Witjak yang baik,
Terima kasih atas komentar anda tentang masalah rekayasa genetika. Komentar
seperti ini memberi saya alasan untuk berdiskusi tentang suatu
kecenderungan teknologi dan kapitalisme yang menurut saya memang dapat
menjadi sumber bencana di masa depan. Memang latar belakang pendapat
tersebut belum pernah dibahas melalui milist ini.
Saya akan memulai diskusi ini dengan pardigma yang ada sebutkan, yaitu
bahwa teknologi sebagai pembebas manusia dari ketergantungan terhadap alam.
Bagi saya, bila paradigma ini yang dipakai maka banyak sekali teknologi
yang telah gagal. Sebagai contoh, listrik tenaga nuklir dinyatakan sebagai
upaya untuk mengurangi ketergantungan akan sumber alam (yaitu batu bara
atau minyak bumi) dan tidak mencemari lingkungan. Dalam kenyataan PLTN
menggunakan uranium yang adalah hasil alam dan menyisakan limbah yang jauh
lebih berbahaya daripada limbah PLT batubara ataupun minyak bumi. Ketika
kita menggunakan komputer, onderdil di dalamnya sebagian terdiri dari alat
yang dibuat dari alam (aluminium, kabel dari tembaga, besi, steel dll.).
Bahkan roket ke angkasa luar tidak dapat jalan tanpa hasil alam yaitu bahan
bakar minyak bumi. Apalagi rekayasa genetika yang bahan dasarnya adalah
mahluk hidup yang adalah bagian dari alam. Rekayasa genetika tidak bisa
menjadi industri tanpa keberadaan sekian banyak organisme mikro ataupun
tanpa pengumpulan gen-gen dari alam. Jadi benarkah teknologi canggih yang
saat ini dielu-elukan mengurangi ketergantungan kita pada alam? Atau bahkan
menggunakan produk alam dengan lebih rakus dan membahayakan? Selain itu,
sebagai bagian dari alam, dapatkah manusia terbebas dari ketergantungan
terhadap alam? Bahkan plastik pun (yang sering kita analogikan sebagai
bahan sintentik) sebenarnya dibuat dari hasil sampingan penyulingan/proses
produksi minyak bumi. SElain itu teknologi tidak netral tetapi tergantung
pada kekuasaan politik dan ekonomi sehingga pilihan teknologi sebenarnya
tidak murni "science" tapi kepentingan.
Dalam pandangan saya paradigma teknologi seharusnya adalah yang membebaskan
manusia dan alam dari penindasan dan menjamin pemerataan kesejahteraan;
artinya menggunakan produk alam dengan efisien, tanpa merusak tetapi
bersahabat, dan tidak menyisakan limbah dalam jumlah yang tidak dapat
diserap atau dimurnikan oleh daya dukung alam, serta menjamin terjadinya
demokratisasi antara komponen alam, termasuk manusia.
Tentang rekayasa genetika, anda benar bahwa kita harus melihat kasus per
kasus.Juga benar bahwa mungkin rekayasa genetika mengandung potensi manfaat
yang besar. Tetapi dari segi paradigma ilmu dan lingkungan maka saya
berbeda pendapat. Rekayasa genetika adalah teknologi yang memanipulasi
kehidupan pada intinya yaitu DNA dan Gen. Ketika kita memanipulasi
kehidupan tanpa hati-hati, maka hidup itu akan berbalik bereaksi dan kita
tidak dapat memprediksikan reaksinya akan negatif atau positif. Lalu, ilmu
dasar rekayasa genetika adalah bahwa gen adalah segalanya. Mungkin anda
sudah paham betul ada dua aliran utama pendapat" bahwa gen adalah penentu
kehidupan (artinya orang sakit jantung, kanker, kegemukan, dll. adalah
karena ada gen yang cenderung menimbulkan hal tersebut), ada lagi yang
menyebutkan gen dan lingkungan serta interaksinya yang membentuk kehidupan.
Dasar pertama ini mengandung bahaya bahwa semua persoalan kita selesaikan
dengan gen, bukan melalui penyelesaian sosial yang adalah ciri manusia.
Jadi tindak kriminal dapat dihapuskan bila gen yang cenderung membuat orang
bertindak kriminal kita eliminasi. Kita bisa membuat bayi di laboratorium
yang jenius dalam musik seperti mozart. Ini contoh ekstrim, tetapi inilah
pesan yang disampaikan oleh para praktisi dan perusahaan rekayasa genetika.
Diskusi ini akan panjang, jadi saya mau masuk ke pokok persoalan.
Soal jagung Bt, yang anda katakan juga ada benarnya, Tetapi tidak
sepenuhnya. Sebuah penelitian seorang sarjana dari Cota Rica, menunjukkan
ulat-ulat bahkan sampai nematoda tanah yang memakan daun Btcorn, tidak mati
malah gemuk-gemuk. Jadinya, janji-janji Monsanto (perusahaan yang
mengembangkan dan memasarkan jagung, kapas bt) tentang jagung Bt itu kan
bohong. Kemudian, ketika jagung Bt dimakan manusia atau binatang, mereka
ikut memakan bt tersebut yang dampaknya belum dipelajari dengan tuntas.
Masih banyak contoh tentang janji hasil rekayasa genetika dari segi
lingkungan dan kesehatan yang tidak terpenuhi; seperti juga sudah mulai
banyak eksperimen menunjukkan potensi bahaya penggunaan rekayasa genetika
secara meluas.
Persoalan utama dengan rekayasa genetika, adalah tidak pernah ada jaminan
bahwa tidak akan terjadi pencemaran biologis yaitu pencemaran gen yang
disisipkan pada suatu spesies tertentu. Beberapa penelitian di Eropa,
utamanya pada species Brassica menunjukkan bahwa kawin-mawin di alam
terjadi hanya setelah satu generasi; artinya brassica transgenic "kawin"
dengan brassica liar di sekitarnya sehingga mencemari "kemurnian: kerabat
liarnya. Inilah masalahnya dengan solusi yang anda sebutkan tentang Bt.
Pada saatnya nanti, kita mungkin tidak dapat menemukan jagung yang tidak
mengandung gen bt.
Demikian pula keamanan bagi manusia perlu diwaspadai. Contoh kasus:
Pioneer-Hi-Breed pernah mengembangkan kedelai transgenik di Brasil dengan
menggunakan gen kacang brazil. Tujuannya mendapatkan gizi yang lebih
seimbang. Tetapi temuan ahli gizi menunjukkan bahwa kedelai transgenik
tersebut mengikutsertakan sifat allergen dari kacang brazil, padahal ada
orang yang allergi terhadap kacang brazil sehingga bila tidak tahu dia
makan kedelai transgenik tersebut, akibatnya bisa fatal. Lebih parah lagi
bila sampai kedelai tersebut ditanam dan kemudian mencemari kedelai
non-transgenik, akan sulit membedakannya sehingga setiap orang yang allergi
terhadap kacang brazil akan menghadapi bahaya setiap dia makan kedelai
transgenik.
Masih banyak contoh seperti ini dan mungkin milis ini bukan tempatnya.
Tetapi saya akan kirimkan beberapa bahan ke email anda. SElain itu anda
mungkin juga sudah dengar tentang the Union of Concerned Scientists di
Amerika (ada websitenya mungkin) yang menyuarakan persoalan rekayasa
genetika dengan lebih seimbang.
Terakhir adalah pernyataan anda tentang jangan apriori memandang semua
rekayasa genetika jelek. Anda benar, sebagai alat untuk mengetahui berbagai
aspek kehidupan teknologi ini berguna. Tetapi proponen rekayasa genetika
(scientist, terutama yang bekerja untuk perusahaan, perusahaan dan
pemerintah) terlalu membesar-besarkan manfaat tanpa pernah mau mengakui
resiko serta "unpredictibility" hasil teknologi ini. Alhasil kami perlu
membesarkan sisi bahayanya agar masyarakat tidak dibohongi.
Saya terbuka untuk debat dan menerima pendapat lain tentang rekayasa
genetika. TEtapi pandangan
saya sulit berubah karena ada beberapa pertanyaan yang belum dapat dijawab
oleh pendukung rekayasa genetika. Pertanyaan tersebut adalah:
1. Bila rekayasa genetika aman dan resikonya dapat dikendalikan, kenapa
ketika melakukan uji lapangan selalu dirahasiakan baik lokasi, jenis
tanaman maun manfaat dan resikonya? Ada pihak perusahaan yang mengatakan
bahwa hal ini karena masyarakat menolak tanpa mengetahui hal yang
sebenarnya, terutama di negara maju. Nah, bila di negara maju saja yang
orangnya terdidik dan dapat menerima penjelasan logis tentang resiko dan
manfaat tetap merasa mereka dibohongi, apakah kemudian kita benarkan para
perusahaan ini melakukan pembohongan di negeri kita? Kenapa uji multilokasi
yang diberikan oleh deptan terhadap 5 tanaman transgenik monsanto tidak
dibuka untuk umum? Kan aman toh?
2. Para proponen rekayasa genetika mengatakan bahwa tanaman transgenik
tidak beda dengan varietas tanaman hasi pemuliaan konvensional. Lalu kenapa
dimintakan hak paten? Bukankah hak paten adalah untuk suatu inovasi yang
orisinil? Ketika dinyatakan berbahaya para proponen mengatakan hasil
rekayasa genetika tidak berbeda, tetapi ketika ditolak hak paten, mereka
mengatakan bahwa varietas tanaman ini memang berbeda. Jadi dimana
konsistensinya?
3. Rekayasa genetika dinyatakan sebagai alat penting untuk menghapuskan
kemiskinan, penyakit dan masalah lain, terutama di Dunia Ketiga. Pertanyaan
saya, bila investasi rekayasa genetika sedemikian mahal, bagaimana mungkin
petani dan konsumen mendapatkan produk dengan harga murah?
Jadi singkatnya, saya berpandangan bahwa rekayasa genetika dan implikasinya
sangat penting sehingga tidak dapat hanya kita percayakan kepada perusahaan
multinasional, pemerintah dan para sarjana.
Demikian tanggapan saya. Mohon maaf bila terlalu panjang, terutama untuk
teman-teman yang tidak tertarik dengan isu ini. BAgi teman-teman yang
tertarik dan ingin mendapatkan beberapa bahan silakan kirimkan email
pribadi anda karena milis ini tidak dapat menerima attachment.
Terima kasih dan salam
Hira
----------
> From: witjaksono <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: RE: [lingkungan] Waspadai ikan transgenic di Bali
> Date: Thursday, November 25, 1999 11:11 PM
>
> Hira:
> Saya masih belum memahami tentang pendapat Anda bahwa hasil rekayasa
> genetika mungkin menyebabkan bahaya lingkungan masa depan.
> Selama mengikuti mail list ini, saya sering membaca kecenderungan
pendapat
> seperti ini. Namun latar belakang pemikirannya belum terbahas secara
> memmadai. Kalau memang pembahasannya belum banyak dan mendalam, mungkin
> kita bisa memulainya. Kita perlu tahu benar binatang macam apakah
> transgenic organisms itu. Apakah semuanya sama sehingga bisa
> di-generalisasi atau perlu di lihat satu-persatu.
> Sebelum membahas transgenic organisma ini (saya lebih suka yang tanaman,
> karena saya tidak tahu binatang), kita perlu memakai paradigma yang sama
> dahulu tentang buat apa teknologi itu (rekayasa genetika adalah teknologi
> tinggi yang berdasar biologi molekular dengan genetika cell somatik).
Saya
> lebih suka memakai paradigma teknologi sebagai pembebas dari
ketergantungan
> manusia terhadap lingkungan. Paradigma ini pernah diucapkan oleh
Menristek
> Hikam, tapi telah saya baca jauh sebelumnya dari surat Einstein pada
> mahasiswa Caltech yang dapat dibaca di buku Ilmu dalam Perspektif yang
> berisi kumpulan tulisan yang di kumpulkan oleh Jujun S Soeriasumantri,
> terbitan Gramedia.
> Dengan paradigma teknologi sebagai pembebas, maka produk hasil rekayasa
> genetika itu positif. Misalnya kapas Bt. Dengan adanya gen Bt, maka
> tanamanan kapas memproduksi racun Bt. Serangga yang biasanya
menghancurkan
> produksi kapas akan mati bila makan daun atau bagian lain dari kapas
> tersebut. Manfaatnya adalah mengurangi penggunaan pestisida.
Membebaskan
> petani/penanam kapas dari keperluan mennyemprot pestisida, yang bila
tidak
> hati-hati juga akan merugikan kesehatan. Lalu akan timbul pertanyaan
bahwa
> serangga hama akan mengalami evolusi dan akhirnya tahan terhadap kapas Bt
> tsb dan serangga lain pada mati dan akan menggangu rantai makanan dan
akan
> menimbulkan ledakan populasi serangga lain atau lebih menakutkan lagi
bahwa
> serangga-serangga akan punah dan keragaman hayati akan hancur.
Kemungkinan
> itu ada dan memang dipelajari cara mengatasinya. Beberapa kemungkinan
> penyelesaian yang pernah saya dengar atau baca adalah bahwa dalam menanam
> kapas Bt, disisakan sekitar 20% areal ditanam kapas biasa. Daerah
penyangga
> 20% ini disediakan untuk serangga hama yang menjadi tahan Bt untuk
> bereproduksi dengan serangga yang tidak tahan Bt sehingga populasi
serangga
> tahan Bt tidak menjadi dominan. Pendekatan ini didahului oleh studi
> genetika yang menghasilkan pengetahuan bahwa gen ketahanan terhadap Bt
pada
> serangga tertentu diturunkan secara resesif. Dengan 20% daerah penyangga
> ini, produksi optimum dan secara ekologi tidak berbahaya (yang terakhir
ini
> bisa didiskusikan lebih lanjut).
> Menurut saya varietas hasil rekayasa genetika pada umumnya tidak banyak
> beda dengan varietas-varietas lain dalam aspek ekologi, keragaman hayati
dan
> sosial ekonomi petani. Varietas-varietas ini adalah alternatif yang bisa
> dipilih tapi tidak harus dipilih. Sebagaimana suatu produk teknologi,
> selalu ada aturan pakai serta peringatan tentang kemungkinan
> kesalahgunaannya. Hal-hal terkait seperti ini perlu diperhatikan dan
> dipatuhi. Namun karena memang rekayasa genetika itu teknologi baru,
perlu
> hati-hati. Kehati-hatian sangat diperlukan tetapi tidak harus melampaui
> batas apalagi sampai apriori bahwa produk itu jelek dan berbahaya bagi
> lingkungan.
>
>
> Salam,
> Tjak Witjaksono
> (Staf Peneliti Puslitbang Biologi-LIPI)
> Sedang menjalani Academic Training/Postdoctoral Research Associate
> Tropical Research and Education center
> University of Florida
> 18905 SW 280th Street
> Homestead Florida 33031-3314
> USA
>
>
> -----Original Message-----
> From: Hira D.G. [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Thursday, November 25, 1999 7:20 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [lingkungan] Waspadai ikan transgenic di Bali
>
>
>
> Teman-teman
>
> Berikut ini kabar dari rekan kita Riza Tjahjadi dari Pan Indonesia
tentang
> kemungkinan bahwa ikan transgenik sudah beredar di Bali. Tidak hanya itu,
> seorang staf balitbio,deptan juga mengakui bahwa sudah memberikan ijin
> untuk uji lokasi bagi lima jenis tanaman yaitu: jagung bt, kapas bt,
jagung
> tahan herbisida, kapas tahan herbisida dan kedelai tahan herbisida.
Dugaan
> kami semuanya ini milik monsanto.
> Bagi teman-teman yang berminat mendapatkan informasi lebih lanjut dapat
> minta ke Riza atau Ika di [EMAIL PROTECTED]
>
> Pada pokoknya, permasalahannya adalah bahwa produk hasil rekayasa
genetika
> mungkin sudah beredar dan mulai diuji tanpa diketahui masyarakat, baik
> konsumen akhir maupun petani. Karena itu kita perlu waspada dan melakukan
> sesuatu untuk mencegah kemungkinan bencana lingkungan abad depan.
>
> Salam
> Hira
> ->
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Riza V. Tjahjadi <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: Antonio Onorati <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> > <[EMAIL PROTECTED]>; Beth Burrows <[EMAIL PROTECTED]>;
> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; Biothai
> <[EMAIL PROTECTED]>;
> > biswajit ,dhar <[EMAIL PROTECTED]>; cecilia oh <[EMAIL PROTECTED]>;
> Chee
> > Yoke Ling <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>;
> > David ,Hathaway <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> <[EMAIL PROTECTED]>;
> > Edward ,Hammond <[EMAIL PROTECTED]>; FPH ,Lausanne <[EMAIL PROTECTED]>;
> > Gallagher, Kevin ,(AGPP) <[EMAIL PROTECTED]>; GRAIN - Anna-Rosa
,M.
> > <[EMAIL PROTECTED]>; HEKS <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> > <[EMAIL PROTECTED]>; MASIPAG <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
> > Pacific Institute of ,Resource Management <[EMAIL PROTECTED]>;
PAN
> > Asia ,Pacific <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; Patrick Harvey
> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>;
> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
> [EMAIL PROTECTED]
> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> > Cc: GRAIN Los Ba�os <[EMAIL PROTECTED]>
> > Date: Sunday, November 21, 1999 9:57 PM
> > Subject: Alert, Transgenic fish in Bali
> >
> >
> > David, GRAIN, PANAP, Pimbert, Benny Greenpeace, Anna Rosa-GRAIN, Beth,
> > SEACON,
> > Kristin, Kevin/KenMore.
> >
> >
> > GRAIN Los Ba�os <[EMAIL PROTECTED]>,
> >
> >
> > Dear friends,
> >
> >
> > It was found transgenic fish in Bali island, such as confirmed by
> > chairperson
> > of the agency for food crops R&D of department of agriculture to an
oral
> > report
> > by agricultural staff. But, there is not well understanding by him how
to
> > monitor/examined within biosafety containment. Moreover there is none
> > equipment
> > within the R&D for food crops of DoA.
> >
> > This situation shown when I was invited, represent the Indonesian's
> Consumer
> > International (YLKI) to a session on discussion of the problem of
> transgenic
> > crops, in the meeting on the appraisal and approvement of releasing
crops
> > variety last Thursday 18 November 1999 in Bogor West Jawa.
> >
> > Until now, yet release transgenic crop by both biosafety committee and
> the
> > minister of agriculture, although, at least, two Bt corn submitted by
> > Monagro
> > (owned by Monsanto) and Pioneer have passed biosafety contaiment and
> limited
> > field testing. Meanwhile, a volunteer of PAN Indonesia has found a
field
> > testing area of Bt cotton in southeast part of South Sulawesi province.
> >
> > Moreover, it was also reported by a quarantine officer there are 16
> > containers
> > of corn under authorise by TNI, the Indonesian military, for food aid
> > package
> > or so to Dili East Timor and NTT (West Timor). However, he complaint he
> was
> > invited to a meeting in the TNI head quarter to discuss solution since
> it's
> > corn in the hand of TNI but without any document. He did not know the
> > origin,
> > type of corn, granted or credit, etc. it just the amount, 16
containers.
> >
> > On the other hand, I have stated freeze or suspend or pending to
> transgenic
> > crops for approval, until the controversial debate on GMOs settle down,
> but
> > I
> > rejected to set time for freezing (this just tactic when most of people
> were
> > government and TNCs in the meeting).
> >
> > I have made altert to the Indonesian NGOs about information above.
> >
> > You can ask further to:
> >
> > Dr. Sumarno
> > KaBalitang Tanaman Pangan Deptan/
> > Komisi Keamanan Hayati Deptan
> > Jl. Merdeka No. 147 Bogor
> > Telp (62-251) 334089, 331718
> > Fax: (62-251) 312755
> >
> >
> > best regards,
> > Riza VT
> > PAN Indonesia
> > Jl. Persada Raya No. 1 Menteng Dalam
> > Jakarta 12870
> > Telp. & Fax: (021) 8296545
> >
> >
> > PS: Obet, your inputs very valuable, but it late; I received on Friday.
> >
> > Roberto Verzola wrote:
> >
> > > >What are your suggestions when you are formally invited to put
> decision
> > for
> > > relasing transgenic seeds, by national HYV seed committee?
> > >
> > > I am with our national biosafety committee. I'm fighting to stop the
> > > field-testing of Bt corn in the Philippines. The other members of the
> > > committee hate me...
> >
> > ______________________
> > At 20:21 25/10/99 +0700, you wrote:
> > >>>>
> > Bt-Ctt, now, in S. Sulawesi
> >
> > Dear friends,
> >
> > Bt-cotton has been growing. Now, I can really feel the same thing
with
> > Biothai. I have similar challenge AGAINST Bt-cotton that had
> > expressed by Biothai.
> >
> > Last week my volunteer, Judi Rahardjo found a Monsanto' Bt-cotton
> field
> > in
> > South Sulawesi province. It's around 2 hectares large, located near a
> beach
> > line, in between rice fields, trees, and prawn/hatchery brackish pond,
> art
> > center building (not shop and/or gallery), and a small scale seaport.
> >
> > Today, several pictures he has snapped (at flowering stage)
arrived
> in
> > my
> > table. Unfortunately, I can't visit the area, since, you know, the
> > university
> > students continue demand for independence. Air flight schedule becoming
> > uncertain.
> >
> > I and several volunteers began preparing strategic option for
> > campaign.
> >
> > So, I need your inputs. Which the effective way? Rallies (compete
> the
> > university studuent?) Public hearing? Publid debate?
> > Send press release while questioning biosafety, unproper public
> > notification?
> >
> > Your inputs and suggestion will very valuable for me and
volunteers
> in
> > Makasar city (capital of South Sulawesi province).
> >
> > Biothai, we are hand-in-hand, now..! Bt-cotton in our backyard.
> >
> > regards,
> >
> > Riza VT
> > PAN Indonesia
> > Jl. Persada Raya No. 1 Menteng Dalam
> > Jakarta 12870 Indonesia
> > Telp. & Fax: 62-21-8296545
> >
> > ___________________________
> >
> >
> >
>
> -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>
>
> -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/