Sudah ditanggapi oleh Pram di Tempo terbaru. Kayaknya rekonsiliasi
bakalan sulit. Saya enggak yakin rekonsiliasi model Nelson Mandela
bakalan mulus berjalan, karena banyak orang yang masih trauma berat,
hukum yang masih bisa miring kesana-miring kesini.
Konsep KKR yang sempat rame kemarin juga enggak jelas. Mau niru
mentah-mentah TRC (Truth and Reconciliation) Afsel juga sulit, karena
belum-belum sudah dicap terlalu berbau Kristen (ini isunya kok belum
muncul) gara-gara peran dominan uskup Desmon Tutu di TRC. Dan ada
yang kawatir keadilan berprespektif Islamnya tidak muncul. Saya jadi
bertanya apa rasa keadilan itu punya warna agama ? Model TRC sekarang
ini sedikit banyak di terapkan di Kamboja. Kalau di situ bisa
berjalan bagus ya faktor agama enggak perlu ditonjolkan. Tapi biarlah
Indonesia menempuh jalannya sendiri, mau rekonsiliasi monggo, mau
begitu-begitu saja ya monggo, mau menghancurkan diri sendiri juga
monggo. Eh iya kupikir meski mayoritas pemeluk agama di Indonesia itu
Islam, tapi kalau melihat bahwa kita suka self destruction begitu
kayaknya aliran Hindu Syiwa masih dominan dalam alam pikiran orang
Indonesia.
--- Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> -----Original Message-----
> From: s. wibawa <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Tuesday, April 11, 2000 11:31 PM
> Subject: [oe] Entschuldigung
>
>
>
> Surat Ter buka buat Pramoedya Ananta Toer
>
>
> Goenawan Mohamad
>
>
> SEANDAINYA ada Mandela di sini�E Bung Pram,
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send online invitations with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!