PDI-Perjuangan tidak realistis

Salah satu tujuan saya mencoblos gambar partai ini,
dan itu pula yang saya himbaukan kepada istri dan
ketiga anakku (entah-entah, meraka akhirnya mencoblos
apa, saya tidak tahu), adalah ingin mengalahkan
Golkar, melalui sebuah partai yang jenis kelaminnya
tidak saya ragukan. Pasti, komitmen nasionalisnya
kuat, itu pikir saya waktu itu.

Alhamdulilah, perolehan suara partai ini sangat
lumayan, bahkan nomor satu pula. Golkar lewat sudah.
Maka giliran harapan berikutnya muncul di hati saya,
bahwa partai ini bisa memimpin negeri ini, baik lewat
ketua umumnya, Megawati, yang jadi presiden, dan
mayoritas anggota PDI-Perjuangan di kawasan
legislasinya. Jika dua sayap ini berjalan seiring, dan
bahu-membahu, saling memberikan masukan demi kebaikan
bangsa yang positip, bukan macam duet Golkar dan
Pemerintah Soeharto dulu, maka saya punya harapan,
kemelut bangsa ini akan gampang diurai, dan bisa
sampai di ujung dengan selamat.

Sayang, harapan boleh tinggi, tapi kenyataan bisa
menunjukkan hasil lain. Sukses menghasilkan jumlah
suara yang besar pada pemilu tak serta-merta
menghasilkan sosok-sosok yang sesuai harapan yang
kemudian duduk di lembaga legislasi, DPR dan MPR,
serta pula di DPRD. Alih-alih menang pemilu yang
diharap mampu mengantarkan kita kepada bagaimana
sebuah penyelenggaraan yang benar terhadap negeri ini,
yang terjadi adalah 'kaget politik' dan 'mabuk menang
pemilu' belaka.

Meski Gus Dur sendiri bilang, bahwa 'karena
PDI-Perjuangan meraup kemenangan pemilu, maka wajar
kalau Megawati jadi presiden', toh kenyatana
membuktikan, bahwa ada aliansi lain di luar kelompok
PDI-Perjuangan yang berhasil membulan-bulani keinginan
warga arus bawah PDI-Perjuangan yang menghendaki
Megawati jadi presiden, kandas. Untung, yang terpiluh
adalah Gus Dur, yang melalui tekak-tekuk politiknya,
masih mampu mengangkat Megawati jadi RI-2. Bisa
dibayangkan, kalau manuver poros-gabungan itu tidak
mengangkat Gus Dur, tetapi yang lain?

Bukti menunjukkan, bahwa konstelasi politik di DPR,
MPR, sudah mampu membuat si pemenang pemilu,
PDI-Perjuangan menderita malu besar, yaitu dengan
membuat jago capres PDI-Perjuangan gagal menuai hasil.
Karena proses pemilihan wapres juga dilakukan dengan
cara serupa, jika bukan karena adanya sedikit
campurtangan Gus Dur, saya yakin betul, sekedar
wapres-pun, jangankan jabatan presiden, pasti gagal
pula diraih oleh PDI-Perjuangan.

Mestinya PDI-Perjuangan realistis. Itulah bagian lain
dari simpul-simpul politik yang sulit ditebak.
Mestinya segera pula PDI-Perjuangan mengkaji apa yang
terjadi saat itu, untuk dirumuskan menjadi
bagian-bagian dari strategi pemenangan pemilu
berikutnya, dan sekaligus memenangkan perebutan posisi
pimpinan negeri ini.

Tetapi itu bahkan sama sekali tidak dilakukan.
Sebagian para politisi PDI-Perjuangan, lebih-lebih
mereka kelompok Geng Koboi, lebih mengarahkan
kemarahan mereka kepada sosok Gus Dur. Pikiran cupet
mereka lebih melihat satu adegan dari fragmen politik,
yaitu 'Gus Dur, dengan dukungan suara PKB yang cuma
sebegitu, telah mengalahkan Megawati'. Model-model
Anung, adalah contoh anggota legislatif PDI-Perjuangan
yang tak realistis. Hanya ada satu bayangan yang
selalu berada di otaknya 'seharusnya yang jadi
presiden itu dari PDI-Perjuangan'. Padahal, kalau saja
poros-gabungan yang mendudukkan Gus Dur berpikir
konsisten 'asal bukan Mega', meski entah akan bagimana
trade-off yang akan terjadi di akar rumput, sudah
pasti posisi RI-2 juga akan luput. Jika sampai saat
ini poros-gabungan itu begitu vulgar memamerkan jasa
mengangkat Gus Dur, mereka juga tak salah kalau pun
dengan sombong mengatakan 'Megawati jadi RI-2, karena
por-gab tak ngotot'. Ya, semacam ungkapan belas
kasihan, begitulah.

Kini kenyataan sudah ada di depan mata. Mestinya
orang-orang PDI-Perjuangan juga realistis. Banyak
daerah, di mana orang PDI-Perjuangan yang duduk di
DPRD pun cukup dominan, toh gagal meraih jabatan
gubernur, bupati atau walikota. Pasalnya, bukan karena
melawan poros-non-PDI-Perjuangan, tetapi justru suara
PDI-Perjuangan pecah karena money-politics.

Kenyataan, RI-1 dipegang Gus Dur, dan RI-2 dipegang
Megawati. Gus Dur menang bukan karena mengalahkan
Megawati. Tetapi karena ada sponsor
asal-bukan-Megawati yang membuatnya demikian. Kalau
mau marah, jangan sama Gus Dur, tetapi lakukan
kalkulasi pintar terhadap poros-gabungan tadi.

Karena yang jadi RI-1 adalah Gus Dur, sebaiknya
PDI-Perjuangan segera membangun aliansi strategis
dengan pendukung Gus Dur, bisa disebut yaitu PKB,
untuk memainkan harmoni eksekutif dan legislatif, yang
mampu menyelesaikan agenda reformasi sesegera mungkin.

Sayang sekali, lebih banyak nada-nada minor yang
keluar dari mulut anggota PDI-Perjuangan, yang
kemudian jadi makanan empuk kalangan pers. Suara minor
itu, yang maksud hati ingin ditujukan kepada Gus Dur
seorang, justru menjadi limbah politik yang meluber ke
mana-mana. Agenda reformasi tersendat, jalan di
tempat, persoalan ekonomi semakin menyeret ke arah
kebangkrutan, pun demikian aspek hukum, demokrasi, dan
segudang problem kebangsaan lain.

Satu hal yang saya tak bisa mengerti akan sikap para
anggota legislatif PDI-Perjuangan ini, bahwa apa yang
sudah mereka lakukan sedikit banyak telah
mendeskreditkan pemerintah, di mana salah satu
pimpinannya adalah boss mereka sendiri, yang
digadang-gadang bisa menjadi RI-1 di masa depan.
Mempermalukan Gus Dur bisa saja dilakukan, tetapi
getahnya mengena di sosok Dwi-Tunggal, Gus Dur dan
Megawati. Jika sudah begini, apa ini justru tak
membuka peluang pemantapan kembali Orde Baru? Sekarang
saja Golkar berada di posisi runner-up? Sementara
kroni Golkar tak sedikit bersembunyi di partai lain?

Realitislah, PDI-Perjuangan !

=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Photos - Share your holiday photos online!
http://photos.yahoo.com/

................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke