BERNAS, Rabu Wage 7 Juni 2000 Cerita tentang Syahril --------------------- * Syahril Sabirin diminta datang oleh Presiden KH Abdulrahman Wahid (Gus Dur) ke Bina Graha bersama Menkeu Bambang Sudibyo, Wakil Ketua BPPN, Cacuk Sudaryanto, dan haryadi Achmad (anggota Komisi IX DPR). Diperkirakan yang akan dibicarakan adalah masalah Texmaco. Namun, ternyata yang dibicarakan sama sekali diluar dugaan dan ini tidak terlalu mengagetkan Syharil. Presiden mengatakan, "Gubernur BI akan diganti dan yang akan menggantikan adalah Saudara Dono Iskandar". Tapi Syahril merasa cukup tenang menanggapinya, * Syahril ditelepon Subarjo bahwa ia dapat pesan melalui ajudan Jaksa Agung bahwa Marzuki ingin bertemu dengannya di Hotel Grand Hyatt lantai 24 pada hari Rabu (1/3) pukul 09.00. Syahril meminta Subarjo meyakinkan apakah si penelepon benar ajudan Marzuki. Beberapa lama kemudian Subarjo menelepon lagi bahwa ajudan Marzuki memberi nomor handphone Marzuki kalau Syahril ingin mengeceknya sendiri. Tapi, Syahril tidak mengecek malam itu. Ia menunggu sampai pagi hari hingga sekretarisnya mengeceknya. * Sekretaris Marzuki menelpon ajudan Marzuki dan ternyata pesan bertemu di hotel Grand Hyatt adalah benar. Syahril meluncur ke Hotel Grand Hyatt itu dan di lobi sudah menunggu Subarjo. Keduanya sempat bertemu Ansop Sigh dari IMF dan John Dotsworth (Kepala Kantor IMF di Jakarta) yang sedang makan pagi. Syahril dan Subarjo memilih minum kopi sebelum naik ke lantai 24 dimana Marzuki menyampaikan bahwa ia memiliki informasi yang tidak dimiliki para jaksa soal kasus Bank Bali. Informasi itu adalah walaupun Syahril hadir dalam "pertemuan" di Hotel Mulia 11 Februari 1999, belum tentu Syahril terlibat dalam "pemufakatan". Marzuki percaya Syahril tidak terlibat, namun mungkin kesaksian dari pihak-pihak lain dapat menjurus pada posisi menjadikan Syahril sebagai tersangka. Marzuk mengemukakan permintaan Presiden agar Syahril mundur dari kedudukan Gubernur BI. Singkatnya, Syahril diberi pilihan: (1) mundur da tidak dijadikan tersangka, atau (2) tidak mundur dan dijadikan tersangka. Marzuki mengatakan telah berbicara dengan Menlu Alwi Shihab untk menempatkan Syahril sebagai Duta Besar, atau kemungkinan di DPA. Syahril tetap kukuh tidak merasa bersalah dalam kasus Bank Bali sehingga tidak mau mundur. Marzuki masih berusaha menelpon usai pertemuan dan Syahril sendiri minta waktu untuk menjawab. * Marzuki terus mengontak Syahril dan baru sore harinya berbicara per telepon. Soal pilihan Presiden itu amat berat. Marzuki berusaha mengarahkan Syahril untuk menerima mundur dengan mengatakan bila pengunduran diri itu disertai penempatan sebagai Duta Besar, hal itu tidak akan dilihat sebagai intervensi Presiden. * Syahril diundang makan malam di rumah Try Sutrisno bersama Marzuki dan Rachmat Saleh. Syahril langsung mempertanyakan peran Try Sutrisno yang kini sudah tak punya jabatan resmi. Setelah berembug dengan Rachmat Saleh dan takut dituduh mencari aliansi politik, Syahril pun menolak hadir. * Syahril menyerahkan jawaban yang telah dipersiapkan K Amir Syarifuddin. Usai rapat dewan gubernur bulanan. Syahril memenuhi undangan makan malam di Kejaksaan Agung. Karena ada demo, pertemuan yang berlangsung selama 20 menit itu baru dimulai pukul 10.00 malam. Syahril mengemukakan alasan tidak mau mundur. * Subarjo yang baru pulang dari haji menemui Syahril dan menyampaikan pesan Marzuki, kalau-kalau Syahril mengubah keputusannya. * Syahril ditelepon Sekretaris yang memberitahu surat panggilan hadir di PN Jaksel 11 Mei untuk memberi kesaksian atas perkara Djoko S. Tjandra. * Syahril dihubungi Aris Junaedi dan Ridho Hakim-orang dekat Gus Dur untuk bertemu tidak formal dengan Gus Durdi Istamna Merdeka. Gus Dur menyampaikan masalah Pribadi yang tidak lolos fit and proper test. Padahal orang ini yang mengembangkan program kredit kecil di BRI. * Gus Dur mengajak ngobrol lagi di Istana Merdeka. Syahril datang ke Istanapukul 06.30 sebelum berangkat ke DPR. Pertemuan baru berlangsung pukul 08.00. * Kembali Gus Dur memanggil Syahril yang tengah berkunjung di Bukittinggi. Tiba di Istana Sabtu (27/5). Syahril kemudian bertemu Gus Dur yang didampingi Marsillam Simanjuntak. Presiden menyodorkan suatu map dengan kop Jaksa Agung Republik Indonesia yang didalamna ada selembar kertas terketik tanpa tanda tangan yang berjudul Perihal Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin dan Kaus bank Bali. laporan kepada Presiden RI. Isinya laporan Syahril yang dinilai bertentangan dengan Firman Soetjahja dan Rudy Ramli. * Syahril ditelepon Marsilam tentang pertemuanya dengan Presidensemalam. Syahril meyakinkan kembali bahwa ia tidak melakukan kesalahan apa-apa menyangkut Bank bali. * Syahril terbang lagi ke Padang. * Syahril diminta telepon Presiden yang katanya menunggu jawaban dirinya. Syahril pun memperoleh telepon dari Marzuki agar segera memberi jawaban dan setelah saling tawar mnenawar, Syahril diberi waktu 10 menit, Syahril tetap pada pendirian tidak mau mundur. * Syahril Sabirin resmi menjadi tersangkadalam kaitannya dengan kasus bank Bali.(sry) ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
