Terima kasih Witjak atas kiriman keempat artikelnya. Saya baru membaca satu
artikel berjudul "Feeding The World in the Twenty First Century " yang
ditulis oleh Gordon Conway dan Gary Toenniessen, keduanya dari the
Rockefeller Foundation, New York. Bagi teman-teman yang tidak membaca
artikel tersebut, ringkasan yang dikirim Witjak sudah mewakili. Untuk
sekedar mengingatkan, kira-kira isinya adalah bahwa dunia di masa depan
akan kekurangan pangan, dan jumlah terbesar yang kekurangan ada di negara
sedang berkembang. Hal ini karena revolusi hijau tidak mampu menandingi
pertumbuhan populasi. Jadi perlu teknologi baru. Artikel ini juga
mengkritisi soal hak paten, peran swasta dan debat pro-kontra rekayasa
genetika.
Secara keseluruhan, artikel tersebut cukup berimbang bila kita membaca
sekilas. Tetapi bila kita cermati, pesannya amat jelas yaitu bahwa
kelaparan dan kekurangan gizi di negara berkembang dapat diatasi dengan
rekayasa genetika dan bahwa konteks penggunaan teknologi ini berbeda dengan
di negara maju. Bahwa kalau negara berkembang ingin menjadi swadaya, maka
rekayasa genetika adalah jawabannya, walaupun diakui bahwa kadar
keamanannya perlu dipastikan lebih dahulu.
Mencermati artikel tersebut, saya ingin berbagi beberapa pandangan saya,
sebagai berikut:
I. Siapakah ROCKEFELLER FOUNDATION ?
Ketika membaca pesan Witjak tentang artikel dari Rockefeller foundation
(RF) yang katanya adalah lembaga non-profit jadi tidak punya kepentingan
dan bisa netral, alarm segera berbunyi di benak saya. Rasanya ada suatu
sejarah tentang RF yang perlu diketahui, sebelum kita menilai bahwa lembaga
ini netral. Dan ternyata benar. Buku yang berjudul Biopolitics, disunting
oleh Vandana Shiva dan Ingunn Moser, diterbitkan oleh Zed Books memuat
sedikit info tentang RF, sebagai berikut:
RF adalah donor di belakang pembentukan International Rice Research
Institute (IRRI) yang menjadi tulang punggung revolusi hijau dalam sektor
padi tetapi juga mengumpulkan plasma nutfah padi dari negara sedang
berkembang untuk digunakan bersama, termasuk oleh perusahaan multinasional
(MNC). Hasilnya adalah padi varietas unggul yang sebenarnya tidak unggul,
karena tidak meningkatkan produksi bila tidak diberi input pupuk dan
pestisida kimia. Dan yang penting, varietas unggul di"ciptakan" tidak
begitu saja, tetapi terkait dengan upaya menjual pupuk, pestisida dan mesin
yang sudah diciptakan leibh dahulu di AS dan Jepang. Ideologi di balik
penciptaan varietas unggul adalah mengubah masyarakat agraris di Asia
menjadi masyarakat pasar. Arthur Moses, Presiden Agricultural Concil yang
dibentuk oleh John D. Rockefeller III mengatakan pada masa awal revolusi
hijau "struktur sosial dalam masyarakat agraria perlu dibongkar guna
mendorong kepentingan pasar yang agresif" Selain itu RF membiayai The
consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR), beberapa
lembaga penelitian di bawah bank dunia. Kalangan LSM menyebutkan CGIAR
sebagai lembaga yang menjarah plasma nutfah negara di selatan untuk
digunakan oleh Utara dan menghasilkan laba yang luar biasa.
Nah, sekarang RF dan rekayasa genetika. Induk rekayasa genetika adalah
biologi molekuler. Saya juga baru sadar bahwa istilah biologi molekuler
ternyata pertama kali diciptakan oleh Warren Weaver pada tahun 1930 yang
adalah direktur divisi ilmu alam RF. RF adalah patron utama biologi
molekular dari tahun 1930 hingga 1950 dan menyumbangkan US$25 juta untuk
program biologi molekuler di AS serta meletakkan trend perubahan dari
pandangan organis dalam biologi menjadi molekuler. Yang lebih seru lagi, RF
membiayai beberapa proyek eugenics (ilmu tentang seleksi dan kontrol
sosial melalui genetika) yang sempat surut karena dianggap sebagai alat
diskriminasi terhadap manusia yang gennya tidak "sempurna". Artinya, bisa
saja suatu perusahaan menolak memperkerjakan karyawan yang berdasarkan
pemerikaan genetika mempunyai gen yang cenderung menimbulkan kanker pada
usia tertentu.
Kenapa saya mengulas sejarah RF? Sederhana, ketika membaca artikel, kita
harus kritis siapa yang menulis dan apa kepentingannya. Bagi saya analisis
sejarah itu penting, agar kita tahu berada di pihak mana suatu organisasi.
Dengan demikian, secara jujur, saya mungkin tidak obyektif menilai artikel
di atas, tetapi apa boleh buat. Ya begitu keadaannya. Tapi saya mencoba
membuat bahasan melalui pertanyaan yang tidak terkait dengan RF namun
terkait dengan substansinya.
2. ISI ARTIKEL
Alinea pertama dibuka dengan pernyataan bahwa revolusi hijau sudah sukses
meningkatkan pangan. Saya tertegun, karena banyak pihak termasuk FAO kini
mengakui bahwa sebenarnya Revolusi hijau di bidang pertanian merusak sistem
sosial pedesaan dan merusak lingkungan. Memang hasil panen meningkat tapi
biaya sosial, ekonomi dan lingkungannya tinggi sehingga bila dibuat neraca,
sebenarnya tidak menguntungkan. Lalu dikatakan bahwa Revolusi hijau sudah
menguntungkan kaum miskin, nah kan saya bingung lagi. Kita tahu dari
berbagai penelitian bahwa petani kaya yang mampu beli input yang
diuntungkan oleh revolusi hijau. Silakan teman-teman menyimpulkannya
sendiri.
Kedua, pada bagian berikut, penulisnya mengakui bahwa perosalannya bukan
bahwa produksi pangan tidak cukup, tetapi bahwa pangan tidak
didistribusikan secara merata. Dan bahwa ekonomi pasar tidak akan
menguntungkan masyarakat kecil. Tetapi anehnya, solusinya kemudian
dinyatakan sebagai rekayasa genetika agar negara berkembang tidak usah
impor pangan. Ada ketidak konsistenan disini. Mereka menjelaskan
persoalannya adalah distribusi dan ekonomi pasar, tapi solusinya kok
teknologi?
Penulisnya juga tidak setuju dengan moratorium secara umum karena
menurutnya setiap transgenik punya karkateristik tertentu sehingga perlu
dilakukan analisis kasus per kasus. Dalam hal ini saya pikir ada kesalaha
pahaman. Yang dituntut oleh masyarakat sipil adalah moratorium uji coba
lapangan, pelepasan dan penggunaan transgenik sampai ada rejim hukum yang
ketat (seperti ketatnya pengawasan obat), sampai analisis resiko dan
manajemen resiko diberlakukan. Juga yang ditentang adalah pendanaan
besar-besaran untuk riset dan pengembangan rekayasa genetika sementara
teknologi lain (seperti riset tentang sistem pertanian ekologis yang juga
mampu menghasilkan panen tinggi) sulit mendapatkan dana, padahal setiap
teknik perlu dicoba bersama.
Selanjutnya dikatakan bahwa resiko menggunakan atau tidak menggunakan
transgenik berbeda di negara sedang berkembang dan di negara maju. Sekali
lagi, gambaran yang ingin diberikan adalah bahwa negara miskin sebaiknya
pakai rekayasa genetika, karena beda dengan kondisi di negara maju, yaitu
bahwa penduduk miskin dan kelaparan berada di negara sedang berkembang. Ya
orang miskin kasih saja teknologi yang merusak lingkungan karena tidak
memiliki pilihan begitu kira-kira. Double standard kan?
Tetapi banyak hal positif dari artikel ini. Misalnya diakui bahwa selama
ini riset dan pengembangan rekayasa genetika memang ditujukan untuk
keuntungan MNC dan bukan petani miskin, dan bahwa perlindungan paten
merugikan petani, bahwa penggunaan sumber daya genetika tidak menguntungkan
negara asal sumber tersebut. Terakhir, penulis juga mengatakan bahwa
rekayasa genetika hanya boleh digunakan bila keamanannya sudah terjamin.
3. Multiple gen, beta caroten dan vaksin
Artikel tersebut menyebutkan bahwa dalam sepuluh tahun mendatang, akan
diperoleh kemajuan lebih pesat dalam introduksi gen ganda untuk tanaman
transgenik. Hal ini dimulai dengan mengintroduksi tiga gen ke dalam padi
guna menghasilkan beras yang mengandung beta carotene, yang akan
memproduksi vitamin A dalam tubuh manusia. Pertanyaan saya sederhana,
apabila memasukan satu gen tunggal menimbulkan berbagai interaksi yang
"unpredictable", maka apa jadinya dengan introduksi gen berganda? Tentu
saja, karena keterbatasan halaman, artikel tersebut tidak membahas hal ini.
Namun bila ada teman-teman yang dapat memberikan informasi lebih lanjut
tentang hal ini, akan sangat membantu kita memahami masalahnya. Dalam
logika saya, gen berganda akan saling berinteraksi di antara mereka,
masing-masing akan berinteraksi dengan gen dalam tanaman induk yang mungkin
akan menimbulkan reaksi berantai, lalu juga akan berinteraksi secara
masing-masing atau berkelompok dengan lingkungannya. Nampak rumit bukan?
Memang interaksi antara komponen alam dapat dipelajari tetapi seringkali
tidak dapat diprediksi hasil akhirnya.
Yang menarik tentulah kandungan vitamin A (beta carotene) dalam beras yang
disebut "golden rice". Menurut mereka hal ini akan membantu konsumen miskin
karena hanya dengan makan nasi, kebutuhan vitamin A sudah terpenuhi. Tapi
tidak disebutkan kandungan beta karoten berapa kadarnya, dan apabila
seseorang makan dua piring nasi sehari, jadi berapa? Bagaimana kalau
kelebihan vitamin A atau bahkan zat besi yang katanya meningkat tiga kali
lipat melalui introduksi gen? Mungkin ada teman-teman yang dapat memberikan
informasi apakah kelebihan zat besi dan beta karoten itu aman atau tidak.
Demikian pula ada tabel yang memuat beberapa percobaan laboratorium dan
lapangan dalam bidang rekayasa genetika di negara berkembang (tidak
disebutkan tempatnya). Salah satunya adalah merekayasa kentang dan pisang
sebagai saran untuk memproduksi vaksin rekombinan bagi manusia. Wadalah,
jadi nanti setiap kita makan pisang, kita juga makan vaksin (entah vaksin
apa). Kalau memang demikian, apakah vaksin akan tetap dapat bekerja dengan
baik bila dimakan setiap hari (pisang adalah salah satu buah termurah yang
dimakan oleh orang hampir setiap hari di Indonesia). Bukankah vaksin harus
diberikan secara berjangka dan tidak setiap hari? Apakah pisang tersebut
bukan selayaknya dijual di rumah sakit dan orang yang makan harus diberi
kartu kapan harus kembali untuk makan pisang vaksin lagi? Belum lagi ada
pertanyaan apakah vaksin rekombinan aman untuk manusia? (Ada sinyalemen
bahwa banyak Tentara AS yang pulang dari perang Teluk mengalami penyakit
aneh. Setelah diselidiki, tentara ini diberikan vaksin rekombinan untuk
mendapat kekebalan atas penyakit di daerah Teluk. Tentu saja analisis resmi
mengatakan bahwa penyakit aneh ini timbul akibat stress dll).
Saya tidak habis pikir apakah persoalan kekurangan vitamin A dan zat besi
hanya dapat diselesaikan dengan rekayasa genetika? Menurut hemat saya,
kekurangan Vitamin A dan Zat besi adalah masalah pendidikan bagi keluarga,
terutama kaum ibu dan akses pada sumberdaya. Bila keluarga punya cukup uang
untuk beli dan lahan serta akses produksi yang cukup untuk menanam pepaya
dan sayuran hijau serta dipastikan mereka mengetahui bahaya kekurangan
vitamin A maka urusan vitamin A selesai. Demikian pula zat besi tidak hanya
dalam hati hewan tapi juga bayam dan kangkung. Persoalannya kan sederhana,
kok harus diselesaikan dengan rekayasa genetika? Bayangkan jika investasi
rockefeller yang berjumlah 100 juta dolar AS untuk riset rekayasa genetika
dalam bidang padi dialihkan pada pendidikan dan memastikan akses pada
sumber daya bagi kaum miskin, bukankah lebih efektif? Saya pikir alur pikir
yang sama berlaku untuk vaksin.
4. Berapa Input proses produksi?
Benih padi transgenik nantinya akan diberikan secara gratis kepada para
petani di Asia dan Afrika serta Merika Latin. Tetapi tidak dijelaskan
apakah menanam padi trasgenik tersebut memerlukan input tertentu?
Jangan-jangan nantinya padi transgenik perlu perlakukan khusus yang mahal?
Apakah gabah padi transgenik dapat ditanam pada musim berikutnya dengan
sifat yang stabil? Apakah gerakan padi transgenik ini tidak akan membuat
ketergantungan baru bagi petani terhadap input dari luar?
Dan apakah akan ada upaya untuk memberitahu konsumen dan petani tentang apa
yang terkandung dalam padi transgenik tersebut? Karena bila tidak ada label
bagi padi transgenik yang mengandung beta karoten, sementara konsumen
memakan padi tersebut bersama dengan makanan lain yang mengandung beta
karoten apakah tidak akan kelebihan beta karoten? Sekali lagi saya tidak
tahu bahayanya overdosis betas karoten, tetapi sesuatu yang berlebihan
jelas tidak akan menguntungkan bagi tubuh (mega dosis vitamin c, misalnya
dikatakan memberikan kekebalan ekstra pada tubuh, tapi bila diminum dalam
keadaan sehat, kelebihannya dibuang dalam air seni yang membuat ginjal
harus bekerja ekstra keras).
Artikel ini tidak membahas pisang dan kentang bervaksin, jadi ya kita bahas
lain kali saja.
Yang terakhir, saya ingin mengulas kembali tentang perlukah rekayasa
genetika bagi Indonesia dan negara berkembang umumnya? Para proponen
rekayasa genetika memang mengatakan bahwa ini perlu untuk menanggulangi
kelaparan, kekurangan gizi dan penyakit di negara berkembang. Bahwa ketiga
persoalan tersebut adalah kenyataan di negara berkembang, tidak saya
bantah. Tetapi bahwa rekayasa genetika adalah jawabannya saya pikir tidak
terlalu benar. Kita seringkali kesengsem dengan teknologi canggih dan
berpikir bahwa persoalan akan selesai dengan teknologi tersebut. Saya dapat
menyebutkan banyak contoh: misalnya kekurangan energi dicoba diselesaikan
dengan tenaga nuklir bukan dengan penghematan dan efisiensi; kekeringan di
saat El nino diselesaikan dengan percobaan hujan buatan yang memakan biaya
jutaan dollar padahal hujan buatan hanya dapat berhasil bila ada awan, dan
pada musim el nino tidak ada cukup awan.
Setelah diruntut, salah satu sebabnya adalah bahwa sistem pendidikan modern
mendewakan teknologi canggih. Kebetulan, saya sedang membaca buku yang
berjudul Earth in Mind oleh David W. Orr, terbitan Island Press. 1994. Buku
in membahas sistem pendidikan dalam kaitan dengan lingkungan hidup. Dia
sampai pada beberapa kesimpulan menarik, tetapi yang paling penting ada
dua. Pertama, bahwa pendidikan kita sudah tercerabut dari persoalan
peradaban manusia sehingga memberikan "know how" tapi mengabaikan "know
why". Bahkan menurutnya know how diberikan secara terpisah dari know why.
Akibatnya para murid diajarkan bagaimana menyelesaikan persoalan tapi tidak
untuk bertanya secara kritis kenapa persoalan itu ada. Dalam konteks
pembahasan kita adalah bahwa proponen rekayasa genetika bermaksud
(kadang-kadang dengan hati tulus) menyelesaikan persoalan kelaparan dan
kesehatan di negara miskin, tetapi lupa bertanya kenapa ada kelaparan dan
penyakit?
Kedua, menurut David Orr, sejak jaman Francis Bacon, terjadi kolusi antara
pelaku ilmu pengetahuan dengan kekuasaan (sektor bisnis dan pemerintah).
Akibatnya pendidikan menjadi bisnis yang tugasnya melahirkan ahli untuk
dipekerjakan di sektor bisnis guna menghasilkan laba, tanpa mempedulikan
persoalan sosial masyarakat. Kolusi tersebut sangat nyata dalam
perkembangan rekayasa genetika, dimana kini masyarakat meragukan kebenaran
informasi yang diberikan oleh para ahli yang bekerja untuk perusahaan.
Dalam hal ini kejujuran ilmiah sedang mengalami ujian dan hanya akan lulus
bila ilmu pengetahuan dikembalikan ke domain masyarakat dan tidak lagi
berkolusi dengan kekuasaan. Pembahasan tentang aman tidaknya dan perlu
tidaknya rekayasa genetika baru dapat dilakukan bila para ilmuwan memotong
ikatan kolusi antara mereka dengan kekuasaan.
Saya mohon maaf pada teman-teman yang tidak tertarik dengan pembahasan ini,
mungkin terlalu panjang. Harapan saya, bahasan ini dapat memicu wacana
tidak saja tentang rekayasa genetika tetapi juga tentang hubungan teknologi
dan lingkungan hidup. Bahasan tentang rekayasa genetika saya sudahi disini
kecuali bila ada tanggapan. Kalau boleh, saya akan mengirimkan beberapa
posting baru tentang rekayasa genetika pada waktu-waktu mendatang.
Terima kasih atas kesabaran teman-teman dan sekali lagi terima kasih kepada
Witjak yang memicu diskusi ini.
Salam
Hira
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/