On Wed, 16 Feb 2000, pabu sacilat wrote:

> Pabu S :
> Lho ini khan mencerminkan bahwa yang mayoritas akan selalu memperoleh
> kemudahan-kemudahan dan fasilitas-fasilitas baik materiil maupun
> spirituil. Lumrah to. 

WAM:
Lumrah?
Saudara Anjing (Pabu) Bajingan (Sacilad)  Kalau memang itu anda anggap
lumrah, kenapa kemarin anda meributkan hal
ini? Jika itu anda anggap lumrah, in tne first place, nggak ada
relevansinya kemarin anda nulis (anggapan) bahwa orang Islam selalu
dipermudah. Lucu sekali Asu ini. Anda membantah omongan anda sendiri.
Anda tetap mau stick dengan pernyataan anda (bahwa lumrah saja mayoritas
memperoleh kemudahan)? Berarti, segala apa yang saya omongkan adalah
benar. Tidak perlu lagi diskusi. 

deleted

> Pabu S :
> Yang menipu itu siapa. Ach jangan berprasangka buruk dong Mas WAM yang hebat
> bat...bat.
> Kalau 80% warga muslim memilih PDIP, sebenarnya khan bukan calegnya itu khan.
> Ini sebenarnya khan akibat dari sistem pemilu yang proporsional
> tersebut. Mereka memilih khan semata-mata melihat bagaimana PDIP itu.
> Baik perjuangannya maupun visi dan misinya. Jadi persoalannya bukan
> tipu-tipu, tetapi persoalannya ada pada kesamaan wawasan diantara
> sebagian terbesar umat islam dengan gagasan PDIP itu. kok nipu. Situ itu
> yang sering nipu. 

WAM:
Jadi, anda simpatisan PDI-P ya?
Nothing wrong with that. Sekedar memberikan tambahan referensi kenapa anda
begitu membela partai ini saja. 

Jika 80% pemilih PDI-P adalah muslim (angka ini katanya PDI-P sendiri lho,
bukan kata saya), terus tidak diimbangi dengan mayoritas calegnya berasal
dari golongan muslim, terus di mana letak azas keterwakilan? Terus kenapa
elit PDI-P jadi kelabakan ketika MUI mengingatkan warga muslim untuk
hati-hati memilih partai?
 
> Pabu S :
> Saya tidak mempersetankan keterwakilandan demokrasi itu siapa. Ya memang
> lumrah kalau mayoritas muslim maka muslim memperoleh kemudahan-kemudahan
> tersebut termasuk dalam persoalan election dan berpagai pembagian kue

WAM:
Anda sadar kan, ngomong begini?
Tapi, kenapa anda mengkritik keinginan agar mayoritas caleg PDI-P itu
berasal dari kalangan muslim? Omongan anda saling bertentangan.

> kekuasaan itu. Tetapi apakah dengan posisi yang demikian itu yang
> minoritas kemudian diabaikan bahkan dipersulit.

WAM:
Siapa bilang yang minoritas diabaikan?
Tidak pernah ada upaya untuk _mematikan_ kelompok minoritas.
Kalau kelompok minoritas berusaha memperdaya mayoritas, itu baru yang
tidak benar. 

> Yang namanya toleransi itu khan bukan yang kecil harus toleran melainkan
> yang besarlah yang harus toleran dengan yang kecil. melindungi yang
> kecil Ini khan prinsip dari POLITIK HATI NURANI-nya Romo mangun. Anda
> sudah baca belum !

WAM:
Kurang apa toleransi pihak mayoritas? 

> Pabu S :
> Siapa bilang peraturan yang ada tidak berdasarkan agama. Contoh kecilnya
> adalah UU tentang Peradilan Agama itu. Kalau kita ingin melakukan
> unifikasi hukum, maka persoalan-persoalan hukum yang perlu diunifikasi
> khan persoalan-persoalan yang netral (tidak terikat dan berpihak pada
> persoalan pribadi, spiritualitas maupun budaya). Baca dong konsepnya
> Mochtar Kusumaatmaja.

WAM:
Konsep peradilan agama hanya berlaku untuk kelompok muslim. Dan tidak
pernah ada upaya untuk memberlakukan bagi kelompok di luar itu. Apa ini
salah?

Anda mau unifikasi hukum?
Lihat apa yang terjadi ketika hukum pertanahan (nasional) dicoba
diterapkan secara membabi buta. 

Selain itu, di masa di mana otonomi dituntut untuk diterapkan, tidak ada
salahnya peraturan seperti itu diterapkan.

> Kalau yang tidak netral tersebut dirumuskan untuk diunifikasikan, maka
> kejadiannya ya itu tadi berpihak pada salah satu golongan. Situ itu
> kepakarannya apa sih, kock bicara tentang peraturan.

WAM:
Lha kepakaranmu sendiri apa Njing, kok juga bicara tentang peraturan?
Kalau situ nanya kepakaran untuk dasar diskusi, lha situ apa pernah
sekolah di bidang ini to Njing. Situ kan orang pertanian to. 

> Pabu S :
> Selam gerakan fundamentalis diletakkan dalam konteks hubungan manusiawi dan
> tolong menolong. Tidak Chauvinistik, maka ya memang tidak masalah.
> tetapi gerakan fundamentalis yang berkembang di indonesia tercinta ini
> khan menuju ke arah fanatisme agama yang picik dan sempit. Kalau ini
> yang terjadi, maka fenomena Kisdi yang akan tetap terjadi - senengnya
> melakukan provokasi, Khan gito doel !

WAM:
Itu kan menurut penilain subyektif situ.
Bagus ada KISDI. Jika tidak, makin ngawur saja orang kayak situ.

> Pabu S : 
> Persoalan yang melingkupi Piagam Jakarta, khan dulu juga ditentang oleh Pak
> Moh. Hatta yang sangat muslim itu. Ini khan wujud bagaimana persoalan
> dasar filosofis menjadi persoalan yang sangat hakiki. Apa anda memang
> menghendaki piagam jakarta dicantumkan kembali. 

WAM:
Yes, if I may.
What's wrong dengan orang Islam disuruh menjalankan syariah agamanya?
Tidak ada masalah bahwa agama lain juga menyuruh ummatnya menjalankan
syariah agamanya. Yang aneh adalah, ada kelompok lain yang nggak setuju
kalau orang Islam disuruh menjalankan syariah agamanya. Ini kan lucu. 

> Dasar filosofis dan ideologi negara itu - sekali lagi - khan menyangkut
> dalam dataran area publik yang harus netral dan independen. Pak Hatta
> khan berpandangan, kalau ini dicantumkan maka golongan lain akan merasa
> dianak tirikan.

WAM:
Di situ lah anehnya.
Kenapa _golongan lain_ tidak nuntut agar kata yang sama juga dimasukkan
untuk kelompoknya? 

> Situ pasti berargumentasi bahwa dengan ditolaknya Piagam Jakarta tersebut,
> membuktikan sifat besar hatinya kaum muslim. Ini bukan masalah besar
> hati, toleransi ataupun apa saja. Melainkan didasarkan pada apresiasi
> dari Pak Hatta melihat kompleksitas masyarakat Indonesia yang majemuk
> itu. Kok situ terus seperti kebakaran jenggot...got.. 

WAM:
Bukan sifat besar hati. Itu kebodohan orang Islam (saat itu). Dan saya
mulai meragukan pernyataan anda bahwa anda beragama Islam. Masalah Piagam
Jakarta belum selesai. Semakin kita belajar berdemokrasi, akan makin
sering muncul pertanyaan: what's wrong with Piagam Jakarta? Piagam itu
baru patut disalahkan jika bunyinya: dengan kewajiban menjalankan syariat
Islam bagi seluruh warga Indonesia. Dihapuskannya Piagam Jakarta makin
membuktikan terjadinya tirani minoritas. 

> Untuk teman-teman semua :
> Memang dalam diskusi dan eyel-eyelan dengan Si Wam ini saya selalu menyentil
> hal-hal yang bersifat personal. Ini memang saya sengaja. Karena Si WAM
> itu senengnya juga demikian. Padahal etika untuk berdebat dan
> berdiskusi konteksnya bukan menyerang hal-hal yang berkaitan dengan
> personality melainkan yang diserang adalah ide atau gagasan atau
> argumentasi atau apa yang sejinisnya dengan itu. 

WAM:
Khas, jawaban Asu (Pabu) Bajingan (Sacilad).



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke