Ke bawah mas, mbak, mbah...
--- mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> On Monday, 17 April 2000, che <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Ada satu hal yang tidak diceritakan Mbah Soeloyo, meski
> pendidikan
> > Jepang bagus, namun pendidikannya tidak memerdekakan manusia.
========================
Yap :
> Sekedar cerita ya.
> Disebuah kelas yang pernah saya lewati, saya baru baru tahu bahwa
> ada
> sekolah yang bener bener bisa merobah kehidupan, jiwa dan raga.
> Butuh
> totalitas, dan hasilnya berubah total.
> Saya kira yang lain juga banyak yang mengalami, tetapi saya
> mengalami sekali
> itu dan terkesan sekali.
> Jadwalnya jam 08.00 sampai 17.00 waktu setempat. Ada 3 break untuk
> makan dan
> sholat. dst..... di delete...
>
> --------------- ngesoel di sini -------------------
> soal dinamika anak muda jepang yang teramati oleh ku sih malah
> kesannya "bubar" semua. seolah-olah orang jepang itu tak punya
> public-figure dalam negeri. semua lari ke eropa atau ngamrik.
> rambut mulai merah-merah hingga ungu. lipstik, warna kelopak mata,
> warna bulu mata bahkan warna kulit telah banyak berubah.pokoknya
> hilang begitu lho ciri budaya jepang...
===========================
che :
Eh Mbah pernahkah embah menanyakan atau mempertanyakan apa tujuan
pendidikan di Jepang sana ? Bagi saya pendidikan adalah usaha mencari
kebenaran. Apakah pendidikan disana tujuannya benar-benar mencari
kebenaran ? Atau hanya untuk melampiaskan nafsu agar Jepang jaya dan
kaya raya? Bagi saya bila diamati lebih jauh ternyata pendidikan
disana melulu melihat hasil. Kebenaran kalau itu hanya kebenaran dan
tidak ada hasilnya (uang, kekayaan atau tujuan bersama yang lain)
bagi Jepang itu tidak ada gunanya. Pendapat ini bisa didapatkan pada
seorang ahli pendidikan Jepang jaman era Restorasi Meiji. Ekses ini
ternyata berlanjut sampai sekarang, ya yang saya sebut di atas, yakni
pemerasan negara bahkan sampai pada anak yang masih SD. Oleh karena
itu jangan harapkan ada polemik kebudayaan, perbenturan pemikiran,
atau pemikiran filsafat yang gress di Jepun, karena itu tidak
menghasilkan apa-apa. Semuanya diukur dari hasil.
Bila yang diamati adalah merah hijaunya rambut, ya itu pernik-pernik
luarnya saja. Namun sebenarnya dalam hati mereka haus akan kebenaran.
Wajar bila kiblat mereka Amerika atau Eropa, karena disanalah tradisi
pencarian kebenaran itu berada. Secara enggak sadar sebenarnya mereka
memberontak, karena terus-menerus disuruh menopang para orang tua
mereka. Dan trend mencari kebenaran ini rupanya bukan monopoli orang
muda Jepang saja, orang muda Indonesia juga begitu, di Amerika juga
begitu. Demo WTO dan IMF baru-baru ini. Rupanya manusia di dunia ini
sedang menuju satu titik yang sama, titik apa itu belum kelihatan
jelas. Satu yang pasti adalah HAM dan demokrasi. Meski caranya
macam-macam. Dan inilah trend abad 21 ini.
Satu yang dapat disimpulkan tujuan untuk mencari kebenaran melebihi
tujuan negara.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send online invitations with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!