Hira,

Apakah anda sudah terima bahan dari diskusi di WB tentang hal ini. Mohon 
ditanyakan ke Pak Yogana Prasta di WB Jakarta. Saya kirimkan sekitar 7 hari 
yang lalu.

Rusdian

>From: "Hira D.G." <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: "lingkungan" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [lingkungan] Rockefeller dan rekayasa genetika
>Date: Mon, 3 Jan 2000 19:12:03 +0700
>
>Terima kasih Witjak atas kiriman keempat artikelnya. Saya baru membaca satu
>artikel berjudul "Feeding The World in the Twenty First Century " yang
>ditulis oleh Gordon Conway dan Gary Toenniessen, keduanya dari the
>Rockefeller Foundation, New York.  Bagi teman-teman yang tidak membaca
>artikel tersebut, ringkasan yang dikirim Witjak sudah mewakili. Untuk
>sekedar mengingatkan, kira-kira isinya adalah bahwa dunia di masa depan
>akan kekurangan pangan, dan jumlah terbesar yang kekurangan ada di negara
>sedang berkembang. Hal ini karena revolusi hijau tidak mampu menandingi
>pertumbuhan populasi. Jadi perlu teknologi baru. Artikel ini juga
>mengkritisi soal hak paten, peran swasta dan debat pro-kontra rekayasa
>genetika.
>
>
>Secara keseluruhan, artikel tersebut cukup berimbang bila kita membaca
>sekilas. Tetapi bila kita cermati, pesannya amat jelas yaitu bahwa
>kelaparan dan kekurangan gizi di negara berkembang dapat diatasi dengan
>rekayasa genetika dan bahwa konteks penggunaan teknologi ini berbeda dengan
>di negara maju. Bahwa kalau negara berkembang ingin menjadi swadaya, maka
>rekayasa genetika adalah jawabannya, walaupun diakui bahwa kadar
>keamanannya perlu dipastikan lebih dahulu.
>
>Mencermati artikel tersebut, saya ingin berbagi beberapa pandangan saya,
>sebagai berikut:
>
>
>
>I. Siapakah ROCKEFELLER FOUNDATION ?
>Ketika membaca pesan Witjak tentang artikel dari Rockefeller foundation
>(RF) yang katanya adalah lembaga non-profit jadi tidak punya kepentingan
>dan bisa netral,  alarm segera berbunyi di benak saya. Rasanya ada suatu
>sejarah tentang RF yang perlu diketahui, sebelum kita menilai bahwa lembaga
>ini netral. Dan ternyata benar. Buku yang berjudul Biopolitics, disunting
>oleh Vandana Shiva dan  Ingunn Moser, diterbitkan oleh Zed Books memuat
>sedikit info tentang RF, sebagai berikut:
>RF adalah donor di belakang pembentukan International Rice Research
>Institute (IRRI) yang  menjadi tulang punggung revolusi hijau dalam sektor
>padi tetapi juga mengumpulkan plasma nutfah padi dari negara sedang
>berkembang untuk digunakan bersama, termasuk oleh perusahaan multinasional
>(MNC).  Hasilnya adalah padi varietas unggul yang sebenarnya tidak unggul,
>karena tidak meningkatkan produksi bila tidak diberi input pupuk dan
>pestisida kimia. Dan yang penting, varietas unggul di"ciptakan" tidak
>begitu saja, tetapi terkait dengan upaya menjual pupuk, pestisida dan mesin
>yang sudah diciptakan leibh dahulu di AS dan Jepang. Ideologi di balik
>penciptaan varietas unggul adalah mengubah masyarakat agraris di Asia
>menjadi masyarakat pasar. Arthur Moses, Presiden Agricultural Concil yang
>dibentuk oleh John D. Rockefeller III mengatakan pada masa awal revolusi
>hijau "struktur sosial dalam masyarakat agraria perlu dibongkar guna
>mendorong kepentingan pasar yang agresif"  Selain itu RF membiayai The
>consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR), beberapa
>lembaga penelitian di bawah bank dunia. Kalangan LSM menyebutkan CGIAR
>sebagai lembaga yang menjarah plasma nutfah negara di selatan untuk
>digunakan oleh Utara dan menghasilkan laba yang luar biasa.
>
>Nah, sekarang RF dan rekayasa genetika. Induk rekayasa genetika adalah
>biologi molekuler. Saya juga baru sadar  bahwa istilah biologi molekuler
>ternyata pertama kali diciptakan oleh Warren Weaver pada tahun 1930 yang
>adalah direktur divisi ilmu alam RF. RF adalah patron utama biologi
>molekular dari tahun 1930 hingga 1950 dan  menyumbangkan US$25 juta untuk
>program biologi molekuler di AS serta  meletakkan trend perubahan dari
>pandangan organis dalam biologi menjadi molekuler. Yang lebih seru lagi, RF
>membiayai beberapa proyek eugenics (ilmu  tentang seleksi dan kontrol
>sosial melalui genetika) yang sempat surut karena dianggap sebagai alat
>diskriminasi terhadap manusia yang gennya tidak "sempurna".  Artinya, bisa
>saja suatu perusahaan menolak memperkerjakan karyawan yang berdasarkan
>pemerikaan genetika mempunyai gen yang cenderung menimbulkan kanker pada
>usia tertentu.
>
>Kenapa saya mengulas sejarah RF? Sederhana, ketika membaca artikel, kita
>harus kritis siapa yang menulis dan apa kepentingannya. Bagi saya analisis
>sejarah itu penting, agar kita tahu berada di pihak mana suatu organisasi.
>Dengan demikian, secara jujur, saya mungkin tidak obyektif menilai artikel
>di atas, tetapi apa boleh buat. Ya begitu keadaannya. Tapi saya mencoba
>membuat bahasan melalui pertanyaan yang tidak terkait dengan RF namun
>terkait dengan substansinya.
>
>2.     ISI ARTIKEL
>Alinea pertama dibuka dengan pernyataan bahwa revolusi hijau sudah sukses
>meningkatkan pangan. Saya tertegun, karena banyak pihak termasuk FAO kini
>mengakui bahwa sebenarnya Revolusi hijau di bidang pertanian merusak sistem
>sosial pedesaan dan merusak lingkungan. Memang hasil panen meningkat tapi
>biaya sosial, ekonomi dan lingkungannya tinggi sehingga bila dibuat neraca,
>sebenarnya tidak menguntungkan. Lalu dikatakan bahwa Revolusi hijau sudah
>menguntungkan kaum miskin, nah kan saya bingung lagi. Kita tahu dari
>berbagai penelitian bahwa petani kaya yang mampu beli input yang
>diuntungkan oleh revolusi hijau.  Silakan teman-teman menyimpulkannya
>sendiri.
>
>Kedua, pada bagian berikut, penulisnya mengakui bahwa perosalannya bukan
>bahwa produksi pangan tidak cukup, tetapi bahwa  pangan tidak
>didistribusikan secara merata. Dan bahwa ekonomi pasar tidak akan
>menguntungkan masyarakat kecil. Tetapi anehnya, solusinya kemudian
>dinyatakan sebagai rekayasa genetika agar negara berkembang tidak usah
>impor pangan. Ada ketidak konsistenan disini. Mereka menjelaskan
>persoalannya  adalah distribusi dan ekonomi pasar, tapi solusinya kok
>teknologi?
