On Mon, 24 Apr 2000, [Windows-1252] �� wrote:
> Pagi ini saya melihat berita dimana Fidel Castro
> pemimpin negara dengan faham yang diperdebatkan itu
> merayakan Paskah di Cuba.
WAM:
Menurut sejarah (atau cerita?), Fidel Castro disuruh ayahnya untuk sekolah
seminari. Dan dia memang sempat sekolah di sana sebelum menjadi Marxis.
Harus diingat, di negara Amerika Latin menjadi pastor (dulu) adalah
cita-cita bergengsi. Itu juga terjadi di Nikaragua. Akan tetapi, manakala
Marxisme menguat, tidak ada yang bisa dilakukan oleh gereja. Di Nikaragua,
ketika revolusi berlangsung, kaum gereja juga dirangkul oleh Sandinista,
yang segera ditendang manakala Somoza terkalahkan. Sama dengan Kuba.
Jadi, tidak ada relevansinya dengan atheisme penganut Marxis.
Seseorang yang tadinya amat mengakui keberadaan Tuhan pun dapat saja
menjadi atheis manakala mengikuti pemikiran Marx.
> Juga, Polandia ternyata didominasi oleh orang beragama.
WAM:
Sebelum dijajah Rusia, memang negara ini amat religius. Tapi, itu toh
tidak menghalangi Marxisme untuk berkuasa. Dengan moncong senjata.
> Jadi bingung nih ..., bagaimana sih fenomena itu bisa
> terjadi? Di satu sisi katanya menganut faham yang
> atheis, namu di sis yang lain beragama. Atau, agama
> hanya sebagai model atau kebiasaan hidup saja?
WAM:
Bisa apa agama, kalau sudah di bawah todongan senjata?
Dan itu yang terjadi di banyak negara yang menganut Marxisme.
> Mohon pencerahan.
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!