dear mbak Erna...., juga kawan-kawan yg baik, saya sengaja menunda waktu untuk membalas surat mbak Erna, sebab pada hari Senin (6/12) Latin menerima kabar dari CIFOR bahwa Dehut dan CIFOR siap bertemu dengan masyarakat pada hari Rabu, 8 Desember hari ini pihak MG CIFOR yang mengundang wakil masyarakat dan Latin menyediakan "pondoknya" untuk tempat berunding Tapi sayang, acara mendadak "terpaksa" harus diundur menurut informasi dari wakil MG CIFOR, pihak yang berwenang dari Dephut (Biro Umum) mendadak diminta mendampingi pak Menhut untuk acara di Binagraha saya dan beberapa orang dari CIFOR sempat ngobrol-ngobrol saja bersama sebagian wakil masyarakat yang terlanjur datang sebelum mendapatkan berita konfirmasi pengunduran acara mudah-mudahan segera ada waktu untuk bertemu dan permasalahan cepat bisa Klair berikut ini komentar saya atas "komentar" mbak Erna sebelumnya (ma'af nih, saya "menghapus" bagian isi surat yg tidak perlu saya respon dan komentar saya ada dibagian bawah komentar komentar mbak Erna) ----- Original Message ----- From: ernawati <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [KSH-IPB] Re: surat masy di lingkungan CIFOR (desa Situgede - Bogor) > mohon pertanyaan/komentar saya ini dianggap saja sebagai "sebuah tanya > dari teman yang baik ke sahabat yang terbaik" kita sudah pernah berkenalan langsung di suatu tempat, bahkan saya rajin mengikuti gagasan mbak Erna di berbagai maillist tentu kita ingin terus mengembangkan persahabatan yg lebih baik bahkan juga dengan rekan-rekan yg lain (minimal yg ada dalam maillist ini) > karena saya menginginkan sampeyan bisa mengkemas lebih baik lagi. Waduh......, mbak mungkin saya nggak banyak waktu untuk mengemas itu tindakan saya mengangkat masalah ini (surat masy) hanya spontanitas saja mengingat permasalahan itu "katanya" terkait langsung dengan kebijakan pemerintah yang ternyata berdampak kurang baik bagi sebagian masyarakat di sekitar kita. diskusi interaktif via email inilah salah satu cara yang bisa saya lakukan kalau ada yang kurang jelas atau kurang pas, langsung bisa ditanggapi > menurut saya ini sudah baik ada acara ramah tamah. Memag pada waktu itu > barangkali jamannya adalah jaman keterwakilan, dimana sang wakil belum tentu > mewakili semua kehendak masyarakatnya. Ya, saat itu yang mengundang acara ramah tamah adalah CIFOR masyarakat yg hadir saat itu tentu atas undangan CIFOR > ini kehadiran yang bagaimana ya Pak Wito???kehadiran Latin sebagai sebuah > institusi atau personal latin?? Latin hadir secara kelembagaan, bahkan ada balai pertemuan Latin (pondok) yang sudah biasa juga dipakai pertemuan oleh masyarakat di sana (beberapa orang CIFOR juga pernah ketemu Latin dan masyarakat di situ) Een Nuraini (Latin) yg sedang belajar tentang gender juga pernah ngadain kegiatan bersama masyarakat/ibu-ibu di sekitar balai pertemuan itu. > Saya sangat memihak masyarakat, selama persoalan didudukkan dengan > benar.Mungkin ini perlu konfirmasi yang lebih jelas. Karena tidak mungkin > badan Internasional itu bertangan besi, apalagi badan tersebut adalah > badan penelitian seperti CIFOR. sepanjang saya tahu, biasanya badan bule > (hehehe........maksud saya adalah Badan Internasional ) kalau selama > pekerjaannya tidak ngrecokin dan dikrecokin tidak akan mengatakan itu hak > kamu atau itu hak saya. Akan lebih bagus kalau ada klarifikasi dari pihak CIFOR > agar polemik ini segera ditangani dan tidak berkepanjangan. komunikasi kita via email ini juga saya komunikasikan kepada masyarakat (print out-nya), saya paham dengan sikap mbak Erna yg memihak masyarakat, terima kasih > berkonflik yang bagaimana ya pak Wito??? > dan mohon agar masyarakat tersebut bisa menjelaskan pejabat yang mana dan > bagaimana keserakahannya. "Penutupan jalan" itu lho mbak area konfliknya adanya perbedaan kepentingan terhadap keberadaan jalan di depan CIFOR itu masyarakat merasa telah dan ingin terus mengakses jalan itu sementara CIFOR perlu menutup jalan itu dengan alasan pragmatisnya dan telah sesuai dengan kebijakan kerjasama antara pemerintah RI dengan BOT untuk mendapatkan fasilitas yang memenuhi persyaratan, antara lain hak-hak istimewa dan status diplomatik bagi Direktur Jenderal CIFOR (sumber: copy Risalah Penunjukan Indonesia sebagai kantor pusat CIFOR) nah, "hak-hak istimewa" dan "status diplomatik" itu yang mungkin belum disosialisasikan ke masyarakat, dan sebagian besar orang tidak tahu ttg itu tentang "keserakahan" yg tercantum dalam surat masyarakat itu menurut saya kok (mungkin) hanya "luapan emosi" saja bahwa jalan yg sebelumnya bisa dilewati secara bebas oleh masyarakat kemudian saat ini "dikuasai" oleh "CIFOR" (maaf ini mungkin data akuratnya ya: "penguasaan jalan itu") justru saya juga kaget dengan munculnya tuduhan keras itu sebelumnya tidak pernah terdengar oleh saya. ini salah satu dugaan saya adanya "hal-hal di luar dugaan" dari sikap emosianal masyarakat yg kecewa berkali-kali Memang banyak pihak yang meragukan bahwa surat itu surat autentik dari masyarakat, tapi menurut saya: silakan dilacak langsung ke masyarakat di sana ada pegawai negeri banyak, dari mulai guru SD, SMP, ahli teknis badan meteorologi dan PNS lainnya saya juga baru tahu hari ini tadi bahwa sebagian yang tanda tangan dalam surat itu adalah staf kantor Kejaksaan Negeri (salah satu ketua RW di situ). dan yang mengantar surat itu langsung ke Menhut juga PNS Saat ini saya memang banyak mendengar, adanya tuduhan "suwito" sebagai provokator tapi saya tidak bangga dan tidak marah mendengarnya yang jelas, lokasi CIFOR sangat dekat dengan tempat tinggal masyarakat tidak sulit bagi mereka untuk mengecek langsung, bahkan seluruh email-email saya tentang masalah ini saya CC ke CIFOR dan Dephut mungkin sama dengan harapan orang lain kita tidak ingin kemungkinan munculnya sikap-sikap anarkis masyarakat dan kita semua berharap untuk bisa diselesaikan dengan baik dan damai > hanya anda harus tahu perencanaan yang telah dibuat oleh pemerintah tersebut. > Berapa tahun sebelumnya jalan tersebut sudah direncanakan. Kalau sudah > tahu.......nach......barangkali perencanaannya itu yang kurang > disosialisasi......disini anda bisa masuk!!! mudah-mudahan semua berusaha untuk lebih transparan dan komunikatif agar masyarakat juga bisa mengetahui perencanaan dan kebijakan pemerintah komunikasi via email ini salah satu langkah yang saya pilih > sejauh yang saya tahu daerah tersebut adalah daerah "slang", artinya masuk > komuniti kota nggak, masuk komoniti pedesaan nggak!. > Dimana dari segi sosial daerah "slang" itu mempunyai perilaku sosial > tersendiri dan sangat beragam. mudah-mudahan mbak Erna nggak salah tahu, yang saya tahu di sana ada banyak pegawai negeri, anak-anak sekolah, ibu-ibu dan masjid-masjid juga banyak di sana, > iya...dech.........selamat berjuang... > tapi sebelum ke medan laga lengkapi dulu argumentasi yang kuat dan > data-data yang valid, dan ingat lho Pak Wito kata-kata "katanya" > itu bisa jadi "backflash"......mohon diperhatikan. > Saya mendukung saja, selama keadilan > hakiki ditegakkan dan itu untuk masyarakat luas. Suwito dan Latin akan mengamati saja dan menjadi mediator, jika dikehendaki, Salam hangat dan jabat erat, Wito -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
