|
| Mbah,
| Segi etis-nya bagaimana mbah ? Apa tidak didongengkan di buku
anak-anak
| tersebut?
| Jelasnya, apakah penutupan aurat itu sekedar efek samping dari
kenyamanan,
| kesehatan, iklim dan geografis saja ? Bagaimana menerangkannya
kepada anak
| saya : Orang Irian tidak perlu menutup tetek. Tapi kalau
jalan-jalan di
| New-York dengan gondal-gandul begitu kok di tangkap polisi?
|
| Salam
| Abdullah Hasan.
|---------------------
Wah, maaf mas.
sumber berita itu bukan buku anak-anak, tetapi
koran SD, dengan rubrik tetap seperti tajuk-rencana
gitu lho.
Tentang naluri dasar mungkin telah dijelaskan oleh
Bung Slax yang disambut oleh Mas Agussss. Yang
pada intinya mengakui bahwa berpakaian pada manusia
adalah demi kenyamanan dan kesehatan, bukan?
Soal etis (terutama penutupan aurat dalam cara berpa-
kaian muslim), saya juga pernah membaca buku tulisan
orang sekuler-yahudi-inggris (sayang lupa namanya,
2 orang) dalam buku The Early Islam (1967), cara
berpakaian itu jelas-jelas menunjukkan budaya padang
pasir. Alasannya, memang demi mengamankan "raga"
muslimah dari kaum laki-laki ditinjau dari faktor seksual.
Sekaligus, untuk membedakan "the early muslimah" itu
dari quraysh makkah, yang kala itu sudah biasa berpakaian
untuk menonjolkan "aestetika" tubuh, terus terang terutama
"PAYUDARA"... sehingga perintah yang langsung bermakna
"turunkanlah "penutup kepalamu" hingga menutup dada".
Ini menunjukkan pakaian jahiliah juga mengenakan tutup
kepala, hanya demi mempertontonkan "aestitika tubuh"
bagian-bagian tertentu ditonjolkan bahkan dihias dengan
"kalung dan peneng" misalnya.
Dan setahuku, semua segi aestetika berpakaian untuk
wanita kok cenderung demi menarik lawan jenis, ya. sehingga
wajar kalau fashion-show berkembang di kalangan remaja
dan wanita muda. untuk model-nya pun dipilih yang berparas
dan berbody "lumayan". Lihat saja mulai dari melentikkan
bulu mata hingga cat-bibir.... bukankah mengarah ke sana?
Jadi segi ETIS tidak statis menunjukkan asal manusianya,
namun bisa berubah bila manusia-manusia itu sedang
berada di lingkup budaya lain (cerita Sarah dan Diba).
Juga rasanya aneh kalau ada wanita muda Irian yang
gondhal-gandhul sampai ke New York begitu saja tanpa
sebab. Paling tidak wanita Irian yang sampai New York
dapat saya pastikan tidak lagi ber-gondhal-gandhul. Kecuali,
mereka memang gebleg. Atau sudah menjadi tradisi
di ngamrik ada acara "Nude-Festival" bukan, seperti
yang pernah diceritakan Mas Usman_Maine di is-lam@?
Siapa tahu wanita itu sedang ikutan festival?
salam,
soeL
-------
|
|
| ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
| Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
| Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
| Keluar: [EMAIL PROTECTED]
|
| Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!