Salam,
Cerita Hira bisa kita tangkap persis seperti cerita horor Drakula, dan untuk
membunuh mahluk drakula sebagai hasil teknologi rekayasa manusia, yang harus
diserang adalah hatinya dan ketika mahluk itu jatuh karena hatinya tertusuk,
cepat-cepatlah masukkan dalam peti dan tutup rapat-rapat. Tetapi manusia
dengan kreativitasnya atau dengan bahasa awam bisa berarti usil dan nakal,
akan selalu mencari yang baru. Tanpa sadar akan selalu membuka tutup peti
drakula dan membebaskan sang drakula kembali bergentayangan di mana-mana.
Supaya kita terus sadar dan tidak lupa, maka manusia harus hidup dalam
suasana terang dan dengan hati nurani yang cerah.
Drakula-drakula yang terbebas saya kira sekarang ada di mana-mana, menggigit
dan merasuki jiwa siapa saja dan menjadi drakula-drakula baru yang terus
memangsa calon-calon drakula lainnya. Saya kira kita semua menyadari situasi
itu.
Dari pengalaman masa kecil saya, cerita semacam drakula menjadi cerita horor
yang menteror hidup kita. Maknanya bisa berarti bahwa kita tidak memahami
jiwa teror itu sendiri atau drakula-drakula baru yang cerdas itu mampu tetap
membawa kita dalam suasana kegelapan dan dalam suasana kegelapan para
drakula begitu leluasa dan bebas beroperasi. Untuk keluar dalam gelap kita
perlu refleksi, dan dengan sadar menggiring drakula ke fajar pembebasan dan
menusuk hati nuraninya yang kejam.
Saya mohon maaf membawa alur diskusi ini ke arah abstraksi yang mungkin
berbau metafisik. Hal ini bukan menihilkan makna substantif masalah
teknologi rekayasa genetik dari para pengrajin biotek. Mungkin perlu
mendiskusikan lebih dalam tetapi dengan arah dan pemihakan yang jelas pada
siapa seharusnya para ilmuwan mengabdi.
Barang-barang hasil rekayasa itu menyebar dengan diam-diam ke mana saja.
Kalau kita begitu bangga dengan kearifian dan kekayaan tradisional, tetapi
bagaimana kalau di daerah pedalaman saat ini kita juga bisa menemukan dengan
mudah benih-benih dan sarana pertanian modern produksi MNC. Saya menemukan
itu di pedalaman Kalimantan dan bahkan di kampung-kampung pedalaman Siberut.
Di pedalaman masyarakat begitu bangga dengan penggunaan racun bahkan untuk
meracun ikan, udang, atau menangkap binatang buruan dari hutan. Bagaimana
kita bisa berargumen bahwa pertanian tradisional mereka lebih unggul
sementara produk-produk MNC di depan mata mereka sendiri memberi janji-janji
yang nyata. Dan janji-janji itu terus mengalir dengan bebas dan leluasa.
Tapi saya tetap yakin bahwa bendera perlawanan harus terus dikibarkan dan
pencerahan hati masih harus terus digerakkan dengan kekuatan dan keteduhan
hati nurani yang jernih. Dalam hal ini kita jangan buru-buru menepuk dada,
karena menurut saya persoalan di daerah masih sangat rumit dan kita masih
penuh dengan keterbatasan.
Wasalam,
Bambang Ryadi Soetrisno
*************************************************************
FOUNDATION FOR HABITAT & BIOTA
Jalan Samali #91, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12510
INDONESIA
Ph +62 (21) 794-8102, 791-94430
Fax +62 (21) 791-94430
HP 0812-92-13212
Email : [EMAIL PROTECTED]
**************************************************************
-----Original Message-----
From: Hira D.G. <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: Wicak Amadeus <[EMAIL PROTECTED]>; Soeryo Adiwibowo
<[EMAIL PROTECTED]>; Siti Subandiyah <[EMAIL PROTECTED]>; konphalindo
<[EMAIL PROTECTED]>; ika krishnayanti <[EMAIL PROTECTED]>; Damayanti Buchori
<[EMAIL PROTECTED]>; witjaksono <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Saturday, November 27, 1999 7:48 PM
Subject: Re: [lingkungan] Waspadai ikan transgenic di Bali
>
>Witjak yang baik,
>
>Terima kasih atas komentar anda tentang masalah rekayasa genetika. Komentar
>seperti ini memberi saya alasan untuk berdiskusi tentang suatu
>kecenderungan teknologi dan kapitalisme yang menurut saya memang dapat
>menjadi sumber bencana di masa depan. Memang latar belakang pendapat
>tersebut belum pernah dibahas melalui milist ini.
>
>Saya akan memulai diskusi ini dengan pardigma yang ada sebutkan, yaitu
>bahwa teknologi sebagai pembebas manusia dari ketergantungan terhadap alam.
>Bagi saya, bila paradigma ini yang dipakai maka banyak sekali teknologi
>yang telah gagal. Sebagai contoh, listrik tenaga nuklir dinyatakan sebagai
>upaya untuk mengurangi ketergantungan akan sumber alam (yaitu batu bara
>atau minyak bumi) dan tidak mencemari lingkungan. Dalam kenyataan PLTN
>menggunakan uranium yang adalah hasil alam dan menyisakan limbah yang jauh
>lebih berbahaya daripada limbah PLT batubara ataupun minyak bumi. Ketika
>kita menggunakan komputer, onderdil di dalamnya sebagian terdiri dari alat
>yang dibuat dari alam (aluminium, kabel dari tembaga, besi, steel dll.).
>Bahkan roket ke angkasa luar tidak dapat jalan tanpa hasil alam yaitu bahan
>bakar minyak bumi. Apalagi rekayasa genetika yang bahan dasarnya adalah
>mahluk hidup yang adalah bagian dari alam. Rekayasa genetika tidak bisa
>menjadi industri tanpa keberadaan sekian banyak organisme mikro ataupun
>tanpa pengumpulan gen-gen dari alam. Jadi benarkah teknologi canggih yang
>saat ini dielu-elukan mengurangi ketergantungan kita pada alam? Atau bahkan
>menggunakan produk alam dengan lebih rakus dan membahayakan? Selain itu,
>sebagai bagian dari alam, dapatkah manusia terbebas dari ketergantungan
>terhadap alam? Bahkan plastik pun (yang sering kita analogikan sebagai
>bahan sintentik) sebenarnya dibuat dari hasil sampingan penyulingan/proses
>produksi minyak bumi. SElain itu teknologi tidak netral tetapi tergantung
>pada kekuasaan politik dan ekonomi sehingga pilihan teknologi sebenarnya
>tidak murni "science" tapi kepentingan.
>
>Dalam pandangan saya paradigma teknologi seharusnya adalah yang membebaskan
>manusia dan alam dari penindasan dan menjamin pemerataan kesejahteraan;
>artinya menggunakan produk alam dengan efisien, tanpa merusak tetapi
>bersahabat, dan tidak menyisakan limbah dalam jumlah yang tidak dapat
>diserap atau dimurnikan oleh daya dukung alam, serta menjamin terjadinya
>demokratisasi antara komponen alam, termasuk manusia.
>
>Tentang rekayasa genetika, anda benar bahwa kita harus melihat kasus per
>kasus.Juga benar bahwa mungkin rekayasa genetika mengandung potensi manfaat
>yang besar. Tetapi dari segi paradigma ilmu dan lingkungan maka saya
>berbeda pendapat. Rekayasa genetika adalah teknologi yang memanipulasi
>kehidupan pada intinya yaitu DNA dan Gen. Ketika kita memanipulasi
>kehidupan tanpa hati-hati, maka hidup itu akan berbalik bereaksi dan kita
>tidak dapat memprediksikan reaksinya akan negatif atau positif. Lalu, ilmu
>dasar rekayasa genetika adalah bahwa gen adalah segalanya. Mungkin anda
>sudah paham betul ada dua aliran utama pendapat" bahwa gen adalah penentu
>kehidupan (artinya orang sakit jantung, kanker, kegemukan, dll. adalah
>karena ada gen yang cenderung menimbulkan hal tersebut), ada lagi yang
>menyebutkan gen dan lingkungan serta interaksinya yang membentuk kehidupan.
>Dasar pertama ini mengandung bahaya bahwa semua persoalan kita selesaikan
>dengan gen, bukan melalui penyelesaian sosial yang adalah ciri manusia.
>Jadi tindak kriminal dapat dihapuskan bila gen yang cenderung membuat orang
>bertindak kriminal kita eliminasi. Kita bisa membuat bayi di laboratorium
>yang jenius dalam musik seperti mozart. Ini contoh ekstrim, tetapi inilah
>pesan yang disampaikan oleh para praktisi dan perusahaan rekayasa genetika.
>Diskusi ini akan panjang, jadi saya mau masuk ke pokok persoalan.
>
>Soal jagung Bt, yang anda katakan juga ada benarnya, Tetapi tidak
>sepenuhnya. Sebuah penelitian seorang sarjana dari Cota Rica, menunjukkan
>ulat-ulat bahkan sampai nematoda tanah yang memakan daun Btcorn, tidak mati
>malah gemuk-gemuk. Jadinya, janji-janji Monsanto (perusahaan yang
>mengembangkan dan memasarkan jagung, kapas bt) tentang jagung Bt itu kan
>bohong. Kemudian, ketika jagung Bt dimakan manusia atau binatang, mereka
>ikut memakan bt tersebut yang dampaknya belum dipelajari dengan tuntas.
>Masih banyak contoh tentang janji hasil rekayasa genetika dari segi
>lingkungan dan kesehatan yang tidak terpenuhi; seperti juga sudah mulai
>banyak eksperimen menunjukkan potensi bahaya penggunaan rekayasa genetika
>secara meluas.
>
>Persoalan utama dengan rekayasa genetika, adalah tidak pernah ada jaminan
>bahwa tidak akan terjadi pencemaran biologis yaitu pencemaran gen yang
>disisipkan pada suatu spesies tertentu. Beberapa penelitian di Eropa,
>utamanya pada species Brassica menunjukkan bahwa kawin-mawin di alam
>terjadi hanya setelah satu generasi; artinya brassica transgenic "kawin"
>dengan brassica liar di sekitarnya sehingga mencemari "kemurnian: kerabat
>liarnya. Inilah masalahnya dengan solusi yang anda sebutkan tentang Bt.
>Pada saatnya nanti, kita mungkin tidak dapat menemukan jagung yang tidak
>mengandung gen bt.
>
>Demikian pula keamanan bagi manusia perlu diwaspadai. Contoh kasus:
>Pioneer-Hi-Breed pernah mengembangkan kedelai transgenik di Brasil dengan
>menggunakan gen kacang brazil. Tujuannya mendapatkan gizi yang lebih
>seimbang. Tetapi temuan ahli gizi menunjukkan bahwa kedelai transgenik
>tersebut mengikutsertakan sifat allergen dari kacang brazil, padahal ada
>orang yang allergi terhadap kacang brazil sehingga bila tidak tahu dia
>makan kedelai transgenik tersebut, akibatnya bisa fatal. Lebih parah lagi
>bila sampai kedelai tersebut ditanam dan kemudian mencemari kedelai
>non-transgenik, akan sulit membedakannya sehingga setiap orang yang allergi
>terhadap kacang brazil akan menghadapi bahaya setiap dia makan kedelai
>transgenik.
>
>Masih banyak contoh seperti ini dan mungkin milis ini bukan tempatnya.
>Tetapi saya akan kirimkan beberapa bahan ke email anda. SElain itu anda
>mungkin juga sudah dengar tentang the Union of Concerned Scientists di
>Amerika (ada websitenya mungkin) yang menyuarakan persoalan rekayasa
>genetika dengan lebih seimbang.
>
>
>Terakhir adalah pernyataan anda tentang jangan apriori memandang semua
>rekayasa genetika jelek. Anda benar, sebagai alat untuk mengetahui berbagai
>aspek kehidupan teknologi ini berguna. Tetapi proponen rekayasa genetika
>(scientist, terutama yang bekerja untuk perusahaan, perusahaan dan
>pemerintah) terlalu membesar-besarkan manfaat tanpa pernah mau mengakui
>resiko serta "unpredictibility" hasil teknologi ini. Alhasil kami perlu
>membesarkan sisi bahayanya agar masyarakat tidak dibohongi.
>
>Saya terbuka untuk debat dan menerima pendapat lain tentang rekayasa
>genetika. TEtapi pandangan
>saya sulit berubah karena ada beberapa pertanyaan yang belum dapat dijawab
>oleh pendukung rekayasa genetika. Pertanyaan tersebut adalah:
>
>1. Bila rekayasa genetika aman dan resikonya dapat dikendalikan, kenapa
>ketika melakukan uji lapangan selalu dirahasiakan baik lokasi, jenis
>tanaman maun manfaat dan resikonya? Ada pihak perusahaan yang mengatakan
>bahwa hal ini karena masyarakat menolak tanpa mengetahui hal yang
>sebenarnya, terutama di negara maju. Nah, bila di negara maju saja yang
>orangnya terdidik dan dapat menerima penjelasan logis tentang resiko dan
>manfaat tetap merasa mereka dibohongi, apakah kemudian kita benarkan para
>perusahaan ini melakukan pembohongan di negeri kita? Kenapa uji multilokasi
>yang diberikan oleh deptan terhadap 5 tanaman transgenik monsanto tidak
>dibuka untuk umum? Kan aman toh?
>
>2. Para proponen rekayasa genetika mengatakan bahwa tanaman transgenik
>tidak beda dengan varietas tanaman hasi pemuliaan konvensional. Lalu kenapa
>dimintakan hak paten? Bukankah hak paten adalah untuk suatu inovasi yang
>orisinil? Ketika dinyatakan berbahaya para proponen mengatakan hasil
>rekayasa genetika tidak berbeda, tetapi ketika ditolak hak paten, mereka
>mengatakan bahwa varietas tanaman ini memang berbeda. Jadi dimana
>konsistensinya?
>
>3. Rekayasa genetika dinyatakan sebagai alat penting untuk menghapuskan
>kemiskinan, penyakit dan masalah lain, terutama di Dunia Ketiga. Pertanyaan
>saya, bila investasi rekayasa genetika sedemikian mahal, bagaimana mungkin
>petani dan konsumen mendapatkan produk dengan harga murah?
>
>
>Jadi singkatnya, saya berpandangan bahwa rekayasa genetika dan implikasinya
>sangat penting sehingga tidak dapat hanya kita percayakan kepada perusahaan
>multinasional, pemerintah dan para sarjana.
>
>Demikian tanggapan saya. Mohon maaf bila terlalu panjang, terutama untuk
>teman-teman yang tidak tertarik dengan isu ini. BAgi teman-teman yang
>tertarik dan ingin mendapatkan beberapa bahan silakan kirimkan email
>pribadi anda karena milis ini tidak dapat menerima attachment.
>
>Terima kasih dan salam
>
>Hira
>
>
>
>----------
>> From: witjaksono <[EMAIL PROTECTED]>
>> To: [EMAIL PROTECTED]
>> Subject: RE: [lingkungan] Waspadai ikan transgenic di Bali
>> Date: Thursday, November 25, 1999 11:11 PM
>>
>> Hira:
>> Saya masih belum memahami tentang pendapat Anda bahwa hasil rekayasa
>> genetika mungkin menyebabkan bahaya lingkungan masa depan.
>> Selama mengikuti mail list ini, saya sering membaca kecenderungan
>pendapat
>> seperti ini. Namun latar belakang pemikirannya belum terbahas secara
>> memmadai. Kalau memang pembahasannya belum banyak dan mendalam, mungkin
>> kita bisa memulainya. Kita perlu tahu benar binatang macam apakah
>> transgenic organisms itu. Apakah semuanya sama sehingga bisa
>> di-generalisasi atau perlu di lihat satu-persatu.
>> Sebelum membahas transgenic organisma ini (saya lebih suka yang tanaman,
>> karena saya tidak tahu binatang), kita perlu memakai paradigma yang sama
>> dahulu tentang buat apa teknologi itu (rekayasa genetika adalah teknologi
>> tinggi yang berdasar biologi molekular dengan genetika cell somatik).
>Saya
>> lebih suka memakai paradigma teknologi sebagai pembebas dari
>ketergantungan
>> manusia terhadap lingkungan. Paradigma ini pernah diucapkan oleh
>Menristek
>> Hikam, tapi telah saya baca jauh sebelumnya dari surat Einstein pada
>> mahasiswa Caltech yang dapat dibaca di buku Ilmu dalam Perspektif yang
>> berisi kumpulan tulisan yang di kumpulkan oleh Jujun S Soeriasumantri,
>> terbitan Gramedia.
>> Dengan paradigma teknologi sebagai pembebas, maka produk hasil rekayasa
>> genetika itu positif. Misalnya kapas Bt. Dengan adanya gen Bt, maka
>> tanamanan kapas memproduksi racun Bt. Serangga yang biasanya
>menghancurkan
>> produksi kapas akan mati bila makan daun atau bagian lain dari kapas
>> tersebut. Manfaatnya adalah mengurangi penggunaan pestisida.
>Membebaskan
>> petani/penanam kapas dari keperluan mennyemprot pestisida, yang bila
>tidak
>> hati-hati juga akan merugikan kesehatan. Lalu akan timbul pertanyaan
>bahwa
>> serangga hama akan mengalami evolusi dan akhirnya tahan terhadap kapas Bt
>> tsb dan serangga lain pada mati dan akan menggangu rantai makanan dan
>akan
>> menimbulkan ledakan populasi serangga lain atau lebih menakutkan lagi
>bahwa
>> serangga-serangga akan punah dan keragaman hayati akan hancur.
>Kemungkinan
>> itu ada dan memang dipelajari cara mengatasinya. Beberapa kemungkinan
>> penyelesaian yang pernah saya dengar atau baca adalah bahwa dalam menanam
>> kapas Bt, disisakan sekitar 20% areal ditanam kapas biasa. Daerah
>penyangga
>> 20% ini disediakan untuk serangga hama yang menjadi tahan Bt untuk
>> bereproduksi dengan serangga yang tidak tahan Bt sehingga populasi
>serangga
>> tahan Bt tidak menjadi dominan. Pendekatan ini didahului oleh studi
>> genetika yang menghasilkan pengetahuan bahwa gen ketahanan terhadap Bt
>pada
>> serangga tertentu diturunkan secara resesif. Dengan 20% daerah penyangga
>> ini, produksi optimum dan secara ekologi tidak berbahaya (yang terakhir
>ini
>> bisa didiskusikan lebih lanjut).
>> Menurut saya varietas hasil rekayasa genetika pada umumnya tidak banyak
>> beda dengan varietas-varietas lain dalam aspek ekologi, keragaman hayati
>dan
>> sosial ekonomi petani. Varietas-varietas ini adalah alternatif yang bisa
>> dipilih tapi tidak harus dipilih. Sebagaimana suatu produk teknologi,
>> selalu ada aturan pakai serta peringatan tentang kemungkinan
>> kesalahgunaannya. Hal-hal terkait seperti ini perlu diperhatikan dan
>> dipatuhi. Namun karena memang rekayasa genetika itu teknologi baru,
>perlu
>> hati-hati. Kehati-hatian sangat diperlukan tetapi tidak harus melampaui
>> batas apalagi sampai apriori bahwa produk itu jelek dan berbahaya bagi
>> lingkungan.
>>
>>
>> Salam,
>> Tjak Witjaksono
>> (Staf Peneliti Puslitbang Biologi-LIPI)
>> Sedang menjalani Academic Training/Postdoctoral Research Associate
>> Tropical Research and Education center
>> University of Florida
>> 18905 SW 280th Street
>> Homestead Florida 33031-3314
>> USA
>>
>>
>> -----Original Message-----
>> From: Hira D.G. [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
>> Sent: Thursday, November 25, 1999 7:20 AM
>> To: [EMAIL PROTECTED]
>> Subject: [lingkungan] Waspadai ikan transgenic di Bali
>>
>>
>>
>> Teman-teman
>>
>> Berikut ini kabar dari rekan kita Riza Tjahjadi dari Pan Indonesia
>tentang
>> kemungkinan bahwa ikan transgenik sudah beredar di Bali. Tidak hanya itu,
>> seorang staf balitbio,deptan juga mengakui bahwa sudah memberikan ijin
>> untuk uji lokasi bagi lima jenis tanaman yaitu: jagung bt, kapas bt,
>jagung
>> tahan herbisida, kapas tahan herbisida dan kedelai tahan herbisida.
>Dugaan
>> kami semuanya ini milik monsanto.
>> Bagi teman-teman yang berminat mendapatkan informasi lebih lanjut dapat
>> minta ke Riza atau Ika di [EMAIL PROTECTED]
>>
>> Pada pokoknya, permasalahannya adalah bahwa produk hasil rekayasa
>genetika
>> mungkin sudah beredar dan mulai diuji tanpa diketahui masyarakat, baik
>> konsumen akhir maupun petani. Karena itu kita perlu waspada dan melakukan
>> sesuatu untuk mencegah kemungkinan bencana lingkungan abad depan.
>>
>> Salam
>> Hira
>> ->
>> >
>> > -----Original Message-----
>> > From: Riza V. Tjahjadi <[EMAIL PROTECTED]>
>> > To: Antonio Onorati <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
>> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
>> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
>> > <[EMAIL PROTECTED]>; Beth Burrows <[EMAIL PROTECTED]>;
>> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; Biothai
>> <[EMAIL PROTECTED]>;
>> > biswajit ,dhar <[EMAIL PROTECTED]>; cecilia oh <[EMAIL PROTECTED]>;
>> Chee
>> > Yoke Ling <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
><[EMAIL PROTECTED]>;
>> > David ,Hathaway <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
>> <[EMAIL PROTECTED]>;
>> > Edward ,Hammond <[EMAIL PROTECTED]>; FPH ,Lausanne <[EMAIL PROTECTED]>;
>> > Gallagher, Kevin ,(AGPP) <[EMAIL PROTECTED]>; GRAIN - Anna-Rosa
>,M.
>> > <[EMAIL PROTECTED]>; HEKS <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
>> > <[EMAIL PROTECTED]>; MASIPAG <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
>> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
>> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
>> > Pacific Institute of ,Resource Management <[EMAIL PROTECTED]>;
>PAN
>> > Asia ,Pacific <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
>> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; Patrick Harvey
>> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
><[EMAIL PROTECTED]>;
>> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
>> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
>> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
>> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
>> [EMAIL PROTECTED]
>> > <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
>> > [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>> > Cc: GRAIN Los Ba�os <[EMAIL PROTECTED]>
>> > Date: Sunday, November 21, 1999 9:57 PM
>> > Subject: Alert, Transgenic fish in Bali
>> >
>> >
>> > David, GRAIN, PANAP, Pimbert, Benny Greenpeace, Anna Rosa-GRAIN, Beth,
>> > SEACON,
>> > Kristin, Kevin/KenMore.
>> >
>> >
>> > GRAIN Los Ba�os <[EMAIL PROTECTED]>,
>> >
>> >
>> > Dear friends,
>> >
>> >
>> > It was found transgenic fish in Bali island, such as confirmed by
>> > chairperson
>> > of the agency for food crops R&D of department of agriculture to an
>oral
>> > report
>> > by agricultural staff. But, there is not well understanding by him how
>to
>> > monitor/examined within biosafety containment. Moreover there is none
>> > equipment
>> > within the R&D for food crops of DoA.
>> >
>> > This situation shown when I was invited, represent the Indonesian's
>> Consumer
>> > International (YLKI) to a session on discussion of the problem of
>> transgenic
>> > crops, in the meeting on the appraisal and approvement of releasing
>crops
>> > variety last Thursday 18 November 1999 in Bogor West Jawa.
>> >
>> > Until now, yet release transgenic crop by both biosafety committee and
>> the
>> > minister of agriculture, although, at least, two Bt corn submitted by
>> > Monagro
>> > (owned by Monsanto) and Pioneer have passed biosafety contaiment and
>> limited
>> > field testing. Meanwhile, a volunteer of PAN Indonesia has found a
>field
>> > testing area of Bt cotton in southeast part of South Sulawesi province.
>> >
>> > Moreover, it was also reported by a quarantine officer there are 16
>> > containers
>> > of corn under authorise by TNI, the Indonesian military, for food aid
>> > package
>> > or so to Dili East Timor and NTT (West Timor). However, he complaint he
>> was
>> > invited to a meeting in the TNI head quarter to discuss solution since
>> it's
>> > corn in the hand of TNI but without any document. He did not know the
>> > origin,
>> > type of corn, granted or credit, etc. it just the amount, 16
>containers.
>> >
>> > On the other hand, I have stated freeze or suspend or pending to
>> transgenic
>> > crops for approval, until the controversial debate on GMOs settle down,
>> but
>> > I
>> > rejected to set time for freezing (this just tactic when most of people
>> were
>> > government and TNCs in the meeting).
>> >
>> > I have made altert to the Indonesian NGOs about information above.
>> >
>> > You can ask further to:
>> >
>> > Dr. Sumarno
>> > KaBalitang Tanaman Pangan Deptan/
>> > Komisi Keamanan Hayati Deptan
>> > Jl. Merdeka No. 147 Bogor
>> > Telp (62-251) 334089, 331718
>> > Fax: (62-251) 312755
>> >
>> >
>> > best regards,
>> > Riza VT
>> > PAN Indonesia
>> > Jl. Persada Raya No. 1 Menteng Dalam
>> > Jakarta 12870
>> > Telp. & Fax: (021) 8296545
>> >
>> >
>> > PS: Obet, your inputs very valuable, but it late; I received on Friday.
>> >
>> > Roberto Verzola wrote:
>> >
>> > > >What are your suggestions when you are formally invited to put
>> decision
>> > for
>> > > relasing transgenic seeds, by national HYV seed committee?
>> > >
>> > > I am with our national biosafety committee. I'm fighting to stop the
>> > > field-testing of Bt corn in the Philippines. The other members of the
>> > > committee hate me...
>> >
>> > ______________________
>> > At 20:21 25/10/99 +0700, you wrote:
>> > >>>>
>> > Bt-Ctt, now, in S. Sulawesi
>> >
>> > Dear friends,
>> >
>> > Bt-cotton has been growing. Now, I can really feel the same thing
>with
>> > Biothai. I have similar challenge AGAINST Bt-cotton that had
>> > expressed by Biothai.
>> >
>> > Last week my volunteer, Judi Rahardjo found a Monsanto' Bt-cotton
>> field
>> > in
>> > South Sulawesi province. It's around 2 hectares large, located near a
>> beach
>> > line, in between rice fields, trees, and prawn/hatchery brackish pond,
>> art
>> > center building (not shop and/or gallery), and a small scale seaport.
>> >
>> > Today, several pictures he has snapped (at flowering stage)
>arrived
>> in
>> > my
>> > table. Unfortunately, I can't visit the area, since, you know, the
>> > university
>> > students continue demand for independence. Air flight schedule becoming
>> > uncertain.
>> >
>> > I and several volunteers began preparing strategic option for
>> > campaign.
>> >
>> > So, I need your inputs. Which the effective way? Rallies (compete
>> the
>> > university studuent?) Public hearing? Publid debate?
>> > Send press release while questioning biosafety, unproper public
>> > notification?
>> >
>> > Your inputs and suggestion will very valuable for me and
>volunteers
>> in
>> > Makasar city (capital of South Sulawesi province).
>> >
>> > Biothai, we are hand-in-hand, now..! Bt-cotton in our backyard.
>> >
>> > regards,
>> >
>> > Riza VT
>> > PAN Indonesia
>> > Jl. Persada Raya No. 1 Menteng Dalam
>> > Jakarta 12870 Indonesia
>> > Telp. & Fax: 62-21-8296545
>> >
>> > ___________________________
>> >
>> >
>> >
>>
>> -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
>> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
>> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>>
>>
>>
>>
>
>-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>
>
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/