Mungkin kita dpt menduga juga bhw GD-AR sedang memperlihatkan suatu
permainan yg cantik. dan kalau tidak salah beberapa bublan yg lalu sempat
terjadi juga [ertemuan AR-AT dan GD di ciganjur, dan sebagai mana yg kita
lihat sekarang selang beberapa waktu ada perang argumen di antara
mereka........tapi ngomong-ngomong mega mana ya koq di ajak untuk memberikan
pendidikan politik, mungkin mega bagiang ngajarin diam aja kali.



Jawapos, Selasa, 18/04/2000 
�
Pingpong Amien-Gus Dur
Oleh Arief Afandi

Siang itu, Amien Rais datang ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Tujuannya satu: membesuk tokoh NU yang sedang terbaring sakit akibat stroke.
Seperti biasanya, obrolan pun mengalir di antara dua tokoh yang kini menjadi
ketua MPR dan presiden keempat RI itu. Gus Dur sambil tiduran di kasur,
Amien duduk di kursi di sebelahnya.Di akhir kunjungan, Amien mendoakan Gus
Dur agar segera sembuh. Sambil berseloroh, ia bilang, ''Cepat sembuh Gus.
Nanti kita main pingpong lagi.'' Gus Dur hanya mengangguk sambil mengucapkan
terima kasih atas kunjungan sahabatnya itu. 

Sudah lama peristiwa itu berlalu. Saat itu Gus Dur belum menjadi presiden
dan Amien belum menjadi bos parlemen. Bahkan, hal itu terjadi saat Soeharto
masih berkuasa. Kebetulan, sebagai sesama tokoh ormas Islam, Gus Dur maupun
Amien sama-sama menjadi ''musuh'' Soeharto.

Jelas, pingpong yang dimaksud Amien bukan permainan tenis meja yang kita
kenal. Itu hanya kiasan. Sebagai tokoh dan aktor politik Indonesia, pingpong
adalah kiasan untuk sebuah ''permainan'' politik tingkat tinggi. Saling
bersambut pernyataan adalah contohnya. 

* * *

Apa pun perbedaan di antara mereka, Gus Dur-Amien harus diakui sebagai
''pemain'' pingpong yang menakjubkan. Permainan keduanya sempat menghipnotis
jutaan penduduk Indonesia saat mereka tampil dalam pentas kepemimpinan
nasional dalam SU MPR, tahun lalu. Permainan memukau yang membuat banyak
orang terpaku dan bahkan termangu-mangu. 

Bagaimana tidak. Gus Dur yang semula tak pernah dihitung dalam bursa
pemilihan presiden karena sakitnya tiba-tiba tampil menjadi orang pertama
RI. Amien Rais yang partainya (PAN) hanya mendapat suara kecil bisa memimpin
parlemen, mengalahkan partai-partai penangguk suara terbanyak. Kita
terkaget-kaget melihat smash bola yang dilontarkan keduanya. Bola di atas
meja pingpong yang bernama SU MPR.

Belum ada setahun, kedua pemain itu telah mempertontonkan lagi pertunjukan
mendebarkan. Amien mengancam akan menjewer Gus Dur -lewat SI MPR-- karena
selama memerintah lebih banyak menyuguhkan banyolan. Tak hanya menjewer,
kalau perlu, menggebrak dan menggebuknya. Gus Dur pun membalas ancaman itu
dengan mengatakan, ''Jangan-jangan Amien-lah yang kelak menjewer kupingnya
sendiri.'' 

Sebuah ancaman yang tak main-main. Jika Amien berhasil mengonsolidasikan
para anggota parlemen untuk mengubah SU tahunan menjadi SI MPR, kekuasaan
Gus Dur tentu berada di ujung tanduk. Pemerintahannya yang belum setahun itu
bisa lepas dan dia lengser dari kepresidenan. Ketidakmenentuan politik bisa
terulang dan ekonomi bisa kembali terguncang.

Tapi, betulkah Amien serius atas ancamannya tersebut? Boleh jadi, Amien
hanya geram. Geram karena berkali-kali, Gus Dur mengusik emosi para
konstituennya. Mulai dari permintaan maaf dan pencabutan Tap MPR yang
melarang komunisme, sampai dengan sikapnya yang sering sinis dengan
gerakan-gerakan yang mengedepankan simbol Islam. Lagi pula, Amien tak mempan
mengingatkan Gus Dur untuk tidak terus-menerus nglencer ke luar negeri. 

Entahlah. Yang jelas, Amien memang harus bersifat keras terhadap Gus Dur. Ia
punya konstituen politik yang berbeda dengan presiden. Ia harus tetap
berdekatan dengan kelompok Islam garis keras karena memang itulah salah satu
basisnya selama ini. Upaya Amien untuk sedikit bergeser darinya, berarti
akan meninggalkan konstituen politik utamanya.

Jika itu dilakukan, tentu sangat merugikan Amien. Ia bisa dianggap
mengkhianati basis politik tempat ia sebelumnya berpijak. Padahal,
konstituen politik tersebut selama ini dikenal selalu berseberangan dengan
Gus Dur. Ambil saja contoh tentang usul Gus Dur mencabut Tap MPRS Nomor
XXV/1966. Meski alasan pencabutan yang dilontarkan Gus Dur sangat kuat,
mereka pasti menolak. 

Gus Dur bukan tidak tahu posisi Amien yang demikian. Keduanya sudah lama
saling mengintip, memelototi, dan bahu-membahu dalam membangun demokrasi
bangsa ini. Juga tentang masa depan umat Islam di Indonesia. Amien juga tahu
bahwa presiden asal Jombang ini suka mbanyol dan melontarkan isu-isu
kontroversial. Mereka saling tahu dan selama ini sudah saling memahami
posisi masing-masing.

Amien yang menjadi sponsor utama naiknya Gus Dur ke kursi kepresidenan itu
bukan tak tahu implikasi mengganti presiden yang belum genap setahun.
Pergantian 

* * *

Lantas, apa di balik ancaman saling jewer yang dilontarkan Amien-Gus Dur.
Sebagai aktor politik, keduanya sedang memainkan sebuah permainan, sesuai
dengan perannya masing-masing. Keduanya sedang memainkan bola pingpong
seperti yang pernah diungkapkan Amien saat menjenguk Gus Dur beberapa tahun
lalu. Bola pingpongnya adalah bernama demokrasi. Sebuah tatanan politik yang
sampai kini masih terus ditata di negeri ini. 

Seperti halnya permainan pingpong, pukulan bola kadang-kadang lamban, keras,
dan sesekali menggebrak. Tempo permainan akan dijaga oleh keduanya agar
stamina mereka tak terkuras. Kadang-kadang, mereka bermain sesuai dengan
keinginan suporternya. Amien tak bisa loyo karena suporternya sedang
menggebu-gebu. Gus Dur kembali melontarkan smash keras ke Amien ketika
suporternya juga mulai gregetan.

Jadi, tak perlu repot-repot menanggapi menanggapi perang urat saraf kedua
orang itu. Nikmati saja permainannya sambil sesekali ikut bertepuk tangan
memberikan semangat. Tak perlu suporter ikut memainkan bola, apalagi
bertengkar dengan sesamanya. Pemain pingpong tak akan berganti dalam waktu
dekat. Sebab, mereka bukan bermain untuk menang dan kalah, tapi untuk masa
depan yang lebih mapan. Juga untuk memuaskan para suporter masing-masing.
Nah, gitu aja kok repot.

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke