-----Original Message-----
From: s. wibawa <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, April 11, 2000 11:31 PM
Subject: [oe] Entschuldigung



                 Surat Ter buka buat Pramoedya Ananta Toer


                   Goenawan Mohamad


                    SEANDAINYA ada Mandela di sini�. Bung Pram, saya
                    sering mengatakan itu, dan mungkin mulai membuat
                    orang jemu. Tapi Mandela, di Afrika Selatan,
                    menyelamatkan manusia dari abad ke-20.

                    Tiap zaman punya gilanya sendiri. Abad ke-20
                    adalah zaman rencana besar dengan pembinasaan
                    besar. Hitler membunuh jutaan Yahudi karena Jerman
                    harus jadi awal Eropa yang bersih dari ras yang
                    tak dikehendaki. Stalin dan Mao dan Pol Pot
                    membinasakan sekian juta "kontrarevolusioner"
                    karena sosialisme harus berdiri. Kemudian Orde
                    Baru: rezim ini membersihkan sekian juta penduduk
                    karena "demokrasi pancasila" tak memungkinkan
                    adanya orang komunis (dan/atau "ekstrem" lainnya)
                    di sudut mana pun.

                    Rencana besar, cita-cita mutlak, dan mengalirkan
                    darah. Manusia menjadi penakluk. Ia menaklukkan
                    yang berbeda, yang lain, agar dirinya jadi subyek.

                    Mandela bertahun-tahun di penjara, orang hitam
                    Afrika Selatan bertahun-tahun ditindas, tapi
                    kemudian ketika ia menang, ia membuktikan bahwa
                    abad ke-20 tak sepenuhnya benar: manusia ternyata
                    bisa untuk tak jadi penakluk. Ia menawarkan
                    "rekonsiliasi' dengan bekas musuh. Ia tak
                    membalikkan posisi dari si obyek jadi sang subyek.

                    Tiap korban yang mengerti rasa sakit yang sangat
                    tak akan mengulangi sakit itu bahkan kepada
                    musuhnya yang terganas. Ia akan menghabisi batas
                    antara subyek dan obyek. Makna "rekonsiliasi" di
                    Afrika Selatan punya analogi dengan impian Marx:
                    karena proletariat tertindas, kelas ini berjuang
                    agar setelah kapitalisme ambruk, segala kelas
                    sosial pun hilang. Proletariat tak akan mengakhiri
                    sejarah dengan berkuasa, melainkan menghapuskan
                    kekuasaan, pangkal lahirnya korban-korban. Sejarah
                    adalah sejarah penebusan kemerdekaan.

                    Utopia itu tak terlaksana, tapi tiap utopia
                    mengandung sesuatu yang berharga. Begitu ia
                    menang, Mandela membongkar kembali tindak
                    sewenang-wenang para petugas rezim apartheid yang
                    menindasnya (dan juga tindak sewenang-wenang
                    pejuang kemerdekaan pendukung Mandela sendiri).
                    Proses itu mirip "pengakuan dosa" di depan publik.
                    Kemudian: pertalian kembali. Mandela menunjukkan
                    bahwa pembebasan yang sebenarnya adalah pembebasan
                    bagi semua pihak.

                    Bung Pram, saya ragu apakah Bung akan setuju
                    dengan asas itu. Bung menolak ide "rekonsiliasi",
                    seperti Bung nyatakan dalam wawancara dengan Forum
                    Keadilan, 26 Maret 2000, pekan lalu. Bung menolak
                    permintaan maaf dari Gus Dur. "Gampang amat!" kata
                    Bung. Saya kira, di sini Bung keliru.

                    Ada beberapa kenalan yang, seperti Bung, juga
                    pernah disekap di Pulau Buru, di antaranya dalam
                    keadaan yang lebih buruk. Mereka sedih oleh
                    pernyataan Bung. Saya juga sedih karena Bung telah
                    bersuara parau ketidakadilan. Justru ketika
                    berbicara untuk keadilan.

                    Bung terutama tak adil terhadap Gus Dur. Bagi
                    seseorang dalam posisi Gus Dur (Presiden Republik
                    Indonesia, pemimpin NU, tokoh Islam, yang tumbuh
                    dalam masa Orde Baru), meminta maaf kepada para
                    korban kesewenang-wenangan 1965 berarti membongkar
                    tiga belenggu yang gelap dan berat di pikiran
                    banyak orang Indonesia.

                    Belenggu pertama adalah kebiasaan seorang pemimpin
                    umat untuk memperlakukan umatnya sebagai kubu yang
                    suci. Dengan meminta maaf, Gus Dur memberi isyarat
                    bahwa klaim kesucian itu tak bisa dipertahankan,
                    dan tak usah. Tiap klaim kesucian bisa jadi awal
                    pembersihan dan kesewenang-wenangan. Dengan
                    meminta maaf, diakui bahwa dalam peristiwa pada
                    tahun 1965 sejumlah besar orang NU, juga orang
                    Islam lain-juga orang Hindu di Bali dan orang
                    Kristen di Jawa Tengah-telah terlibat dalam sebuah
                    kekejaman. Mengakui ini dan meminta maaf sungguh
                    bukan perkara gampang. Bung Pram toh tahu tak
                    setiap orang sanggup melakukan hal itu. Mungkin
                    juga Bung sendiri tidak akan.

                    Dengan meminta maaf, Gus Dur juga membongkar
                    belenggu takhayul selama hampir seperempat abad:
                    bahwa tiap orang PKI, juga tiap anak, istri,
                    suaminya, layak dibunuh atau disingkirkan. Gus Dur
                    mencampakkan sebuah sikap yang tak mau bertanya
                    lagi: adilkah yang terjadi sejak 1965 itu?
                    Seandainya pun pimpinan PKI bersalah besar pada
                    tahun 1965, toh tetap amat lalim hukuman yang
                    dikenakan kepada tiap orang, juga sanak
                    keluarganya, yang terpaut biarpun tak langsung
                    dengan partai itu. Kita ingat kekejaman purba:
                    sebuah kota dikalahkan dan setiap warganya
                    dibantai atau diperbudak�.

                    Gus Dur agaknya tak menginginkan kezaliman itu.
                    Ia, sebagai presiden, membiarkan dirinya dipotret
                    duduk mesra dekat Iba, putri D.N. Aidit, yang
                    hampir seumur hidupnya jadi pelarian yang tanpa
                    paspor di Eropa. Dalam adegan itu ada gugatan:
                    bersalahkah Iba hanya karena ia anak Ketua PKI?
                    Jawaban Gus Dur: tidak. Tak banyak tokoh politik
                    yang berbuat demikian, Bung Pram. Tak gampang
                    untuk seperti itu.

                    Gus Dur juga telah membongkar belenggu "teori" tua
                    ini: bahwa PKI selamanya berbahaya. Ia bukan saja
                    minta maaf kepada para korban pembasmian massal
                    1965. Ia juga hendak menghapuskan larangan resmi
                    bagi orang Indonesia untuk mempelajari
                    Marxisme-Leninisme. Ia seperti menegaskan bahwa
                    komunisme adalah masa lampau yang menjauh,
                    gagal-juga di Rusia dan Cina. Memekikkan terus
                    "bahaya komunis" adalah menyembunyikan kenyataan
                    bahwa PKI jauh lebih mudah patah dalam
                    perlawanannya dibandingkan dengan gerakan Darul
                    Islam.

                    Siapa yang menghentikan masa lalu akan dihentikan
                    oleh masa lalu. Gus Dur tidak. Ia sering salah,
                    tapi ada hal-hal pelik yang ia tempuh karena ia
                    ingin masa lalu tak jadi sebuah liang perangkap.
                    Ia memang bukan Mandela yang pernah dirantai. Tapi
                    seorang korban yang memaafkan sama nilainya dengan
                    seorang bukan-korban yang meminta maaf. Maaf
                    bukanlah penghapusan dosa. Maaf justru penegasan
                    adanya dosa. Dan dari tiap penegasan dosa, hidup
                    pun berangkat lagi, dengan luka, dengan trauma,
                    tapi juga harapan. Dendam mengandung unsur rasa
                    keadilan, tapi ada yang membedakan dendam dari
                    keadilan. Dalam tiap dendam menunggu giliran
                    seorang korban yang baru.

                    Begitu sulitkah Bung menerima prinsip itu? Karena
                    masa lalu seakan-akan menutup pintu ke masa depan?
                    Sekali lagi: siapa yang menghentikan masa lalu
                    akan dihentikan oleh masa lalu.

                    Tapi mungkin juga Bung hanya bisa melihat korban
                    sebagai perpanjangan diri sendiri. Seakan di luar
                    sana tak mungkin ada. Dalam wawancara, Bung
                    menyatakan setuju bila orang-orang yang tak
                    sepaham dengan Revolusi disingkirkan (ini di masa
                    "Demokrasi Terpimpin" 1959-1965, ketika sejumlah
                    surat kabar diberangus, sejumlah buku & film &
                    musik dilarang, sejumlah orang dipenjarakan). Bung
                    mengakui ini semua melanggar hak asasi. Dan Bung
                    punya argumen: waktu itu "Perang Dingin" dan
                    Indonesia dalam bahaya.

                    Tapi kekuasaan apa yang berhak menentukan ada
                    "bahaya" atau tidak? Dan jika adanya "bahaya" bisa
                    menjadi dalih penindasan, Soeharto pun menjadi
                    benar. Ia juga dulu mengumumkan Indonesia terancam
                    bahaya ("komunis") di "Perang Dingin", maka
                    rezimnya pun membunuh, membuang, dan mencopot
                    entah berapa ribu orang dari jabatan. Dan
                    pengadilan dibungkam.

                    Bung memang menambahkan: ingat, pelanggaran hak
                    asasi waktu Bung Karno tak seburuk dengan yang
                    terjadi di masa Orde Baru. Mochtar Lubis, korban
                    "Demokrasi Terpimpin", tak dikurung di Pulau Buru,
                    tapi di Jawa. Memang ada perbedaan. Tapi adakah
                    peringkat penderitaan? Bagaimana membandingkannya?
                    Di mana ukurannya bila di masa yang sama, apalagi
                    di masa yang berbeda, ada yang ditembak mati, ada
                    yang disiksa, ada yang di sel, ada yang di pulau?

                    Dalam sejarah kesewenang-wenangan, semua korban
                    akhirnya diciptakan setara, biarpun berbeda. Suatu
                    hari dalam kehidupan Pramoedya Ananta Toer di
                    Pulau Buru setara terkutuknya dengan suatu hari
                    dalam kehidupan Ivan Denisovich dalam sebuah gulag
                    Stalin. Tak bisa ada hierarki dalam korban,
                    sebagaimana mustahil ada hierarki kesengsaraan.

                    Saya kira ini penting dikemukakan. Di zaman ketika
                    sang korban dengan mudah dianggap suci, seorang
                    yang merasa lebih "tinggi" derajat ke-korban-annya
                    akan mudah merasa berhak jadi maha-hakim terakhir.
                    Tapi seperti setiap klaim kesucian, di sini pun
                    bisa datang kesewenang-wenangan. Mandela tahu itu.
                    Gus Dur mungkin juga tahu itu. Keduanya
                    merendahkan hati. Saya pernah mengharapkan Bung
                    akan bersikap sama. Saya pernah mengharapkan ini,
                    Bung Pram: bukan sekadar keadilan dan hukum yang
                    adil yang harus dibangun, tapi di arus bawahnya,
                    kebencian pun lepas, dan kemudian hilang,
                    tenggelam. Saya tak tahu masih bisakah saya
                    berharap. *

tempo.co.id
Kolom NO. 05/XXIX/3 - 9 April 2000





- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke