dicantumkan menjadikan anggota-anggota PAN
> menjadi tidak bertakwa dan beriman. Sehingga gerak politiknya-pun
> menjadi sekuler. Saya rasa kok tidak. Pemaksaan untuk memasukkan Imtak
> ini khan sebenarnya hanya sasaran antara bagi kelompok islam di PAN
> untuk meredam gerak politik intern dari kelompok nasionalis yang berada
> di bawah mas Bara dan Mas faisal itu.
WAM:
Dan anda tahu kan, siapa Bara itu?
Sebenarnya saya ingin tahu, seberapa besar sih sumbangan suara (di PAN)
_kelompok nasionalis_ itu? Pius saja, yang tadinya di PAN sudah pindah ke
PDI-P. Saya lebih yakin bahwa sebenarnya konstituen PAN memang terpusat
pada warga muslim.
> Sedangkan Mas Amin dimana posisinya, ketika terjadi perdebatan tersebut.
> Kalau beliau berada di kelompok nasionalis, maka mampukan beliau
> sekarang ini tetap menduduki Ketum PAN ? Nah salah satu caranya yang
> ngambang itu, agar bisa didukung sana-sini. Ini khan juga perilaku
> politik yang tidak jelas dari Mas Amin tho.
WAM:
Apakah itu bukan karena Amien akhirnya menyadari bahwa konstituen PAN
memang sebagian besar berada di kalangan Islam? Larinya Pius ke PDI-P bisa
jadi menyadarkan orang ini bahwa dia tidak bisa mengandalkan dukungan non
Islam. Kalau saja di pemilu lalu PAN mengantongi suara besar, bisa jadi
Amien akan tetap merangkul semua kelompok. Kecilnya perolehan suara, boleh
jadi, menyadarkan banyak orang di PAN bahwa bagaimana pun mereka hanya
bisa bergantung pada masayarakat Islam.
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!