kemarin, ustadz jawa saya mendapat tanggapan keras
dari sparing-diskusinya, ustadz-jepang, gara-gara beliau
menyatakan bahwa perbedaan itu adalah rahmat.
kemudian beliau beri imbuhan, berdiskusi sih boleh asal
tanpa dihiasi oleh "pemaksaan kehendak" yang maksudnya
tetap bersikukuh bahwa pendapat pribadinya yang paling
benar. tanggapan itu kira-kira begini:
"tergantung siapa yang berbeda pendapat. kalau
perbedaan itu antara ustadz RH Oma Irama dan
ustadz Zainudin MZ, mending (sengaja diplesetkan
ke tokoh nasional lho, aslinya nggak gitu), tapi
kalau perbedaan pendapat itu antara tukang rumput
IPB (maksudnya pekerja di fakultas peternakan IPB,
barangkali, soalnya sak jeg-jumbleg IPB nggak punya
tukang rumput) dengan seorang professor IPB yang
ahli gizi makanan ternak membicarakan masalah rumput
yang baik dan benar untuk pakan sapi, ya konyol!"
(ini juga telah diplintir sekenanya, lha nggak apal kok)
nah di sini saya mencoba mengampil peran sebagai
tukang rumput saja lah. yang dianggap nggak tahu
ilmu gizi makanan ternak (dalam hal ini metodology
atau apa saja yang berkenaan dengan foto GD-Ar dan
segala cerita ikutannya). yang saya tahu, sapi-sapi itu akan
lebih senang makan rumput segar nan hijau dibanding
sebongkah silase yang telah diperkaya. sementara
sang professor ahli gizi makanan ternak mungkin akan
memberikan silase diperkaya untuk sapi-sapi itu, tidak
peduli dari mana asalnya bahan silase. apalagi bila musim
kemarau serba panas berkepanjangan.
dan si tukang rumput, karena tahunya sebatas
"sapi suka rumput hijau segar" ya berusaha mencari
daerah sabitan yang kira-kira ada rumput hijaunya.
bilamana musim demikian kering, hasilnya ya bingunglah
si tukang rumput.
demikian pula halnya tentang demokrasi.dengan pemahaman
ala tukang rumput, maka demokrasi itu bagi saya
ya merupakan suatu bentuk pengelolaan negara
yang mendasarkan pada kedaulatan rakyat. sehingga
bila pemegang daulat rakyat itu mulai tidak mewakili
rakyat, ya bingung pula jadinya si tukang rumput. ter-
lebih lagi, bila demokrasi lebih ditekankan kepada
kebebasan berpendapat, tetapi tidak diimbangi
dengan sikap "legawa" mengakui pendapat yang lain.
yang akhirnya pembicaraan menjadi ke arah berebut
kebenaran, bingung pula si tukang rumput. lha tukang
rumput itu pengalamannya hanya sebatas ikutan
rembug-desa kok. suatu rembugan yang kadang-2
keputusan peserta rembug desa terpaksa mengalah
demi keamanan dan kehormatan pak lurah di mata
pak camat.
sementara itu sapi-sapi tanggung jawab-nya mulai
melenguh kelaparan dan cenderung saling sundhang...
rumpuuut... rumpuut.... kapan mulai menghijau?
salam,
soeloyo
---------
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!