On Fri, 5 May 2000, Yap wrote:

> Pengangkatan Tutut justru terlambat. Mestinya dia Mensos pada kabinet
> sebelumnya, hasilnya rasanya lebih bagus. Mungkin saja pada kabinet yang
> terakhir itu posisinya sudah Wapres. Dan sangat boleh jadi negara kita sudah
> punya SSN. Bahkan sangat mungkin dampak krisis nggak begitu hebat, karena
> masyarakat miskinnya sudah makin berkurang. Minimal punya ketahanan
> lebihlah. Yang jelas pada pertengahan Pelita VI anak anak bliouw kan sudah
> kekenyangan, jadi sudah berpikir arus balik, mengalirkan bantuan dana untuk
> masyarakat susah.

WAM:
Koh Yap,
Anda memang cerdik. Anda bisa membungkus bercandaan anda sehingga nampak
serius. Persis Gus Dur lah. 

> Kalau pengangkatan Bob memang menyakitkan, karena banyak yang lebih pantas.
> Dan agak repotlah kalau pengusaha merangkap penguasa. Bisa take all.

WAM:
Apanya yang menyakitkan? Bukannya anda sudah yakin bahwa itu adalah hak
prerogatif presiden? Jadi, nggak perlu membuat sakit hati dong? Juga, apa
salahnya mengangkat pengusaha sebagai menteri? Memangnya Gus Dur tidak
melakukan itu? Yusuf Kalla (to name a few) bukankah juga pengusaha? Soal
kemampuan, siapa yang bisa mengatakan Bob itu tidak mampu? Atau, siapa
yang bisa bilang bahwa tidak ada orang lain yang lebih mampu daripada
menteri-menteri yang ada sekarang? Ah Koh, kita bisa berdebat
berkepanjangan mempersoalkan _kemampuan_ ini. Apalagi, tolok ukurnya hanya
sudut pandang subyektif kita masing-masing. 

Why don't we just say that penggunaan alasan _hak prerogatif_ semata,
tanpa dibarengi dengan kearifan lain, adalah sesuatu yang pantas dikritik?
Gus Dur maupun Suharto. Itu lebih fair dan tidak partisan. Atau, kita
benarkan saja semua yang dilindungi dengan alasan _hak prerogatif_. Gus
Dur ataupun Suharto. Itu juga lebih fair dan tidak partisan. 

> Tentang hak prerogatif, ya memang prerogatif. Artinya suka suka. Jadi yang
> memprotes ya sia sia. Apalagi untuk Pemerintah Soeharto yang didukung 70%
> suara legislatif.

WAM:
Artinya, Gus Dur dalam hal ini juga sama saja dengan Suharto? Sak enake
dewe?

> Inilah hebatnya Soeharto, mencuri dengan bahasa hukum. Dibuat dulu aturan
> bahwa perbuatan mencuri itu bukan mencuri, baru dilakukan pencuriannya. Jadi
> kalau dituntut secara hukum ya sulit banget lah. Makanya biarpun Jaksa Agung
> diganti 50 kali sehari ya tetep aja nggak ada kemajuan.

WAM:
Sorry, ada nggak ya relevansinya dengan thread yang saya mulai?

> Apakah Pemerintah sekarang bisa menuju kesana? Sangat bisa. Karena power
> yang ada ditangannya. Dan power tends to corrupt. Masalahnya tinggal kemauan
> dan kesempatan. Yang bisa kita kontrol, mempersempit kesempatannya. Dengan
> transparansi yang semakin transparan ya kesempatan itu semakin sempit. Jadi
> optimis sajalah.

WAM:
Optimis bahwa pada akhirnya power memang tends to corrupt? Iya deh.



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke