Tahun 1990, aku mulai mendiami rumah ini. Sepasang RSS tipe 21 pada suatu kompleks perumahan yang dibangun di atas lahan bekas sawah. Bawaan lahan bekas sawah yang dikeringkan adalah suasana terik yang menyengat. Apalagi pepohonan asli seperti pelang, kihujan, kaliandra, asem kranji dan beberapa keluarga dadap-dadapan dibersihkan demi kelancaran pengukuran dan pemetaan, maksudnya lahan dibuat petak-petak. Dengan suasana begitu, meski aku tinggal di wilayah BOGOR yang dahulu dikenal sebagai kota hujan, itupun lokasinya jauh di pedalaman, suasana siang hari sangat terik, gerah dan gersang. Tak ada lagi minat keluar rumah di hari-hari libur (Sabtu atau Minggu) di siang hari selepas pasar bubar (jam 10:00) meski hanya ngobrol ke tetangga sebelah. Ketambahan lagi, lokasi depan rumahku (saat itu) direncanakan untuk lapangan bermain anak-anak. Oleh karena itu, dengan nalar sederhana aku bermaksud menanam tanaman yang cepat besar, selalu hijau dan cenderung merindang tajuknya. Kebetulan ada oleh-2 dari kakak Lengkeng Batu dari Ambarawa, maka beberapa bijinya aku semai. Aku pun sempat membawa beberapa buah mangga Kepodang dari Banyuwangi yang mungil dan kuning kemerahan. Yakin akan kebagusan tajuk mangga yag kokoh dan bongsor, maka aku semai beberapa bijinya. Dari kedua jenis tanaman "buah" itu kupilih masing-masing satu bibit yang kelihatannya akan menghasilkan tajuk yang seimbang dan rimbun. Aku tanam terpisah, si Lengkeng di sisi kiri dan Mangga di sisi kanan rumah couple-ku. Bibit mangga harus aku brongsong tinggi dengan keranjang arang, karena masih banyak anjing tetangga desa yang berkeliaran. Si Lengkeng tidak perlu, karena rupanya kambing-2 kampung itu tidak doyan pupusnya. Sekarang genap 10 tahun umur kedua pohon itu. Dua pohon bongsor serba hijau yang memang kutanam untuk menciptakan suasana teduh, rindang dan menye- garkan paru-paru di tengah kehidupan kompleks peru- mahan yang cenderung konsumtif. Hebatnya Lengkeng itu dengan kerindangan tajuknya telah mematikan Lamtoro kampung dan Pinang merah yang dulu harganya puluhan ribu rupiah. Aku harus rela tidak lagi merasakan masakan Bothok Lamtoro, karena lamtoro kampungku telah almarhumah. Sedang si Mangga, tajuknya yang rindang dan kokoh mampu menopang buah-2 mangga yang lebat. Sangat menggembirakan, walaupun untuk 3 tahun musim berbuahnya, baru kali ini aku sempat merasakan kesegaran buah ranumnya. Ketika aku pulang kampung, kondisi rumah harus dipugar. Termasuk halaman rumah yang hanya 12m X 4m itu. Pak RT mampir dan wanti-2 agar si Mangga Kepodang tidak ditebang. Alasannya telah terbukti dapat berbuah lebat. Selain itu, katanya, gara-gara aku menanam mangga dan dapat berbuah lebat, sekarang banyak rumah-rumah te- tangga ikutan menanam mangga. Sedang Lengkeng, Pak RT menganjurkan untuk ditebang saja. Katanya, selain tidak mampu berbuah, juga daun-2 keringnya hanya mengotori jalan dan mangganggu rumah tetangga. [Padahal kenyataannya sebaliknya. Sampah daun mangga jelas lebih banyak. Tajuk mangga juga lebih lebar dan mencapai genting tetangga]. Sementara, bila ku ingat tujuan pertama bertanam kedua bibit pohon yang sekarang bongsor dan rindang itu adalah untuk menciptakan suasana sejuk, rindang dan "ayom". Kenapa harus buah yang sekarang dituntut? Ah, maafkan pohon Lengkeng-ku. Engkau harus rela ku tebang, karena kau tidak menunjukkan gejala berbuah, walaupun kau lebih menyejukkan, lebih bersih dan lebih artistik dibanding saudaramu si Mangga Kepodang. Salah mu tidak mampu memikat perhatian Pak RT. Fukuoka Kitaro ---------------------- MOSOK NDHAK MAMPU? ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com

Kirim email ke