On Thursday, 20 April 2000, Wisnu Ali Martono wrote:
>PKB akan melawan jika
> Amien ingin menSI kan Gus Dur. Partai itu meminta AR tidak memanfaatkan
> jabatannya untuk _politik praktis_.
>
> Saya sudah lama tidak punya simpati terhadap AR. Karena ucapannya. Namun,
> dalam kasus di atas saya pengin ketawa. Bahkan kentut bertubi-tubi, jika
> mungkin. Mengentuti ucapan hipokrit.
Berkat jasa rangkaian ucapan AR yang tidak bung WAM simpatiki itulah
akhirnya rating PKB melejit sebagai pendukung utama GD, setelah diam diam
diberi kesempatan menempatkan beberapa orangnya posisi kunci di ring satu.
Nampaknya PKB menyadari itu dan segera mengkapitalisir keunggulannya.
Tadinya citra macam itu kan wajarnya jadi milik Poros Tengah yang menjadi
sponsor utama GD. Tetapi berhubung AR memang punya ambisi untuk jadi
Presiden (dan nampaknya ingin buru buru), maka konsekuensinya AR harus
tampil mirip oposisi, untuk meningkatkan ratingnya. Menarik simpati
publiklah, bahwa: gue juga bisa nih, gue berani nglawan nih, dst. Sayang
terkesan demam panggung, sehingga bung WAM jadi tidak simpati. Begitu juga
banyak orang lainnya. Atau kata Cak Nur: opposisionist, sekedar tampil beda.
Namun sesungguhnya itu cuma sebuah konsekuensi positioning AR sehubungan
dengan ambisinya itu. Dan dia paham benar itu, karena itu juga sudah masuk
perhitungannya, dengan harapan semakin lama semakin banyak yang suka.
Dengan tegas, walaupun setengah hati (lho iki yok opo se?), PKB memberi
reaksi atas 'goyangan' AR, dan tampil sebagai partai pertama yang menyatakan
sikap untuk "menjewer" AR, yaitu: tinjau kedudukan AR sebagai Ketua MPR.
Atau lebih tepatnya: kalau nggak diralat tak tinjau lho! Dan AR nampaknya
memang sudah meralatnya: SU tidak akan berubah jadi SI.
Saya bilang setengah hati, karena yang tampil 'hanya' Yahya Staquf dan siapa
gitu satu lagi. Bukan Ketua dan Sekjennya.
PKB hanya menari diatas gendang yang ditabuh AR, untuk menjaga agar AR tidak
berlebihan memainkan perannya.
Nampaknya PKB tahu benar posisi politiknya sebagai bandul penentu
perimbangan pemilik suara di MPR. Dengan memisalkan suara di MPR terpecah
dua, PDIP cs. dan non PDIP cs., maka kemana suara PKB berada, disitulah
'kemenangan' diperoleh. Maka barangsiapa mengabaikan PKB, bisa balik
kampunglah lagi. Cukup demokratis dan konstitusional kan?
Kalau bung harman mengibaratkan ini main ping pong, ya saya bilang dalam
ping pong kan biasa smash dibalas smash. Mungkin karena selama ini
dikembalikan dengan slice, eh.. smash nya makin bertubi tubi.
Mungkin saja akan berlanjut adu top spin yang lebih mendebarkan, atau adu
slice untuk memaksa blunder lawan.
Tapi itu cuma dipentas politik. Bottom line-nya mereka tetap dua sahabat.
Sisi lain yang cukup valid, mungkin PKB juga ingin menjaga citra Islam
dengan melempar pesan kepada semua pihak, bahwa pihak yang sering mengatas
namakan umat Islam itu sebenanrnya klaimnya berlebihan, karena tidak akan
ada yang meragukan keislaman PKB. Belum lagi umat Islam yang silent
majority, yang terpaksa sibuk bekutat mempertahankan hidup sehari hari.
Pemilu akan membuktikan siapa yang sebenarnya didukung umat Islam (yang
lebih dari 80% penduduk Indonesia).
Ya, apa boleh buat, perbedaan adalah rachmat, mari kita nikmati perbedaan
ini, tanpa pengin kentut segala. Saru ah!
yap
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!