Bung ac
Tulisan sebelumnya saya ambil dari salah satu rubrik dalam webster e-comers
yang di tulis oleh gita. Harapan saya hal ini dapat kita diskusikan akar
masalah
dari "ketakutan-ketakutan" pemerintah tentang diberlakukannya bisnis
multimedia ini.

Kalau anda menanyakan tanggapan saya sendiri seperti ini;
dasar pemikirannya mungkin;
1. Ketakuatan akannya masuknya idiologi/propaganda asing yang
   lebih tepat menurut saya adalah ketakutan ekonomi/persaingan.
2. Masuknya kepentingan asing lewat bisnis pers dan eksploitasi sumber
dayannya.
3. Ketakutan-ketakutan yang berbau idiologi Nasionalistik (asal jangan
sampai buta)

Jawaban saya;
1. Saya sudah mengamati dan memanfaati media multimedia sejak tahun 1994.
   Saya tahu benar bahwa media Internet ini mempunyai arti yang sangat
siknifikan
   bagi perubahan. Ketika semua orang takut melawan Soeharto (yang pada
waktu itu
   hanya dilakukan oleh segelitir orang misalnya; dari PRD, Pijar dll,
sebagian lagi orang
   takut akibat selalu gagalnya gerakan pro-demokrasi/mahasiswa sejak tahun
70-an)
   ketika munculnya internet orang berlomba-lomba bersuara malah mencaci
maki rezim
   orde baru (biar dibilang keren). Kemudian bagi kelas menengah yang selalu
mengingini
   hal baru dalam bentuk teknologi menemukan pencerahan, menemukan
kemerdekaan dalam
   bentuk yang maya di internet ini. Akibatanya diskusi menjadi komoditi,
dan mengubah
   watak orang yang takut jadi berani, yang tidak mau berbicara jadi banyak
bicara dll.
   Tanpa disadari kekuatan demokratis, yang sudah biasanya dilakukan oleh
akar rumput
   dan rakyat kecil, sekarang juga disuarakan oleh sebagian besar kelas
menengah, yang
   pada akhirnya menghancurkan tembok yang besar dari rezim otoriter ini.
Hal ini pula yang
   terjadi pada Tembok Jerman (bersatu), Uni sovyet dll.
2. Dari hal inilah sebuah teknologi, dapat memenangkan sebuah kepentingan
apapun namanya.
   Pada pertemuan partai-partai sosialis dan sosialis demokrat Eropa dalam
mencegah
   Masuknya hantu Neo-kolonialisme (kapitalisme Global) menyatakan,
kehebatan dari
   kapitalisme atau kemenangan Amerika terhadap Uni Sovyet, tidak seperti
yang dikatakan
   banyak orang tetapi karena kekalahan uni Sovyet terhadap pemanfaatan
teknologi. Sehingga
   tiori propaganda yang dibuat oleh kalangan Komunis ini diserap oleh
kapitalis ini menjadi
   komoditi, dalam bentuk iklan dan banyak lagi yang menyebabkan orang
bermimpi. Hal inilah
   yang tidak dapat diberikan oleh kalangan komunis Uni Sovyet pada saat itu
(ucapan salah
   seorang tokoh partai Sosial Demokrat). Dari hasil pertemuan kompromi
tersebut kemudian
   didapati jalan tengah dengan dibentuknya mata uang bersama EURO. Ya, bisa
dikatakan
   kemenangan kalangan kiri moderat di eropa yang telah maju, bagaimana
dengan Indonesia?
3. Satu lagi data yang ingin saya sampaikan disini. Bahwa penemu teknologi
multimedia
   adalah agen CIA yang pada saat itu (perang dingin) sangat bermanfaat.
Akibat bocor maka
   media ini kemudia dipublikasikan. Teknologi maya Unisovyet sampai saat
ini tidak dapat
   di tembus dan dianggap subversif dan sangat klasik program tersebut
dinamakan PGP. di
   beberapa negara program ini dilarang dan dianggap subversip.
4. Data lainnya teknologi ruang angkasa Uni sovyet pertama yang melakukan
tetapi kemudian
   disusul oleh Amerika, dalam bentuk yang lebih mederen.
5. Anda pasti tahu tentang milis [EMAIL PROTECTED], sekarang sudah komersil
karena berjuta
   peminatnya, dan uang kitapun lari ke luar negeri. Kenapa takut dengan
dibukanya di
   Indonesia dan membuka pasar lewat kegiatan abstrak dan tidak mayoritas
peminatnya.

Nah dari dasar-dasar diatas, kita melihat betapa berpengaruhnya sebuah
teknologi tersebut.
Kemudian apalangkah kita, saya pikir ketika gus dur (menandatangani) ia
berfikir skeptis.
Padahal ia, bisa memanfaatkan teknologi ini untuk melakukan lobi langsung
dengan pemerintah
asing, ketimbang memngunakan pesawat terbang.

Saya dengar dari beberapa rekan wartawan yang takut tentang nasibnya bekerja
di media e-comers karena ancaman pasal tersebut, tetapi berita tersebut ada
kabar bahwa diralat kembali dan modal asing sudah dapat membantu SDM kita
yang masih lemah dalam bidang ini. Jika ada data tentang ini tolong diberi
tahu.

Dari hal positif dan negatif, pasti ada untung dan rugi ada kepentingan dan
saling memanfaati. Gus dur piawai dalam hal yang terakhir. Kenapa tidak kita
manfaati uang mereka
untuk memperkerjakan dan menjalankan teknologi sambil mencuri ilmunya di
negeri sendiri.
Itulah seharusnya yang di pikirkan. Kedua kenapa takut idiologi asing masuk
jika seluruh
pekerjanya adalah orang Indonesia. Jepang ingin maju harus merebutnya dari
Amerika, kita
di suguhkan didalam negeri di tolak.

Kadang-kadang saya berfikir pemerintah ini lucu? yang seharusnya tidak
diusut, diusut dan
diurusi, yang besar  tidak dibicarakan. Orang ramai sekarang bicara tentang
korupsi.
Tetapi lupa tentang isu kemanusianan HAM, lupa pada pembantaian 1965, Lupa
pada pembantaian
Aceh, Papua, Ambon, Lampung, Priuk, 27 Juli, lupa pada korban penculikan.
Lupa bahwa jurang antara si kaya dan simiskin masih lebar seperti tinjauan
seorang warga asing yang di tulis dalam milis Indonesia@millis.

Tentang otonomi daerah dan pemerataan pusat dan daerah. Tentang bahaya Neo
Kolonialisme AFTA, NAFTA, APEC dan kesiapan SDM dalam menghadapi ini semua
dan sistem apa yang akan mengaturnya? hal ini yang seharusnya dijawab oleh
pemimpin bangsa selain mengadili Soeharto yang hanya tuntutan KKN saja,
tidak tangung jawab dalam pelangaran HAM, padahal seperti yang diucapkan
seorang pengamat dalam sebuah seminar yang di biayai oleh Stiawan Jodi
tentang tema kleptokrat, mengungkapkan semua orang bicara tentang
kleptokrat, padahal semua pembicara yang hadir adalah kleptokrat jadi lucu.
Tidak ada kemauan dari para "kleptokrat" untuk menurunkan mata uang. Karena
otomatis akan merugikan bisnis mereka di negara asing. Akibat ulah
kleptokrat dan politisi ekonomi inilah yang menyebabkan dollar menguat, apa
itu bisa di katakan hanya karena ulah e-comers semata?

Saya pernah menjadi pemandu asing (waktu kuliah), dia dua orang putri yang
bekerja sebagai buruh pabrik dinegerinya. Saya ajak berputar-putar
dipemukiman kumuh dan pemukiman buruh Indonesia. Saya ajak ia bicara dengan
anak-anak pekerja dilokasi yang seadanya, ia memandangi dengan seksama para
pekerja dan anak-anak yang dapat bergembira dan bernyanyi (dangdutan)
Sebentar-sebentar ia mengelengkan kepala, dan berdecak kagum (bukan gembira
tetapi heran).

Lalu saya bertanya bagaimana Tunjangan Hidup dinegerinya, ia menjawab
minimal kami bisa
memiliki flet dan tunjang lainnya, hingga tunjangan rekreasi yang bisa
membawa saya ke
Bali dan Jakarta ini. Lalu kemudian ia menjawab lagi, tetapi aneh ya di
Indonesia
mereka bisa menikmati situasi yang kotor dan jauh dibawah kehidupan orang
normal, ia seakan
gembira, jika dinegeri kami mungkin sudah berontak. Lalu saya menjawab, ya,
itulah akibat sistem tanpa ingin memperpanjang diskusi.

Seorang lagi dari turis itu sakit perut karena tidak terbiasa minum air
tanah dari lokasi
yang terpolusi limbah pabrik tersebut. Seterusnya botol air mineral yang dia
bawa kemana-mana, dan menolak disuguhi minum oleh para pekerja kita di
pemukiman tersebut.

M.Mashuri Alif

>Pak Mashuri,
>Saya termasuk yang gembira dengan maraknya bisnis informasi
>termasuk internet saat ini, sehingga saya dapat merasakan semakin
>bebas dan gampangnya untuk mendapatkan informasi, bahkan transaksi
>bisnispun sekarang kita bisa lebih mudah dengan menggunakan
>internet.
>Tetapi yang membuat saya belum mengerti adalah bahwa membatasi
>investor dibidang jasa informasi (multimedia) berarti membatasi
>kebebasan informasi.
>Bukankah dengan investor domestik pun arus informasi masih tetap
>bebas? yang dibatasi arus informasinya atau investornya? dan
>bukankah peraturan ini justru memberi peluang yang bagus bagi para
>pemilik modal domestik?
>Mohon pencerahannya.


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke