>
> Semoga Jawa Pos mau bersyukur dengan kejadian ini,
> sebab kejadian ini membikin
> mata terbuka. NU dan Kisdi jadi enggak ada bedanya.
> Dulu Kisdi memalak Kompas.
> Sekarang Jawa Pos kena palak banser. Gus Dur
> dilawan, ya ringsek.
>
Mari kita simpulkan :
Seolah-olah Jawa Pos dalam posisi yang benar, dengan
memadankan NU setara KISDI yang memalak Kompas.
'Mata terbuka' terbuka, dalam hal ini kita diharap
sadar, bahwa 'NU tak lebih KISDI yang lain'
JP dipalak Banser, jadi 'banser tak lebih bandit', dan
JP adalah pahlawan (karena jadi korban kawanan
bandit).
'GD dilawan, ya ringsek', masih bisa diartikan dua
sisi, artinya 'GD itu benar, dan karena dia benar,
maka yang ngelawan pasti kalah/salah', atau 'GD itu
monster, jahat, kuat, berkuasa, maka siapa pun yang
melawan, pasti ringsek'. Kalau kalimat tadi dikaitkan
dengan kalimat-kalimat sebelumnya, maka posisi GD
adalah model yang kedua.
Mari kita lihat faktanya :
JP mengaku salah. Sumbernya sendiri, Tempo, sudah
mengaku salah setelah melakukan klarifikasi, dan minta
maaf. yang dimaksud Hasyim Wahid, yang ditampilkan
Hasyim Muzadi.
JP salah, sudah mengutip, tanpa klarifikasi pula. Lain
kalau mereka sendiri yang punya data. Kutipan, iya
kalau bener. kalau salah ?
Dalam grafis benar-benar tampak, ada foto-foto Hasyim
Muzadi, serta Gus Dur, dengan teks di sampingnya,
bahwa duit itu benar-benar sudah masuk ke kantong
Hasyim Muzadi.
Soal 35 milyar, yang dituntut Banser adalah senilai
dengan 'duit yang berdasarkan grafisnya JP benar-benar
sudah diterima Hasyim Muzadi'. JP menuding hasyim
Muzadi terima 35 milyar, salah, lalu dituntut balik
yang senilai. Tuntutan sebesar itu bukan untuk kantong
NU, tetapi untuk masjid, pesantren, yatim-piatu, dll.
Bahkan nama masjid itu pun adalah 'NU Pos', yang kalau
dilihat masih memberikan peluang kepada JP untuk punya
andil, amal, dalam pembangunan masjid. Masih ingat
tuntutan Parni Hardi ke GD sebesar sekian trilyun ?
Kata-kata 'memalak' dalam hal ini sangat tidak tepat.
Sangat tendensius. Lebih-lebih tidak dilakukan dengan
kekerasan, acung-acung, ancaman, dan lain sebagainya.
Saya tinggal di Surabaya. Saya aktivis pers dan
pemerhati masalah-masalah sosial. Jadi saya dekat
dengan peristiwa tersebut.
NU dan Banser memang datang dalam jumlah yang sangat
besar. Teman-teman JP wajar keder, lalu tidak terbit
edisi Minggunya. Tetapi bahwa JP benar dalam
pemberitaannya, jelas tidak. Tanpa kejadian seperti
itu saya yakin tak akan Nu dan bansernya datang. Wong
tiap hari JP ya tak pernah ada soal.
=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send instant messages & get email alerts with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com/
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!