biarlah email gratisan saya pergunakan untuk media ini. wong ada yang gratis kok cari 
yang harus bayar. Negara kita khan seneng yang gratisan seperti itu. Hutang yang 
pinginnya ngemplang. Usaha bisnis yang pinginnya kolusi, nepotisme. Kalah pemilu ya 
tetap pingin masuk jadi anggota legislatif (itu lho partai kecil di KPU).

Jadi gratisan itu nampaknya nikmat kok.
Mengenai mas Amin Rais, saya kok tetap tidak percaya kalau dia itu tulus. Politik mana 
ada sih yang tulus (kecuali Gus Dur lho) saya memang pengagum berat Mas Gus Dur itu.

Serpak terjang Amin ketika masih di lingkungan akademis dapat dilihat. Contohnya 
ketika terjadi anaksasi irak atas kuawait itu lho. pendapatnya khan lari ke masalah 
barat dan timur, kemudian merembet ke masalah muslim dan non muslim. wacana barat dan 
timur itu khan selalu dikaitkan dengan muslim dan non muslim. Ini khan stereotype dari 
peta politik islam pada umumnya. Ini bukan provokasi lho. tetapi kenyataan.

Saya orang muslim (abangan) tetapi kalau cara perpolitikan islam seperti itu yang 
kapan majunya. Contohnya lagi ketika orde baru masih berkuasa. saudara-saudara kita 
yang non muslim untuk mendirikan tempat ibadah saja sulitnya setengah mati. Nah kalau 
yang muslim hampir diseluruh pelosok indonesia, sampai di desa-desa terpencil dapat 
dengan mudah didirikan masjid atau surau atau mushola.

Dulu ketika Paus datang ke Indonesia. khan ada surat terbuka dari sang Ketua 
Muhammaddiyah (Pak AR dari Yogya) itu. yang mengatakan bahwa cara-cara untuk 
menyebarkan agama kaum nasrani sudah tidak etis, yaitu dengan bagi-bagi kue, bagi-bagi 
baju. Lho kalau kecurigaan semacam ini kemudian dilanjutkan dengan wacana gerakan 
kristenisasi atau katolikisasi, mau dikemanakan kerukunan kita.

Kita ini sering kok selalu curiga dengan gerakan-gerakan ritual keagamaan. Mengapa 
demikian ya karena dikaitkan dengan politik itu. Mas Amin dulu khan juga begitu. Kalu 
sekarang sudah berubah (dan manusia itu katanya akan selalu berubah), maka kapan 
perubahan Mas Amin itu dapat dijamin secara empiris. contohnya saja biasa nggak si 
orang nasrani itu menjadi presiden. 

Dulu ketika PDIP calegnya banyak yang non muslim semua ribut-ribut (apalagi MUInya 
itu). Apakah orang non muslim di Indonesia itu hanya numpang hidup.

Islam memang merupakan agama mayoritas bahkan Indonesia dianggap merupakan negara 
islam terbesar didunia dan oleh sebab itu orang muslimlah yang mempunyai hak politik 
lebih banyak ketimbang orang non muslim. Nah ini khan paradoks sekali, katanya kita 
bukan negara agama (islam), mengapa kok ada statement semacam ini. Kalu toh memang 
kenyataannya demikian, khan tidak perlu diungkapkan oleh para politisi kita. Termasuk 
Mas Amin itu.

Kasihan lho masyarakat nasrani kita itu. Misalnya Kasus Ambon (moga-moga cepat dapat 
diselesaikan) yang diekspos besar-besar di seluruh media massa khan pembunuhan dan 
pembantai yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatas namakan dirinya nasrani. Lha 
orang-orang muslim disana apa juga tidak membantai. Padahal jumlah kedua penganut 
agama tersebut di sana khan seimbang. 

Memang jika dilihat dari kenyataan secara fisik orang-orang muslim banyak yang 
terpinggirkan, misalnya kasus Tanjung priok, kasus Lampung, kasus Aceh. Tetapi kita 
juga perlu melihat dong peminggiran kaum nasrani ditinjau darei aspek psikis. 

Dalam perjuangannya, kaum muslim memang dapat dengan serta-merta melawan penguasa 
secara serentak, karena jumlahnya khan banyak. Lha kaum nasrani, mau ngomong saja 
sudah takutnya setengah mati. Paling-paling yang dalam lingkup kecil saja. 

Kasus Budiman Sudjatmiko yang di tolong romo Sandyawan, khan juga dicurigai bahwa romo 
Sandyawan telah menerapkan teologi pembebasan yang  berbau marxis itu. Coba kalau 
sekarang dibalik yang menolong itu seorang ulama muslim, apa tanggapannya. 

Jadi pada hakikatnya selama masih ada gerakan-gerakan yang fundamentalis baik islam 
maupun nasrani, maka proses persatuan indonesia masih tetap harus diupayakan. Lha 
sekarang bagaimana apakah Mas Amin siap untuk menghadapi kemungkinan jika PAN yang 
terbuka itu dipimpin oleh orang Non muslim.

Contohnya dalam persoalan Imtak yang menjadi perdebatan di kongres PAN I. Bagaimanakah 
pendapat Mas Amin, khan masih ngambang to. Beda dengan Mas Bara dan Mas Faisal sing 
egaliter dan inklusif itu. tegas, lugas, konsisten, dan transparan.

Apakah kalau asas ini tidak dicantumkan menjadikan anggota-anggota PAN menjadi tidak 
bertakwa dan beriman. Sehingga gerak politiknya-pun menjadi sekuler. Saya rasa kok 
tidak. Pemaksaan untuk memasukkan Imtak ini khan sebenarnya hanya sasaran antara bagi 
kelompok islam di PAN untuk meredam gerak politik intern dari kelompok nasionalis yang 
berada di bawah mas Bara dan Mas faisal itu. 

Sedangkan Mas Amin dimana posisinya, ketika terjadi perdebatan tersebut. Kalau beliau 
berada di kelompok nasionalis, maka mampukan beliau sekarang ini tetap menduduki Ketum 
PAN ? Nah salah satu caranya yang ngambang itu, agar bisa didukung sana-sini. Ini khan 
juga perilaku politik yang tidak jelas dari Mas Amin tho.

Ini tanggapan saya lho perlu dicatat bahwa saya tetap mencintai saudara-saudaraku 
seluruh indonesia apapun agamanya, apapun ideologinya, apapun wawasannya, dan apapun 
argumentasinya.

Mengenai nama samaranku, memang sengaja saya buat bombastis dan terkesan tidak 
beretika, tetapi Pabu : Asu (Anjing) dan Sacilat :Bajingan khan memang sebutan untuk 
binatang dan sifat manusia. Tidak ada asu disebut nongko atau pelem, dan tidak ada 
bajinganyang disebut pendekar khan. Jadi mari kita teruskan diskusi ini - kalau mau 
lho - tanpa harus repot dengan sebutan nama. Mas Phantom khan juga nama yang 
diragunakan - tetapi namanya khan heroik sekali.

Kalau Mas WAM khan mungkin nama sebenarnya dengan identitas di BPPT. Terus Mas Hestu 
cipto handoyo yang katanya dosen di Atma Jaya Yogyakarta juga menyebutkan identitasnya 
secara jujur. Ini semua sebenarnya khan merupakan pelajaran bagi kita termasuk saya 
(sang Pabusacilat) untuk berani mengemukakan identitasnya secara jujur.

Kalau saya masih belum berani, maka mohon dimaklumi, karena identitas saya sebenarnya 
setiap oroang sudah mengetahui. Jadi kalau saya berpendapat seperti tersebut di atas, 
saya masih meragukan keselamatan saya. Walaupun zamannya sekarang sudah berubah. 
Tentara memang tidak mungkin menculik saya, hanya gara-gara berdiskusi di kuli tinta. 
Tetapi golongan politik dan ideologi lain yang tidak sepaham dengan saya apakah bisa 
menerima secara jernih gagasan saya ini, yang terasa mungkin panas ditelinga. Jadi 
biarkanlah saya tetap mempunyai privacy identitas yang sudah diketahui secara nasional 
itu. Dan kalau itu saya kemukakan, maka saudara-saudaraku semua pasti akan terkejut. 
Seorang seperti saya kok sampai mempergunakan nama samaran yang tidak senonoh seperti 
itu. Maaf sekali lagi maaf untuk Mas WAM yang tidak berkenan dengan nama samaran ini. 
Tetapi janganlah anda mengkaitkan dengan bapak atau orang tua saya. Biarlah mereka 
tetap tenang menikmati hari tuanya. Dan biarlah sebutan Pabusacilat hanya diperlakukan 
untuk saya.

Nama Pabusacilat memang pecundang. tetapi apakah para politisi indonesia baik semasa 
saya masih di lingkaran kekuasaan maupun sekarang ini tidak pecundang semua.

Bersatulah kita menuju indonesia baru 

--

On Mon, 14 Feb 2000 19:19:37   Ferli Iskandar wrote:
>Ya amplop! Hehehe, gile, saya bloon banget.
>Baru tau saya kalo artinya begitu.
>Saya bener2 mengira bahwa itu nama yg bagus, karena berasosiasi:
>Pabu = 'Prabu' = raja
>Sacilat = 'Silat' atau 'Sekilat' atau 'Secepat kilat'.
>Alhasil, yg terbayang dlm benak saya dari kata 'Pabu Sacilat' adalah 'Raja
>yg Sakti', gitu.
>
>Ce ka ce ka ce ka, ternyata ...
>Kalau menurut Pak Abdullah Hasan (maaf Pak difetakompli - nulisnya bener
>gini kan ;)), Mas Pabu ini nggak lulus pelajaran budi pekerti nih. Hehehe.
>
>Mas Wisnu, thanks atas infonya.
>
>-----Original Message-----
>From: Wisnu Ali Martono [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Friday, February 11, 2000 10:40 AM
>To: '[EMAIL PROTECTED]'
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Pabu Sacilat
>
>
>On Thu, 10 Feb 2000, Ferli Iskandar wrote:
>
>> Hehehe, gile, gencar banget.
>> Sepertinya Mas Pabu Sacilat ini benci banget atau curigesyen banget atau
>> takut banget ya sama PAN, Amin, dan kaum muslim?
>> Kenafaaaa sih?
>> Omong2, namanya bagus sekali Mas. Dapet ilham dari mana sih?
>> Kenapa ya, posting yg nadanya spt ini selalu berasal dari mail gratisan? 
>
>WAM:
>Tahu artinya pabu sacilat?
>Asu bajingan! Betul, ASU BAJINGAN!
>ASU= ANJING. BAJINGAN, ya bajingan.
>Nggak percaya? Tanya saja sama orang Yogya.
>INi adalah bahasa prokem gaya Yogya.
>Saya nggak tahu, mau cari nama saja kok ya yang model beginian.
>Apa benar dia Pabu Sacilat? Apa orang tuanya juga Pabu Sacilat?
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
>-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at 
http://www.eudoramail.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke