Pak Hasan, pokoknya harus janji tetap di milis ini ya... Biar
asyik setelah beberapa bulan lagi. Seperti dulu itu lho Pak,
ketika kita eyel-eyelan masalah peristiwa Mei dan jegalan Mega
serta politik cantik....
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, June 01, 2001 10:00 AM
Subject: [Kuli Tinta] KOOCH KOOCH KUTAHAY u/p W. SUKANTO
From: "Wibisono Sukanto" <[EMAIL PROTECTED]>
Saya jadi ingin numpang ken...eh...nanya nih...Terutama untuk bung
Abdullah
Hasan...
...Sekarang, apa sih yang diharapkan pasca SI ? Pasca rezim Gus
Dur kalau
pun dia dijatuhkan ? Apa ?
Punya rencana lebih baik ? Punya rencana yang lebih jelas ? Matang
? Tidak
membodohi rakyat ?
...Saya jadi khawatir, kalau tangisan yang ada sekarang adalah tak
lebih
daripada tangisan sekedar pemain bola yang mencetak gol ke gawang
lawan.
.....
===============================================
Pak Sukanto,
Ha,ha,ha...Curang nih, saya yang nanya duluan bagaimana jalan
keluarnya,
sekarang malah ditodong dengan pertanyaan sulit.Sebaiknya kita
patungan
jawaban saja, ya ? Saya yang mulai boleh juga, deh..!
Begini. Dengan sederhana, negara demokrasi adalah negara dimana
pemimpinnya
dipilih oleh rakyat. Bisa langsung , bisa lewat perwakilan. Bukan
seperti
Raja yang turun-temurun, bukan seperti diktator yang meungkin
mendapatkan
kekuasaannya lewat pemaksaan, kekerasan, kudeta,dsb.
Siapa yang dipilih untuk memimpin ? Biasanya ada beberapa orang
yang
bersedia jadi pemimpin. Lewat berbagai cara, singkat kata , lewat
kampanye
mereka mengiklankan dirinya. Apa yang akan dilakukannya bila kelak
dia akan
memimpin negeri. Sebagian akan percaya sebagian tidak. Diujilah
lewat
pemilu, mana yang mendapat paling banyak ( sekali lagi, bisa
langsung, bisa
tidak, seperti MPR itu ). Ketika terpilih, pemimpin tidak bisa
dipercaya
begitu saja. Dia diminta janjinya atau sumpahnya. Tidak bisa
dipercaya
begitu saja, pemimpin di dampingi lembaga kontrol yang akan
menjadi
watch-dog. Baik dari segi kepemimpinan maupun kontrol finansiil.
Dan
sebagainya dan sebagainya.
Apakah mungkin pemimpin ingkar janji atau ternyata memble alias
tidak mampu
memimpin negara? Logis saja. Sudah terang amat mungkin.Bagaimana
kalau
pemimpin melenceng di tengah jalan ? Maka dilengkapilah negara
demokrasi
dengan berbagai perangkat. Di Amerika ada yang namanya
Impeachment, di Cina
ada yang namanya Quang Cieng. Di India namanya Kuch Kuch Kutahay.
Di Cuba
Komunis : Rally Kentut. Di negeri kita , Memorandum.
Kalau ternyata perangkat Kooch Kooch Kutahay berhasil melengserkan
pemerintahan memble dan ngawur lantas bagaimana ? Apakah kita jadi
bingung,
sedih, dan tidak tahu apa yang akan kita lakukan lagi ? Apakah
kita merasa
ditipu oleh Kuch Kuch ? . Nehi..! Nehi..! Jangan ! jangan !
Tentunya akan
kita pilih lagi pemimpin baru. Apakah kita jadi tidak berani
memilih
pemimpin baru karena kuatir akan terjadi pengalaman salah seperti
yang lalu
? . Kalau kita takut salah, bisa bubar suatu organisasi atau
negeri.
Pengalaman salah memberikan pelajaran. Apakah ada jaminan kalau
salah sekali
, maka kita tidak akan mengalami salah yang kedua ? Anda tentunya
bisa
membantu saya dengan jawabannya.
Begitulah demokrasi. Kecuali kalau kapasistas bangsa cuma bangsa
budak yang
cuma mau dipimpin oleh Raja. Atau Mbah Sepuh , yang selalu
mendiktekan
kemaunnya pada budak-budaknya...
Silahkan dilanjutkan, kan kita mau patungan jawaban........
Wassalam,
Abdullah Hasan.
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--