Mas Bimbing,

Bahwa kita mesti dewasa dalam diskusi, sangat betul. Tapi bila pengertian
'dewasa' hanya dibatasi sbg 'tidak emosi ketika diserang atau dicaci-maki'
koq rasanya berat sebelah. 'Dewasa' juga seharusnya mencakup menahan diri
dari nafsu untuk menyerang dan mencaci-maki (bukan maksud saya utk bilang
bahwa saya sudah dewasa dan tidak pernah mencaci-maki di milis ini, tapi
itulah yg seharusnya menurut saya).

"Ini saya hina kamu, tapi awas, kamu nggak boleh marah."

Berarti mensyaratkan sejenis kekebalan (apa lebih tepat: kebebalan?)
tertentu dalam kapasitas intelektual dan emosional orang/pihak yg dihina.
Anda sendiri bilang, kita di milis yg termasuk 'kelas menengah' saja gampang
terpancing, apalagi 'golongan bawah' (perhatikan penggunaan tanda kutip -
saya takut sekedar menggeneralisir). Justru di situ, Mas. Tidak layak untuk
menuntut 'golongan bawah' untuk sakti seperti itu, dan sebenarnya juga tidak
layak menuntut kita di milis ini untuk sakti. Human nature is human nature.
Marah adalah reaksi yg justru sehat apabila seseorang dihina (bila dipendam
terus, bisa sakit jiwa). Beda 'kelas menengah' dgn 'golongan bawah' hanyalah
dalam cara mengekspresikan marah itu. Tapi ya itu, marah tetap marah, sakit
hati tetap sakit hati; nggak peduli dia itu tukang becak atau profesor.

Untuk memberikan efek yg lebih 'menggores', saya ubah sedikit kalimat di
atas:

"Ini saya tusuk dada kamu, tapi awas, kamu nggak boleh mati."

Betapa absurd 'kan? (Nggak juga ding, masih mungkin itu, kalau yg ditusuk
itu memang punya Aji Lembu Sekilan atau Tameng Waja. Hehe, saya dulu suka
baca "Api di Bukit Menoreh"-nya SH Mintardja. Tapi apa iya semua orang mesti
dituntut seperti Agung Sedayu atau Mahesa Djenar?)

Kembali ke konteks milis ini, point ini semakin penting lagi. Milis ini
adalah milis kuli-tinta, yg berarti punya afiliasi - minimal dalam nama -
dengan aktivitas kewartawanan. Semisal banyak kalangan wartawan yg mengikuti
milis ini, maka warna apa pun yang tampil di sini - mulai dari sindiran
sampai hinaan - sedikit banyak akan tampil juga dalam apa yang mereka tulis
dalam media masing2. Apa Mas Bimbing nggak khawatir, bahwa milis ini punya
andil dalam ikut 'memperkeruh' cara penulisan wartawan atas berita2 yg
disiarkan media mereka? 'Kekeruhan' ini punya dampak yg lebih dahsyat
daripada milis, karena media pers punya cakupan yg sangat luas, boleh
dibilang, seluruh rakyat Indonesia, yg mayoritas adalah 'golongan bawah'
itu. Di sini, wajarkah kita menuntut rakyat 'golongan bawah' kita untuk
'tampil dewasa' - sementara kita sendiri di milis ini masih awut2an?

Karena itulah saya menawarkan semacam mekanisme artifisial untuk memperkuat
kedewasaan kita. Memang lebih ideal bila masing2 kita sudah natural dlm hal
kedewasaan, tapi sepertinya itu masih jauh. Makanya dengan filter email spt
yg saya usulkan saya pikir kita bisa sedikit demi sedikit menjadi dewasa dlm
menyampaikan dan menanggapi posting.

Pandangan saya ttg demokrasi mungkin memang lebih berbau utilitarian
ketimbang liberal. Rasanya buat kita yg bukan konglomerat ini, lebih
merugikan dan memalukan untuk membanting monitor daripada menghina balik
(atau membunuh, utk mereka yg 'golongan bawah'(!)), Mas Bimbing ;).

Salam,
Ferli

-----Original Message-----
From: Bimbing Atedi [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, February 17, 2000 12:48 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] Mari ketawa untuk posting nggak mutu kayak
gini

Sdr. Daniel, tulisan anda sama sekali tidak memberikan
solusi dan tidak ada gunanya. Sebenarnya pakai e-mail
gratisan itu tidak ada masalah. Ada ataupun tidak ada
ISP nya juga tidak ada masalah. Masalahnya sekarang
kita ini dewasa apa tidak dalam berdiskusi. Gampang
marah tidak kalau diserang atau dicaci maki. PGI
disenggol langsung marah dan mengeluarkan kuda-kuda,
AR diinterpretasi meradang, PAN disebut sektarian
kupingnya merah. Betapa gampang kita sakit hati dan
emosi. Tidak heran betapa gampang pula kita diadu
domba. Ada yang tidak beres di dalam otak kita. Cepat
sekali kita mengidentifikasi kawan atau pun lawan. 

Internet memberikan sarana baru untuk demokrasi dan
pelepasan unek-unek. Kalau ada yang marah akibat caci
maki, silakan pukul monitornya. Dalam hal ini Internet
juga mengajari kita dalam mengontrol emosi. 

Di Indonesia para pengguna internet, sebagian besar
adalah golongan menengah ke atas seperti anda, jadi
dianggap terdidik dan mampu mengendalikan emosi. Bila
hanya karena diskusi di dunia maya, orang jadi emosi
dan membawa-bawa pertentangan antara Islam dan
Kristen, itu sudah keterlaluan sekali. Kalau golongan
menengah ke atasnya gampang emosi seperti itu,
bagaimana dengan golongan bawah yang mendominasi
rakyat kita ?

Saya pikir diskusi busuk ini ya biarkan berjalan.
Nanti juga akan reda dengan sendirinya. Yang dituntut
kepada kita adalah kedewasaan dalam mengendalikan
emosi.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
B. Atedi
Masih pake e-mail gratis di wartel 

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke