Indra ini lucu.
Ketika ada yang tanya sumbernya apa untuk 'Fordem
minta gedung', dijawab Wisnu kalau Tekad, maka
komentarku, 'lha wong Tekad'.
Yang begitu itu dianggap Indra sebagai melarang baca
Tekad. Malah ngambul dengan mencoba 'kalau gitu apa
baca Demokrat, Bangkit atau Top'.
Padahal, siapa yang nggak bolehin baca Tekad?
Padahal (di postingku berikutnya), aku kasih contoh,
bagaimana media-media partisan (Demokrat termasuk di
sini) membuat berita. Yang bolo sendiri dibagusin,
yang bolo sana dijelekin. Nah yang begini ini kan
rada-rada bias bolehnya dipakai bikin judgement ke
pihak lain, yang nyata-nyata memang dijadikan sasaran
tembak.
Lain kan kalau sumber beritanya itu bukan media
partisan? Gitu lho maksudku.
Lalu siapa juga ngelarang nggodain, ngeledekin ?
Sah-sah saja, kok. Ini media bebas. Wong cuma ngomong
saja, kok. Dipercaya sukur, enggak kan enggak
petek-en?
Nah, dalam situasi serba tak jelas mana betul mana
rumpi, apa ya bisa dipakai jadi pinter?
Langsung saja masuk ke masalah, ndra...

=====
Pakai HIKAM, siapa takut....?
Embat terus PDI-P, GD dan MW ....
Semua posting mesti dibikin belok ke PDI-P, GD dan MW sebagai biang keroknya ....
Logis ndak logis, jalan terus .....
Wong aku 'intelektual', kok .......
Begaya...Begaya...
Seolah-olah si 'dia'

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send online invitations with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke