On Mon, 8 May 2000, GIGIH NUSANTARA wrote:
> Mari kita lihat faktanya :
> JP salah, sudah mengutip, tanpa klarifikasi pula. Lain
> kalau mereka sendiri yang punya data. Kutipan, iya
> kalau bener. kalau salah ?
WAM:
He..he...hee
Jadi, dalam kutip mengutip, diperlukan bukti dan klarifikasi ya?
Benarkah begitu aturannya?
Saya mau nanya, kalau dulu banyak koran mengutip bahwa Suharto
menyembunyikan duit 14 milyar dollar di Swiss, padahal Time sendiri hingga
saat ini tidak bisa membuktikan hal itu, apa kedudukan para media ini sama
dengan kedudukan Jawa Pos saat ini? Maksudnya, boleh digruduk ratusan
orang dan diintimidasi?
Saya setuju, bahwa cek and ricek itu harus dilakukan. Tapi, apakah ini
terbatas hanya jika sasarannya bukan Suharto, atau secara general memang
harus begitu? Saya lebih setuju pada yang kedua.
Yang saya amati, jika sasarannya adalah Suharto, desas desus pun bisa
dianggap sebagai _fakta_.
Sulit ya, untuk menjadi orang konsisten?
Yang paling mudah adalah, jika sasarannya adalah Suharto, apa pun bisa
dibenarkan. Sementara jika sasarannya Gus Dur, segala macam etika mesti
dijalankan dulu. Contohnya, mencek apakah berita Tempo itu benar atau
tidak. Lha kok hal yang sama tidak dilakukan ketika menuduh Suharto punya
simpanan 14 M dollar?
> Dalam grafis benar-benar tampak, ada foto-foto Hasyim
> Muzadi, serta Gus Dur, dengan teks di sampingnya,
> bahwa duit itu benar-benar sudah masuk ke kantong
> Hasyim Muzadi.
WAM:
Di Anteve tadi malam, jelas dikatakan bahwa memang ada duit 35 M yang
disetorkan oleh Safuan (?), pejabat Bulog. Yang jadi perkara adalah, siapa
penerima duit itu? Saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Satrio
Arismunandar (dari AJI). Bahwa mestinya NU membawa masalah itu ke
pengadilan saja. Biar terbuka sekalian, siapa penerima duit haram itu.
Itu lah cara yang paling beradab. Bawa ke pengadilan. Bukan dengan cara
mendatangkan ratusan orang ke kantor Jawa Pos. Apa pun alasannya, itu
perbuatan tidak beradab, dipandang dari segi hukum.
> Soal 35 milyar, yang dituntut Banser adalah senilai
> dengan 'duit yang berdasarkan grafisnya JP benar-benar
> sudah diterima Hasyim Muzadi'. JP menuding hasyim
> Muzadi terima 35 milyar, salah, lalu dituntut balik
> yang senilai. Tuntutan sebesar itu bukan untuk kantong
> NU, tetapi untuk masjid, pesantren, yatim-piatu, dll.
WAM:
untuk kantong NU atau bukan (bahkan untuk yatim-piatu?), tetap saja itu
tidak benar. Kecuali itu dilakukan melalui jalur hukum, dan dimenangkan
oleh pengadilan. Lain lagi masalahnya.
> Bahkan nama masjid itu pun adalah 'NU Pos', yang kalau
> dilihat masih memberikan peluang kepada JP untuk punya
> andil, amal, dalam pembangunan masjid. Masih ingat
> tuntutan Parni Hardi ke GD sebesar sekian trilyun ?
WAM:
Amal kok dengan nginjek kaki orang. Bikin ketawa aja. Ya kalau yang
disuruh amal itu ikhlas?
Kenapa disamakan dengan urusan Parni Hardi yang lebih berperadaban? PH toh
membawa masalah itu ke pengadilan. Andaikata NU membawa masalah itu ke
pengadilan, saya pun akan mendukung (NU). Biar terbukti, siapa yang salah,
siapa yang benar.
> Kata-kata 'memalak' dalam hal ini sangat tidak tepat.
> Sangat tendensius. Lebih-lebih tidak dilakukan dengan
> kekerasan, acung-acung, ancaman, dan lain sebagainya.
WAM:
Anda hadir di sana, sehingga bisa meyakinkan bahwa kekerasan (fisik maupun
psikis) tidak dilakukan? Gombal. Dari perbincangan di SCTV yang saya
ikuti, jelas terbayang bahwa karyawan JP amat tertekan didatangi
ratusan Banser berpakaian ala tentara. Sampai mencopoti kabel komputer
segala. Dalam hal ini, amat naif untuk mengatakan bahwa karyawan JP tidak
tertekan (fisik maupun psikis). Lain halnya kalau yang datang adalah
lawyer NU. Tidak ada alasan karyawan JP untuk tertekan.
> Saya tinggal di Surabaya. Saya aktivis pers dan
> pemerhati masalah-masalah sosial. Jadi saya dekat
> dengan peristiwa tersebut.
WAM:
Seberapa dekat? Sampai tahu sendiri kejadiannya?
> NU dan Banser memang datang dalam jumlah yang sangat
> besar. Teman-teman JP wajar keder, lalu tidak terbit
> edisi Minggunya. Tetapi bahwa JP benar dalam
WAM:
Nah, anda toh mengakui juga kan, tekanan psikis itu ada?
> pemberitaannya, jelas tidak. Tanpa kejadian seperti
> itu saya yakin tak akan Nu dan bansernya datang. Wong
> tiap hari JP ya tak pernah ada soal.
WAM:
Benar atau tidak, bukan kita yang wajib membuktikan. Tapi pengadilan.
Yang saya tonton dari Anteve, duit 35 M itu memang benar telah dikeluarkan
untuk seseorang yang mengaku dekat dengan Gus Dur. Tinggal mencari tahu,
siapa orang itu? Apakah benar dia dekat Gus Dur, atau cuma ngaku-ngaku?
Rasanya, nggak akan sulit mencari tahu siapa penerimanya. Wong duit 35 M
itu kan nggak sedikit. Orang-orangnya juga sudah diketahui. Si pemberi,
udah ketahuan. Yang menjadi perantara, juga ketahuan. Apa sulitnya
menangkap siapa yang menerima duit itu?
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!