Baiklah Mas Bimbing. Tentu saja dgn ungkapan 'diserang & dicaci-maki' itu
saya maksudkan juga 'kritik'. Apakah dgn demikian posting 'kritik' harus
bebas dari kriteria kedewasaan, spt yg Anda tuntut dari posting2 'tanggapan
atas kritik'?

Bicara soal esensi kritik Mas Pabu, saya memang tidak berselera
menanggapinya (Anda istilahkan ini sbg 'kalap'?). OK-lah, kritik Mas Pabu
itu memang sangat jitu, sehingga saya sama sekali tidak mampu membantahnya
(abaikan fakta bahwa Mas Pabu sendiri mengakui bahwa itu provokasi). Susah
bagi saya untuk menanggapi secara rasional pertanyaan2 spt yg disampaikan
Mas Pabu:
1. ... PAN itu yg punya negara apa? ...
2. ... Memangnya yang punya negara ini hanya muslim saja poo. ...
3. ... Lho Gagasannya si Amin mengenai federalisme itu mau menyatukan atau
ada kepentingan lain. ...
4. ... PAN katanya partai simpatik. yang simpatik itu apanya. ...
5. ... Khabar burung (benar atau tidak tergantung yang menerima) Si Amin itu
khan punya simpanan (WIL). ...
6. ... PAN adalkah partai reformis. Yang reformis itu apanya. ...
7. ... PAN kalau kalah dalam pemilu akan menjadi Partai oposisi. Yang di
oposisi itu apa ...
8. ... KITA HARUS TETAP CURIGA PADA SI AMIN ITU. ...
9. ... Kalau dijadikan alat politik Islam pasti selalu dominan - wong
mayoritas. ...
   ... Ingat lho Si Amin itu khan petualang politik kelas wahid di
Indonesia. ...

Bila Mas Bimbing menilai bahwa yg di atas adalah 'kritik dewasa', lha terus
terang saya nggak setuju, sekaligus juga nggak akan mampu menanggapinya
(apalagi poin 5). Jadi, ya mohon maaf atas ketidakmampuan itu.

"Manusia bukan bintang". Untuk pernyataan sangat sederhana ini (dan Anda
mengganggap saya terlalu menyederhanakan masalah!) saya setuju. Manusia bisa
merencanakan 'gigitannya' tanpa harus diinjak terlebih dahulu.

"Wartawan bukan orang goblok yg gampang dipengaruhi." Ini juga pernyataan
sangat sederhana yg gampang saya setuju lagi. Tapi mestinya saya dan Anda
juga setuju pada pernyataan sangat sederhana "Wartawan bukan orang bebal
yang sama sekali tidak bisa dipengaruhi." (Kita main "sederhana2an" yok?).

Anda meragukan 'keterwakilan' PAN atau AR atau kaum muslim dlm posting2
saya. Anda sangat benar, Mas Bimbing. Posting2 itu benar2 hanya mewakili
diri saya sendiri. Meski dgn demikian, pertanyaan berikut berlanjut:
- Seberapa banyak suatu suara bisa dianggap mewakili sesuatu pihak? Seluruh
anggota pihak itu kah?
- Karena saya bukan wakil PAN atau AR atau kaum muslim, mengapa saya (atau
siapa pun orangnya) Anda tuntut untuk 'menanggapi secara dewasa' posting2
Mas Pabu, dll?

Untuk pertanyaan siapa yg terhina, mestinya sudah jelas jawabannya: akal
sehat dan itikad baik.

Anda punya usul lain supaya kita bisa lebih dewasa dalam mengritik dan
menanggapi kritik?

Salam,
Ferli

-----Original Message-----
From: Bimbing Atedi [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Saturday, February 19, 2000 8:07 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [Kuli Tinta] Mari ketawa untuk posting nggak mutu kayak
gini

--- Ferli Iskandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mas Bimbing,
> 
> Bahwa kita mesti dewasa dalam diskusi, sangat betul.
> Tapi bila pengertian
> 'dewasa' hanya dibatasi sbg 'tidak emosi ketika
> diserang atau dicaci-maki'
> koq rasanya berat sebelah. 'Dewasa' juga seharusnya
> mencakup menahan diri
> dari nafsu untuk menyerang dan mencaci-maki (bukan
> maksud saya utk bilang
> bahwa saya sudah dewasa dan tidak pernah
> mencaci-maki di milis ini, tapi
> itulah yg seharusnya menurut saya).
> 
> "Ini saya hina kamu, tapi awas, kamu nggak boleh
> marah."

Anda keliru maksud dan terlalu menyederhanakan
masalah. Maksud saya diserang dan dicaci maki itu
dikritik. Kita tidak pernah mengendapkan esensi
kritikan terlebih dahulu, tetapi langsung saja kalap.
Kita belum baca konteksnya tetapi langsung mencap
orang lain tidak bermoral, seperti dilakukan oleh sdr.
Daniel dan sdr. Mamarimbing dalam kasus PGI. Saat Pabu
mengupas Konggres PAN Yogya, anda langsung memposting
tentang si Pabu yang digarami oleh WAM, bukan counter
dari tulisan Pabu. Kalau posting itu salah, mohon
langsung dibetulkan. Jangan seperti ungkapan buruk
muka cermin dibelah.
 
Justru di situ,
> Mas. Tidak layak untuk
> menuntut 'golongan bawah' untuk sakti seperti itu,
> dan sebenarnya juga tidak
> layak menuntut kita di milis ini untuk sakti. Human
> nature is human nature.

Manusia bukan binatang. Dia bukan ular kalau diinjak
langsung menggigit. Saya juga salah, dalam menyebut
golongan bawah itu. Sering golongan bawah justru lebih
arif dibandingkan golongan elit.

> Marah adalah reaksi yg justru sehat apabila
> seseorang dihina (bila dipendam
> terus, bisa sakit jiwa). Beda 'kelas menengah' dgn
> 'golongan bawah' hanyalah
> dalam cara mengekspresikan marah itu. Tapi ya itu,
> marah tetap marah, sakit
> hati tetap sakit hati; nggak peduli dia itu tukang
> becak atau profesor.
> 
> Untuk memberikan efek yg lebih 'menggores', saya
> ubah sedikit kalimat di
> atas:
> 
> "Ini saya tusuk dada kamu, tapi awas, kamu nggak
> boleh mati."

Anda terlalu menyangatkan masalah. Dari kritikan Pabu
itu apakah semua orang PAN marah, atau hanya anda
sendiri yang marah ? Seberapa besar sih keterwakilan
PAN itu pada diri anda ? Atau itu hanya persepsi anda
bahwa PAN itu begitu agung sehingga anti kritik,
bagaimana pun cara pengungkapannya ?

> Kembali ke konteks milis ini, point ini semakin
> penting lagi. Milis ini
> adalah milis kuli-tinta, yg berarti punya afiliasi -
> minimal dalam nama -
> dengan aktivitas kewartawanan. Semisal banyak
> kalangan wartawan yg mengikuti
> milis ini, maka warna apa pun yang tampil di sini -
> mulai dari sindiran
> sampai hinaan - sedikit banyak akan tampil juga
> dalam apa yang mereka tulis
> dalam media masing2. Apa Mas Bimbing nggak khawatir,
> bahwa milis ini punya
> andil dalam ikut 'memperkeruh' cara penulisan
> wartawan atas berita2 yg
> disiarkan media mereka? 'Kekeruhan' ini punya dampak
> yg lebih dahsyat
> daripada milis, karena media pers punya cakupan yg
> sangat luas, boleh
> dibilang, seluruh rakyat Indonesia, yg mayoritas
> adalah 'golongan bawah'
> itu. Di sini, wajarkah kita menuntut rakyat
> 'golongan bawah' kita untuk
> 'tampil dewasa' - sementara kita sendiri di milis
> ini masih awut2an?

Kekawatiran anda sangat berlebihan dan anda terlalu
menyepelekan wartawan. Sebegitu goblokkah wartawan
sehingga langsung saja percaya kritikan Pabu, Blantik,
atau yang lain itu ?

> 
> Karena itulah saya menawarkan semacam mekanisme
> artifisial untuk memperkuat
> kedewasaan kita. Memang lebih ideal bila masing2
> kita sudah natural dlm hal
> kedewasaan, tapi sepertinya itu masih jauh. Makanya
> dengan filter email spt
> yg saya usulkan saya pikir kita bisa sedikit demi
> sedikit menjadi dewasa dlm
> menyampaikan dan menanggapi posting.
> 
> Pandangan saya ttg demokrasi mungkin memang lebih
> berbau utilitarian
> ketimbang liberal. Rasanya buat kita yg bukan
> konglomerat ini, lebih
> merugikan dan memalukan untuk membanting monitor
> daripada menghina balik
> (atau membunuh, utk mereka yg 'golongan bawah'(!)),
> Mas Bimbing ;).

Saya mohon bagaimana sih kriteria anda tentang
menghina ini ? Saya juga ingin tahu yang terhina itu
anda sendiri, atau PAN, atau AR ?

> 
> Salam,
> Ferli
> 

Wassalamualaikum Wr. Wb.
B. Atedi

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke