On Friday, May 05, 2000, Wisnu Ali Martono wrote:
>
> Koh Yap,
> Anda memang cerdik. Anda bisa membungkus bercandaan anda sehingga nampak
> serius. Persis Gus Dur lah.

Subhanallah.

>
> > Kalau pengangkatan Bob memang menyakitkan, karena banyak yang lebih
pantas.
> > Dan agak repotlah kalau pengusaha merangkap penguasa. Bisa take all.
>
> WAM:
> Apanya yang menyakitkan? Bukannya anda sudah yakin bahwa itu adalah hak
> prerogatif presiden? Jadi, nggak perlu membuat sakit hati dong?

yap:
Justru disitu sakitnya. Mau merubah nggak bisa, mau menerima nggak bisa.
Itulah yang namanya powerless banget. Dan itu sakit.

WAM:
>Juga, apa
> salahnya mengangkat pengusaha sebagai menteri? Memangnya Gus Dur tidak
> melakukan itu? Yusuf Kalla (to name a few) bukankah juga pengusaha? Soal
> kemampuan, siapa yang bisa mengatakan Bob itu tidak mampu? Atau, siapa
> yang bisa bilang bahwa tidak ada orang lain yang lebih mampu daripada
> menteri-menteri yang ada sekarang? Ah Koh, kita bisa berdebat
> berkepanjangan mempersoalkan _kemampuan_ ini. Apalagi, tolok ukurnya hanya
> sudut pandang subyektif kita masing-masing.

yap:
Nggak terlalu subyektif juga. Track record-nya Bob kan sudah terlalu jelas.
Diluar kabinet saja bisa mengatur segalanya seenaknya, apalagi masuk
Kabinet. Ini kan melegalisir perampokan. Perangkapan fungsi vertikal itulah
masalahnya.

WAM:
> Why don't we just say that penggunaan alasan _hak prerogatif_ semata,
> tanpa dibarengi dengan kearifan lain, adalah sesuatu yang pantas dikritik?
> Gus Dur maupun Suharto. Itu lebih fair dan tidak partisan. Atau, kita
> benarkan saja semua yang dilindungi dengan alasan _hak prerogatif_. Gus
> Dur ataupun Suharto. Itu juga lebih fair dan tidak partisan.

yap:
Yang ini setuju bin akur banget.
Tetapi jangan disegmentir sampai situ saja. Lihat juga perjalanannya. Tetapi
jangan kehilangan daya kritis. Hanya menyampaikan kritik yang effektif
itulah masalahnya.

> WAM:
> Artinya, Gus Dur dalam hal ini juga sama saja dengan Suharto? Sak enake
> dewe?

yap:
Ya memang UUDnya bilang begitu kan? Waktu Rahardi Ramelan ditunjuk di dua
pos penting, orang juga terkejut. Begitu juga ketika Hikam masuk BPPT,
banyak yang menganggap pelecehan kepada lembaga BPPT.

> WAM:
> Sorry, ada nggak ya relevansinya dengan thread yang saya mulai?

Sorry juga, masuknya ditengah perjalanan, jadi kurang menyimak.
Tapi point saya, walaupun intro-nya sama, prosesnya masih bisa berbeda,
sehingga outputnya juga berbeda pula.

> WAM:
> Optimis bahwa pada akhirnya power memang tends to corrupt? Iya deh.

Nggak dong, optimis bahwa era transparansi makin menjadi kebutuhan dan harus
dibangun bersama, tetapi baiknya dalam peaceful political environment. Jadi
beunang laukna herang caina ( ikannya tertangkap airnya tetap jernih) gitu
roger.

yap



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke