>From: "mBah Soelojo" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] TIORI JOWO.
>Date: Tue, 5 Sep 2000 15:04:44 +0900
>
>kemarin, ustadz jawa saya mendapat tanggapan keras
>dari sparing-diskusinya, ustadz-jepang, gara-gara beliau
>menyatakan bahwa perbedaan itu adalah rahmat.
>kemudian beliau beri imbuhan, berdiskusi sih boleh asal
>tanpa dihiasi oleh "pemaksaan kehendak" yang maksudnya
>tetap bersikukuh bahwa pendapat pribadinya yang paling
>benar. tanggapan itu kira-kira begini:
>"tergantung siapa yang berbeda pendapat. kalau
>perbedaan itu antara ustadz RH Oma Irama dan
>ustadz Zainudin MZ, mending (sengaja diplesetkan
>ke tokoh nasional lho, aslinya nggak gitu), tapi
>kalau perbedaan pendapat itu antara tukang rumput
>IPB (maksudnya pekerja di fakultas peternakan IPB,
>barangkali, soalnya sak jeg-jumbleg IPB nggak punya
>tukang rumput) dengan seorang professor IPB yang
>ahli gizi makanan ternak membicarakan masalah rumput
>yang baik dan benar untuk pakan sapi, ya konyol!"
>(ini juga telah diplintir sekenanya, lha nggak apal kok)
>
>nah di sini saya mencoba mengampil peran sebagai
>tukang rumput saja lah. yang dianggap nggak tahu
>ilmu gizi makanan ternak (dalam hal ini metodology
>atau apa saja yang berkenaan dengan foto GD-Ar dan
>segala cerita ikutannya). yang saya tahu, sapi-sapi itu akan
>lebih senang makan rumput segar nan hijau dibanding
>sebongkah silase yang telah diperkaya. sementara
>sang professor ahli gizi makanan ternak mungkin akan
>memberikan silase diperkaya untuk sapi-sapi itu, tidak
>peduli dari mana asalnya bahan silase. apalagi bila musim
>kemarau serba panas berkepanjangan.
>
>dan si tukang rumput, karena tahunya sebatas
>"sapi suka rumput hijau segar" ya berusaha mencari
>daerah sabitan yang kira-kira ada rumput hijaunya.
>bilamana musim demikian kering, hasilnya ya bingunglah
>si tukang rumput.
>
>demikian pula halnya tentang demokrasi.dengan pemahaman
>ala tukang rumput, maka demokrasi itu bagi saya
>ya merupakan suatu bentuk pengelolaan negara
>yang mendasarkan pada kedaulatan rakyat. sehingga
>bila pemegang daulat rakyat itu mulai tidak mewakili
>rakyat, ya bingung pula jadinya si tukang rumput. ter-
>lebih lagi, bila demokrasi lebih ditekankan kepada
>kebebasan berpendapat, tetapi tidak diimbangi
>dengan sikap "legawa" mengakui pendapat yang lain.
>yang akhirnya pembicaraan menjadi ke arah berebut
>kebenaran, bingung pula si tukang rumput. lha tukang
>rumput itu pengalamannya hanya sebatas ikutan
>rembug-desa kok. suatu rembugan yang kadang-2
>keputusan peserta rembug desa terpaksa mengalah
>demi keamanan dan kehormatan pak lurah di mata
>pak camat.
>
>sementara itu sapi-sapi tanggung jawab-nya mulai
>melenguh kelaparan dan cenderung saling sundhang...
>rumpuuut... rumpuut.... kapan mulai menghijau?
>
>salam,
>
>soeloyo
>---------
-------------------
Dan 'Yogya... lagi' yang maksudnya juga 'Yogya ... maneh', utawa 'lha kok
bola-bali Yogya, ya...' tetap akan menjadi misteri rumput, bagi sapi, karena
cuma sapi-sapi saja yang memahami makna 'Yogya lagi...' tersebut. Buat
klabang, jelas mana tahu soal rumput. Bukan begitu, pak Mbah?
_________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.
Share information about yourself, create your own public profile at
http://profiles.msn.com.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!