On Wed, 26 Jul 2000, Frijnk Zillaanz wrote:
> PKB mau jadi partai terbuka ? Yang bersedia menampung mereka yang non-NU,
> lebih-lebih non-muslim? Masih sangat sulit, kalau masih ada istilah 'Syuro',
> 'tanfidziah', dan ketergantungan terhadap 'ulama Langitan', yang merupakan
> berbagai konotasi yang sulit dipahami oleh mereka yang non-NU (apa orang
> Muhammadiyah paham mengenai kiai-khos, langitan dan lain sebagainya), dan
> non-muslim bersedia menyebut dirinya 'aku diangkat dalam jajaran
> tanfidziah'. Jika ingin mau jadi partai terbuka, maka harus ada kesediaan
> dan keterbukaan hati untuk menghilangkan ciri-ciri yang kental melekat ke
> nuansa kemusliman tersebut. Toh demikian, niat menjadi partai terbuka
> tersebut masih lebih saya dukung dibanding ciri primordial yang sempit.
WAM:
Setuju, herr Frinjk.
Dari tadi malam, di acara TPI, sampai saya baca koran pagi ini, umumnya
orang _menertawakan_ keinginan sebagian orang PKB untuk menjadikan partai
terbuka. Terbuka apanya wong semuanya terpulang pada mbah Dur dan NU.
Bahkan pagi ini di koran disebut bahwa meski jadi partai terbuka, tapi
pengaruh NU masih harus ada, karena partai ini didirikan orang NU. Ciri
primordial yang sempit? Lalu partai-partai di negara Barat sono apa tidak
berciri primordial? Nggak pernah saya denger ada orang, katakan, beragama
Islam jadi menteri di Jerman. Padahal penduduk Turkinya buanyak sekali.
Juga di Perancis. Orang bule memang keparat. Pinternya cuma ngritik tapi
nggak mau lihat kelemahan sendiri. But, anda nggak termasuk yang keparat
itu lho.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!