Anda sudah membuktikannya !

--- Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> On Wed, 12 Apr 2000, Abdullah Hasan wrote:
> 
> WAM:
> Cuma satu kata buat orang-orang yang mengira Pram
> itu bersih dari
> kesalahan di masa lalu: dungu.
> 
> Baca buku Prahara Budaya karya Taufik Ismail. Di
> situ dapat dipelajari
> betapa diktatornya bekas penggede Lekra ini.
> 
> Kambing pun (jika tahu bahasa manusia) pasti akan
> tertawa menyaksikan Pram
> berusaha menunjukkan dirinya seolah-olah tidak
> pernah berbuat jahat
> terhadap demokrasi. 
>  
> > -----Original Message-----
> > From: s. wibawa <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> > Date: Tuesday, April 11, 2000 11:31 PM
> > Subject: [oe] Entschuldigung
> > 
> > 
> > 
> >                  Surat Ter buka buat Pramoedya
> Ananta Toer
> > 
> > 
> >                    Goenawan Mohamad
> > 
> > 
> >                     SEANDAINYA ada Mandela di
> sini�. Bung Pram, saya
> >                     sering mengatakan itu, dan
> mungkin mulai membuat
> >                     orang jemu. Tapi Mandela, di
> Afrika Selatan,
> >                     menyelamatkan manusia dari
> abad ke-20.
> > 
> >                     Tiap zaman punya gilanya
> sendiri. Abad ke-20
> >                     adalah zaman rencana besar
> dengan pembinasaan
> >                     besar. Hitler membunuh jutaan
> Yahudi karena Jerman
> >                     harus jadi awal Eropa yang
> bersih dari ras yang
> >                     tak dikehendaki. Stalin dan
> Mao dan Pol Pot
> >                     membinasakan sekian juta
> "kontrarevolusioner"
> >                     karena sosialisme harus
> berdiri. Kemudian Orde
> >                     Baru: rezim ini membersihkan
> sekian juta penduduk
> >                     karena "demokrasi pancasila"
> tak memungkinkan
> >                     adanya orang komunis (dan/atau
> "ekstrem" lainnya)
> >                     di sudut mana pun.
> > 
> >                     Rencana besar, cita-cita
> mutlak, dan mengalirkan
> >                     darah. Manusia menjadi
> penakluk. Ia menaklukkan
> >                     yang berbeda, yang lain, agar
> dirinya jadi subyek.
> > 
> >                     Mandela bertahun-tahun di
> penjara, orang hitam
> >                     Afrika Selatan bertahun-tahun
> ditindas, tapi
> >                     kemudian ketika ia menang, ia
> membuktikan bahwa
> >                     abad ke-20 tak sepenuhnya
> benar: manusia ternyata
> >                     bisa untuk tak jadi penakluk.
> Ia menawarkan
> >                     "rekonsiliasi' dengan bekas
> musuh. Ia tak
> >                     membalikkan posisi dari si
> obyek jadi sang subyek.
> > 
> >                     Tiap korban yang mengerti rasa
> sakit yang sangat
> >                     tak akan mengulangi sakit itu
> bahkan kepada
> >                     musuhnya yang terganas. Ia
> akan menghabisi batas
> >                     antara subyek dan obyek. Makna
> "rekonsiliasi" di
> >                     Afrika Selatan punya analogi
> dengan impian Marx:
> >                     karena proletariat tertindas,
> kelas ini berjuang
> >                     agar setelah kapitalisme
> ambruk, segala kelas
> >                     sosial pun hilang. Proletariat
> tak akan mengakhiri
> >                     sejarah dengan berkuasa,
> melainkan menghapuskan
> >                     kekuasaan, pangkal lahirnya
> korban-korban. Sejarah
> >                     adalah sejarah penebusan
> kemerdekaan.
> > 
> >                     Utopia itu tak terlaksana,
> tapi tiap utopia
> >                     mengandung sesuatu yang
> berharga. Begitu ia
> >                     menang, Mandela membongkar
> kembali tindak
> >                     sewenang-wenang para petugas
> rezim apartheid yang
> >                     menindasnya (dan juga tindak
> sewenang-wenang
> >                     pejuang kemerdekaan pendukung
> Mandela sendiri).
> >                     Proses itu mirip "pengakuan
> dosa" di depan publik.
> >                     Kemudian: pertalian kembali.
> Mandela menunjukkan
> >                     bahwa pembebasan yang
> sebenarnya adalah pembebasan
> >                     bagi semua pihak.
> > 
> >                     Bung Pram, saya ragu apakah
> Bung akan setuju
> >                     dengan asas itu. Bung menolak
> ide "rekonsiliasi",
> >                     seperti Bung nyatakan dalam
> wawancara dengan Forum
> >                     Keadilan, 26 Maret 2000, pekan
> lalu. Bung menolak
> >                     permintaan maaf dari Gus Dur.
> "Gampang amat!" kata
> >                     Bung. Saya kira, di sini Bung
> keliru.
> > 
> >                     Ada beberapa kenalan yang,
> seperti Bung, juga
> >                     pernah disekap di Pulau Buru,
> di antaranya dalam
> >                     keadaan yang lebih buruk.
> Mereka sedih oleh
> >                     pernyataan Bung. Saya juga
> sedih karena Bung telah
> >                     bersuara parau ketidakadilan.
> Justru ketika
> >                     berbicara untuk keadilan.
> > 
> >                     Bung terutama tak adil
> terhadap Gus Dur. Bagi
> >                     seseorang dalam posisi Gus Dur
> (Presiden Republik
> >                     Indonesia, pemimpin NU, tokoh
> Islam, yang tumbuh
> >                     dalam masa Orde Baru), meminta
> maaf kepada para
> >                     korban kesewenang-wenangan
> 1965 berarti membongkar
> >                     tiga belenggu yang gelap dan
> berat di pikiran
> >                     banyak orang Indonesia.
> > 
> >                     Belenggu pertama adalah
> kebiasaan seorang pemimpin
> >                     umat untuk memperlakukan
> umatnya sebagai kubu yang
> >                     suci. Dengan meminta maaf, Gus
> Dur memberi isyarat
> >                     bahwa klaim kesucian itu tak
> bisa dipertahankan,
> >                     dan tak usah. Tiap klaim
> kesucian bisa jadi awal
> >                     pembersihan dan
> kesewenang-wenangan. Dengan
> >                     meminta maaf, diakui bahwa
> dalam peristiwa pada
> >                     tahun 1965 sejumlah besar
> orang NU, juga orang
> >                     Islam lain-juga orang Hindu di
> Bali dan orang
> >                     Kristen di Jawa Tengah-telah
> terlibat dalam sebuah
> >                     kekejaman. Mengakui ini dan
> meminta maaf sungguh
> >                     bukan perkara gampang. Bung
> Pram toh tahu tak
> >                     setiap orang sanggup melakukan
> hal itu. Mungkin
> >                     juga Bung sendiri tidak akan.
> > 
> >                     Dengan meminta maaf, Gus Dur
> juga membongkar
> >                     belenggu takhayul selama
> hampir seperempat abad:
> >                     bahwa tiap orang PKI, juga
> tiap anak, istri,
> 
=== message truncated ===

=====
Pakai HIKAM, siapa takut....?
Embat terus PDI-P, GD dan MW ....
Semua posting mesti dibikin belok ke PDI-P, GD dan MW sebagai biang keroknya ....
Logis ndak logis, jalan terus .....
Wong aku 'intelektual', kok .......
Begaya...Begaya...
Seolah-olah si 'dia'

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send online invitations with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke