Nah... ini jelas sekali.

Yang merasa simpati kepada penderitaan salah satu kelompok tentu
membutuhkan informasi yang akan semakin menambah rasa simpati
mereka (causa paperis). Informasi semacam ini sangat bernilai bagi
mereka meskipun informasi itu belum tentu benar. Semakin
provokatif sebuah berita tentu akan semakin menaikan nilai
kepuasan mereka.

Yang merasa simpati kepada penderitaan kemanusiaan tidak pernah
melihat latar belakang perbedaan kecuali kemanusiaan itu sendiri.
Tulisan mas Win mengenai Umar bin Khathab sebenarnya, dalam
situasi yang mrip,  juga terjadi di kasus Ambon, Sambas,
Tasikmalaya, Situbondo, dll. Masalahnya, hal seperti itu dianggap
tidak umum atau anomali meskipun informasi itu memiliki tingkat
akurasi tinggi.

Satu berita yang menghenyakkan saya, meskipun itu dulu pernah
ditulis oleh Bung Yap disini, adalah pengakuan Ali Alatas di
Kejagung dalam perkara Wiranto dan pelanggaran HAM di Timtim.
Kalau Bung Yap menulis disini jelas domainnya agak terbatas, namun
pemberitaan di media masa itu sungguh mengejutkan.

Ali Alatas mengatakan bahwa perjanjian Tri Parti itu tidak
menawarkan opsi kemerdekaan. Namun, Jakarta menganggap bahwa
penundaan upaya pisah damai dalam jangka 5-10 tahun itu toh  juga
tetap akan membebani pemerintah Indonesia. Maka, opsi kemerdekaan
itu ditawarkan. Kini, kita melihat bagaimana penderitaan ribuan
umat manusia sebagai akibat dari putusan itu. Bukan hanya
penderitaan saat ini namun juga peradaban dan masa depan mahluk
yang disebut manusia itu, termasuk keluarga-keluarga muslim yang
sudah lama menetap disana dan akhirnya memilih tinggal di masjid
karena kerusuhan di Timtim pada saat itu. Berita ini luar biasa
karena menyangkut sebuah keputusan strategis pemerintah yang
membawa bencana bagi kemanusiaan dan peradabannya namun tidak
pernah bergulir menjadi lanjutan investigasi berita. Sunyi senyap
karena dikalahkan oleh berita lain yang memiliki nilai pemuas
kebutuhan lebih tinggi.

Pak Janto pernah menulis di milis ini bahwa the ultimate goal of
education is wisdom. Pertanyaan saya adalah apakah kita mempunyai
itu.

��

----- Original Message -----
From: Benny Henricus Samosir <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, July 25, 2000 4:01 PM
Subject: RE: [Kuli Tinta] FW: S.O.S!!! + URGENT !! Pray for
Ambon - Maluku !!!




WAM wrote :
Saya sepakat, kenapa segala macam _teriakan_ itu baru dilakukan
sekarang?

Teriakan-teriakan itu sudah lama muncul sejak perang pertama kali
muncul
dari kedua belah pihak.
Kita saja (pemerintah dan masyarakat Indonesia) yang nggak tahu
cara
menanggapi teriakan-tereakan itu sampai sekarang dan juga masih
dari kedua
belah pihak dan semakin keras.

Malah banyak politisi dan masyarakat kita-kita juga (para wartawan
juga
turut serta) untuk menambah tereakan-tereakan itu semakin kuat.





->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!













->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!














->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke