Rasanya tak terlalu jauh latar belakang pencoblosan
PDI-P Sampeyan dengan saya, Cak GN. Hanya beda
nuansa. Saya justru mengajak orang-orang yang agak
berpendidikan, untuk menolong rakyat negeri ini dengan
berbondong-bondong memback-up PDI-P karena,
saya sadar betul akan simpatisan partai ini yang
di akar rumput. Orang jalanan, anak terminal, gali,
makelar hingga gelandangan dan kaum tersisih, mencoba
mengubah negeri ini melalui partai SAPI betina ini.
Dalam pikiran saya (waktu itu) seandainya partai ini
memenangi pemilu, maka SDM jongkok itulah yang
akan mengendalikan bahtera negeri. Itu yang seharusnya
dicermati oleh para pemerhati dan pengasih akar rumput.
Semasa satu tujuan untuk menggulung PGolkar, yang
memplekotho akar rumput dengan se-setel kaos kuning.
Namun, saya malah kena tuah, tidak membela agama,
kata sementara orang.
Padahal, dalam hati telah mereka-reka, mengapa kaum
kumuh bodoh itu mau bernaung di partai sapi itu? Tak
lain, karena semasa orba, mungkin, merasa kurang pantas
bila harus bernaung di depan ka'bah. Atau sementara
orang masih trauma denga DI/TII. Sehingga partai-partai
berlandaskan agama sangat mereka takuti. Setidaknya
salah satu partai agama pernah dilarang. Partai sosialisme?
kiranya mereka juga trauma karena partai demikian juga
pernah dilarang. Malah sosialis keras PKI, sempat menjadi
musuh nasional selama Orba, dan menjadi penghianat
negara pada awal umur republik.
Dan apa daya, Cak GN, bahwa di dalam PDI-P masih
didominasi orang-orang pengandal massa. Yang cenderung
mementingkan KEKUASAAN dibanding kepamongan.
Dan sayangnya lagi, orang-orang demikian ini pamrihnya
segera kelihatan tujuan itu (maksudnya kekuasaan).
Dasar mereka mungkin sepele. Dengan berkuasa akan
menguasai pula fasilitas hidup!
[saya dengar-2 kabar hal inilah yang diemohi oleh para
cendekiawan "lumayan" untuk bergabung. Akibatnya
partai tak lagi mampu menseleksi anggota-anggota geng
koboi, para anak indekos dsb. apa boleh buat]
Wajar bila di Semarang ketua DPP mengeluh sambil
berlinang dalam pidatonya: "Saya harus berbuat apa,
bila kader-kader saya saling cakar-cakaran?"
Padahal dia pernah berujar "Ribuan karang
menghadang Kapal Republik Indonesia, dan saya sanggup
membawa kapal ini menempuh karang itu"
Akibatnya, seperti sekarang lah. Angkatan muda tidak
mampu menggeser angkatan tua. Bahkan kemasukan
duri kemanduh. Padahal tinggal PDI-P ini (dan mungkin
PKB) yang lebih mementingkan nasionalisme dibanding
azas-2 lain, sebagai lawan PGolkar.
Fukuoka Kitaro
----------------------
MOSOK NDHAK MAMPU?
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com