-----Original Message-----
     From: Ra Penak [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]

     Menilai Soekarno dan oeharto salah, karena memang ia melakukan
     kesalahan.
     Pun kalau menilai AR salah, karena memang AR salah. Bukan
     karena seperti
     konstatasi yang dibuat, 'GD salah (kok) AR diomongin'. Mari
     kita omongin GD,
     karena GD salah. Pun, mari kita omongin AR, karena AR salah.
     Dan, penilaian
     salah atau tidak, kayaknya rada subyektif. Biarin saja orang
     menilai GD atau
     AR salah. Kita bisa memilih salah satu, atau dua-duanya,
     sekaligus.

Kalimat 'GD salah (kok) AR diomongin' itu pada dasarnya berangkat dari
lebih seringnya AR diomongin daripada GD (khususnya disini), sehingga
seolah2x menimbulkan opini, sekali lagi, negara ini nggak baik2x karena
AR "nggangguin" GD terus. Ini saya kira nggak benar. AR boleh saja
mengancam pakai SI dan sidang tahunan dlsb, kalau GD hasil kerjanya
benar, trus AR bisa apa? MPR bisa apa? Kenyataannya kan GD nggak/ kurang
benar kerjanya sehingga memberi kesempatan untuk di ancam2x terus.

Simple saja, kalau kerja saya (presiden) bagus, biar atasan saya (mpr)
usil setengah mati, kan tetap bisa saya lapor ke hirarki yang diatasnya
lagi (rakyat), ini lho hasil kerja saya. Yang ada kan kerja saya nggak
bener, atasan saya tambah usil, dan perusahaan dirugikan terus. Tapi
karena satu dan lain hal (entah pinternya saya, atau begonya atasan usil
saya ...), atasan saya yang usil itu lah yang disalahkan.

Mengenai orang mau ngomongin yang mana, memang sih, apa salahnya
ngomongin AR aja? Jangan2x itu strateginya AR juga biar lebih populer
...;-)





Kirim email ke