From: "Wibisono Sukanto" <[EMAIL PROTECTED]>
Saya jadi ingin numpang ken...eh...nanya nih...Terutama untuk bung Abdullah
Hasan...
...Sekarang, apa sih yang diharapkan pasca SI ? Pasca rezim Gus Dur kalau
pun dia dijatuhkan ? Apa ?
Punya rencana lebih baik ? Punya rencana yang lebih jelas ? Matang ? Tidak
membodohi rakyat ?
...Saya jadi khawatir, kalau tangisan yang ada sekarang adalah tak lebih
daripada tangisan sekedar pemain bola yang mencetak gol ke gawang lawan.
.....
===============================================
Pak Sukanto,
Ha,ha,ha...Curang nih, saya yang nanya duluan bagaimana jalan keluarnya,
sekarang malah ditodong dengan pertanyaan sulit.Sebaiknya kita patungan
jawaban saja, ya ? Saya yang mulai boleh juga, deh..!
Begini. Dengan sederhana, negara demokrasi adalah negara dimana pemimpinnya
dipilih oleh rakyat. Bisa langsung , bisa lewat perwakilan. Bukan seperti
Raja yang turun-temurun, bukan seperti diktator yang meungkin mendapatkan
kekuasaannya lewat pemaksaan, kekerasan, kudeta,dsb.
Siapa yang dipilih untuk memimpin ? Biasanya ada beberapa orang yang
bersedia jadi pemimpin. Lewat berbagai cara, singkat kata , lewat kampanye
mereka mengiklankan dirinya. Apa yang akan dilakukannya bila kelak dia akan
memimpin negeri. Sebagian akan percaya sebagian tidak. Diujilah lewat
pemilu, mana yang mendapat paling banyak ( sekali lagi, bisa langsung, bisa
tidak, seperti MPR itu ). Ketika terpilih, pemimpin tidak bisa dipercaya
begitu saja. Dia diminta janjinya atau sumpahnya. Tidak bisa dipercaya
begitu saja, pemimpin di dampingi lembaga kontrol yang akan menjadi
watch-dog. Baik dari segi kepemimpinan maupun kontrol finansiil. Dan
sebagainya dan sebagainya.
Apakah mungkin pemimpin ingkar janji atau ternyata memble alias tidak mampu
memimpin negara? Logis saja. Sudah terang amat mungkin.Bagaimana kalau
pemimpin melenceng di tengah jalan ? Maka dilengkapilah negara demokrasi
dengan berbagai perangkat. Di Amerika ada yang namanya Impeachment, di Cina
ada yang namanya Quang Cieng. Di India namanya Kuch Kuch Kutahay. Di Cuba
Komunis : Rally Kentut. Di negeri kita , Memorandum.
Kalau ternyata perangkat Kooch Kooch Kutahay berhasil melengserkan
pemerintahan memble dan ngawur lantas bagaimana ? Apakah kita jadi bingung,
sedih, dan tidak tahu apa yang akan kita lakukan lagi ? Apakah kita merasa
ditipu oleh Kuch Kuch ? . Nehi..! Nehi..! Jangan ! jangan ! Tentunya akan
kita pilih lagi pemimpin baru. Apakah kita jadi tidak berani memilih
pemimpin baru karena kuatir akan terjadi pengalaman salah seperti yang lalu
? . Kalau kita takut salah, bisa bubar suatu organisasi atau negeri.
Pengalaman salah memberikan pelajaran. Apakah ada jaminan kalau salah sekali
, maka kita tidak akan mengalami salah yang kedua ? Anda tentunya bisa
membantu saya dengan jawabannya.
Begitulah demokrasi. Kecuali kalau kapasistas bangsa cuma bangsa budak yang
cuma mau dipimpin oleh Raja. Atau Mbah Sepuh , yang selalu mendiktekan
kemaunnya pada budak-budaknya...
Silahkan dilanjutkan, kan kita mau patungan jawaban........
Wassalam,
Abdullah Hasan.
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--