Tetapi ya masih sulit dibaca kemana arahnya tuh mas.
Kalau dalam kapal silem kemarin pada pating clemong namun pesannya
bisa dibaca.
Saya mencoba untuk memenggal topik demi topik atau paragraf demi
paragraf juga masih sulit tuh mas. Masih ada berbagai kemungkinan
isi pesan yang hendak disampaikan Pak Hasan. Atau karena pesan itu
ditujukan kepada banyak pihak sehingga masing-masing harus
memahami mana yang menjadi bagiannya. Ini mungkin kelebihan Pak
Hasan yang selama ini kita belum mengetahui.
Lanjut Pak....
----- Original Message -----
From: Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, August 18, 2000 5:23 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] JAWA : USULAN AMANDEMEN BARU
Setiap kali mbaca e-mailnya wak Hasan, saya bingung, sebab banyak
sekali sayapnya, serta kayak kue
lapis. Perlu penafsir tersendiri. Perlu mengerutkan kening. Perlu
mencari makna yang tersirat dari
yang tersurat. Hal ini mengingatkan kejadian waktu saya mencoba
mencari makna-makna tersembunyi
dari tulisan-tulisan sastra jawa. Kayak posting ini, barangkali
ini posting 'pasemon' atau
sindiran pada 'Jawa'. Meski sastra sindiran bukan monopoli jawa,
namun mengingat lamanya 'Jawa'
menjajah Indonesia, maka saya berkeyakinan bahwa wak Hasan
menggunakan cara/kerangka berpikir Jawa
dalam menuangkan isi pikirannya, seperti posting di bawah ini.
Sayang menyindir 'Jawa', tapi masih
menggunakan cara pikir 'Jawa'.
--- Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Jakarta Agustus 2001. Usulan paksaan sholat dan puasa lewat
pasal 29 sudah
> satu tahun. Orang sudah hampir lupa , kecuali milis Kuli Tinta.
Rekor thread
> amandemen & kapal silem tidak bisa berhenti walaupun sudah lewat
empat juta
> posting. Berkat semangat kelompok yang kuat dan fanatik
keroyokan yang tidak
> mengenal malu, dan berkat stamina WAM yang mengagumkan. Mirip
betul dengan
> cerita silat Cina.
>
> Maka Isu amandemen baru pasal 29 menggegerkan dunia kang-ouw.
Etnis Jawa
> yang mayoritas minta tambahan tujuh kata untuk pasal itu :
"mewajibkan
> memakai blangkon pada semua suku Jawa". ( note: blangkon,
kopiah ikat
> kepala khas Jawa).
>
> Suku Jawa adalah mayoritas penduduk negeri. Tapi bagi para
pemerhati,
> keadaan suku dan segenap budaya-nya amat memprihatinkan. Apalagi
dengan jauh
> dari keadilan, gagalnya tiga presiden dihubung-hubungkan dengan
kejawaan
> mereka. Muncullah tuduhan jahat tentang ke-Kadaluarsaan
Kebudayaan Jawa. Lho
> !? Tidak adil, tho!?. Belum lagi lunturnya budaya orang Jawa,
seperti malas
> menggunakan bahasa Jawa, memakai nama asing seperti Abdurrachman
atau
> Abdullah , dll. Miskinnya apresiasi kepada wayang, ruwatan, dsb.
>
> Maka dalam usaha step-by-step membangun kembali semangat dan
keluhuran
> budaya nenek moyang, maka sekelompok elit politik Jawa dengan
cara
> konstitusinal berniat mengusulkan amandemen pasal 29. Dalam
pertimbangannya
> tidak lupa mereka memperhitungkan akibat ekonomi dari usulan
dengan teliti.
> Seratus juta blangkon bakal di produksi ( paten pun telah
didaftarkan oleh
> kader cerdas PDIP. Taufik Kemas ? ). Kalau sebuahnya di patok
seharga 20.000
> rupiah, tinggal mengalikan saja. Kalau sebuah blangkon cuma
bertahan enam
> bulan, bayangkan siklus ekonomi dalam negeri ! Mungkin kita bisa
bicara :
> "Good Bye, IMF !".
>
> Seperti telah diduga semula, belum-belum NTT minta merdeka.
Langganan...,
> kata seseorang. Apa hubungannya dengan kepala orang NTT ? .
"Tidak bisa
> diterima!" kata pak Kromo ketus," ini urusan intern orang Jawa,
yang lain
> lebih baik bungkam saja!". " Kenapa cemburu dengan soal budaya
lain suku ?"
> . " Apa mereka tidak paham soal ruang-publik?" balas mister
Ballunk Krinjk,
> " Kalau naik oplet jangan merokok dan mengeluarkan anggota badan
!". " UUD
> kok mau di campur-campur blangkon?"
>
> Sebetulnya kalau orang NTT atau orang-orang yang sudah kadung
nek pada orang
> Jawa mau tenang sedikit. Mau bijaksana, amandemen yang diusulkan
bakal sulit
> lolos. Bayangkan saja, usulan memakai blangkon oleh para fanatik
Jawa agak
> kebablasan. Kaum wanita dan anak-anak tidak luput dari sasaran
kewajiban
> memakai blangkon itu ! Bayangkan reaksi mantan Menteri Sosial
Mien Sugandhi:
> " Dug-dag-dug...geludug..." ..., Permadi pun bisa mencelat
kehabisan oksigen
> ...! Pasti gagal. Tapi rasa sebel melihat Jilbab..., eh salah !,
sebel
> melihat Jowo kok bisa mengalahkan kesabaran dan kebeningan dan
> persaudaran... Mestinya soal Suharto Jowo adalah soal yang tidak
ada
> urusannya dengan itu semua.. Orang Jawa seharusnya dibiarkan
untuk berantem
> sendiri. Sadis , tapi adil. Ya, tho!? Ya, tho!?
>
> Tapi amandemen Jowo tersebut bakal lewat. Amandemen tersebut,
seperti
> amandemen tahun yang lalu, cuma memperkaya
democratic-excercises para
> anggota perwakilan kita.......
>
> Wassalam
> Abdullah Hasan.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send instant messages & get email alerts with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com/
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!