>
>Penulisnya juga tidak setuju dengan moratorium secara umum karena
>menurutnya setiap transgenik punya karkateristik tertentu sehingga perlu
>dilakukan analisis kasus per kasus. Dalam hal ini saya pikir ada kesalaha
>pahaman. Yang dituntut oleh masyarakat sipil adalah moratorium uji coba
>lapangan, pelepasan dan penggunaan transgenik sampai ada rejim hukum yang
>ketat (seperti ketatnya pengawasan obat), sampai analisis resiko dan
>manajemen resiko diberlakukan. Juga yang ditentang adalah pendanaan
>besar-besaran untuk riset dan pengembangan rekayasa genetika sementara
>teknologi lain (seperti riset tentang sistem pertanian ekologis yang juga
>mampu menghasilkan panen tinggi) sulit mendapatkan dana, padahal setiap
>teknik perlu dicoba bersama.
>
>Selanjutnya dikatakan bahwa resiko menggunakan atau tidak menggunakan
>transgenik berbeda di negara sedang berkembang dan di negara maju. Sekali
>lagi, gambaran yang ingin diberikan adalah bahwa negara miskin sebaiknya
>pakai rekayasa genetika, karena beda dengan kondisi di negara maju, yaitu
>bahwa penduduk miskin dan kelaparan berada di negara sedang berkembang. Ya
>orang miskin kasih saja teknologi yang merusak lingkungan karena tidak
>memiliki pilihan begitu kira-kira. Double standard kan?
>
>Tetapi banyak hal positif dari artikel ini. Misalnya diakui bahwa selama
>ini riset dan pengembangan rekayasa genetika memang ditujukan untuk
>keuntungan MNC dan bukan petani miskin, dan bahwa perlindungan paten
>merugikan petani, bahwa penggunaan sumber daya genetika tidak menguntungkan
>negara asal sumber tersebut. Terakhir, penulis juga mengatakan bahwa
>rekayasa genetika hanya boleh digunakan bila keamanannya sudah terjamin.
>
>3.     Multiple gen, beta caroten dan vaksin
>
>Artikel tersebut menyebutkan bahwa dalam sepuluh tahun mendatang, akan
>diperoleh kemajuan lebih pesat dalam introduksi gen ganda untuk tanaman
>transgenik. Hal ini dimulai dengan mengintroduksi tiga gen ke dalam padi
>guna menghasilkan beras yang mengandung beta carotene, yang akan
>memproduksi vitamin A dalam tubuh manusia. Pertanyaan saya sederhana,
>apabila memasukan satu gen tunggal menimbulkan berbagai interaksi yang
>"unpredictable", maka apa jadinya dengan introduksi gen berganda? Tentu
>saja, karena keterbatasan halaman, artikel tersebut tidak membahas hal ini.
>Namun bila ada teman-teman yang dapat memberikan informasi lebih lanjut
>tentang hal ini, akan sangat membantu kita memahami masalahnya. Dalam
>logika saya, gen berganda akan saling berinteraksi di antara mereka,
>masing-masing akan berinteraksi dengan gen dalam tanaman induk yang mungkin
>akan menimbulkan reaksi berantai, lalu juga akan berinteraksi secara
>masing-masing atau berkelompok dengan lingkungannya. Nampak rumit bukan?
>Memang interaksi antara komponen alam dapat dipelajari tetapi seringkali
>tidak dapat diprediksi hasil akhirnya.
>
>Yang menarik tentulah kandungan vitamin A (beta carotene) dalam beras yang
>disebut "golden rice". Menurut mereka hal ini akan membantu konsumen miskin
>karena hanya dengan makan nasi, kebutuhan vitamin A sudah terpenuhi. Tapi
>tidak disebutkan kandungan beta karoten berapa kadarnya, dan apabila
>seseorang makan dua piring nasi sehari, jadi berapa? Bagaimana kalau
>kelebihan vitamin A atau bahkan zat besi yang katanya meningkat tiga kali
>lipat melalui introduksi gen? Mungkin ada teman-teman yang dapat memberikan
>informasi apakah kelebihan zat besi dan beta karoten itu aman atau tidak.
>
>Demikian pula ada tabel yang memuat beberapa percobaan laboratorium dan
>lapangan dalam bidang rekayasa genetika di negara berkembang (tidak
>disebutkan tempatnya). Salah satunya adalah merekayasa kentang dan pisang
>sebagai saran untuk memproduksi vaksin rekombinan bagi manusia. Wadalah,
>jadi nanti setiap kita makan pisang, kita juga makan vaksin (entah vaksin
>apa). Kalau memang demikian, apakah vaksin akan tetap dapat bekerja dengan
>baik bila dimakan setiap hari (pisang adalah salah satu buah termurah yang
>dimakan oleh orang hampir setiap hari di Indonesia). Bukankah vaksin harus
>diberikan secara berjangka dan tidak setiap hari? Apakah pisang tersebut
>bukan selayaknya dijual di rumah sakit dan orang yang makan harus diberi
>kartu kapan harus kembali untuk makan pisang vaksin lagi? Belum lagi ada
>pertanyaan apakah vaksin rekombinan aman untuk manusia? (Ada sinyalemen
>bahwa banyak Tentara AS yang pulang dari perang Teluk mengalami penyakit
>aneh. Setelah diselidiki, tentara ini diberikan vaksin rekombinan untuk
>mendapat kekebalan atas penyakit di daerah Teluk. Tentu saja analisis resmi
>mengatakan bahwa penyakit aneh ini timbul akibat stress dll).
>
>Saya tidak habis pikir apakah persoalan kekurangan vitamin A dan zat besi
>hanya dapat diselesaikan dengan rekayasa genetika? Menurut hemat saya,
>kekurangan Vitamin A dan Zat besi adalah masalah pendidikan bagi keluarga,
>terutama kaum ibu dan akses pada sumberdaya. Bila keluarga punya cukup uang
>untuk beli dan lahan serta akses produksi yang cukup untuk menanam pepaya
>dan sayuran hijau serta dipastikan mereka mengetahui bahaya kekurangan
>vitamin A maka urusan vitamin A selesai. Demikian pula zat besi tidak hanya
>dalam hati hewan tapi juga bayam dan kangkung. Persoalannya kan sederhana,
>kok harus diselesaikan dengan rekayasa genetika? Bayangkan jika investasi
>rockefeller yang berjumlah 100 juta dolar AS untuk riset rekayasa genetika
>dalam bidang padi dialihkan pada pendidikan dan memastikan akses pada
>sumber daya bagi kaum miskin, bukankah lebih efektif? Saya pikir alur pikir
>yang sama berlaku untuk vaksin.
>
>
>4.     Berapa Input proses produksi?
>
>Benih padi transgenik nantinya akan diberikan secara gratis kepada para
>petani di Asia dan Afrika serta Merika Latin. Tetapi tidak dijelaskan
>apakah menanam padi trasgenik tersebut memerlukan input tertentu?
>Jangan-jangan nantinya padi transgenik perlu perlakukan khusus yang mahal?
>Apakah gabah padi transgenik dapat ditanam pada musim berikutnya dengan
>sifat yang stabil? Apakah gerakan padi transgenik ini tidak akan membuat
>ketergantungan baru bagi petani terhadap input dari luar?
>
>Dan apakah akan ada upaya untuk memberitahu konsumen dan petani tentang apa
>yang terkandung dalam padi transgenik tersebut? Karena bila tidak ada label
>bagi padi transgenik yang mengandung beta karoten, sementara konsumen
>memakan padi tersebut bersama dengan makanan lain yang mengandung beta
>karoten apakah tidak akan kelebihan beta karoten? Sekali lagi saya tidak
>tahu bahayanya overdosis betas karoten, tetapi sesuatu yang berlebihan
>jelas tidak akan menguntungkan bagi tubuh (mega dosis vitamin c, misalnya
>dikatakan memberikan kekebalan ekstra pada tubuh, tapi bila diminum dalam
>keadaan sehat, kelebihannya dibuang dalam air seni yang membuat ginjal
>harus bekerja ekstra keras).
>Artikel ini tidak membahas pisang dan kentang bervaksin, jadi ya kita bahas
>lain kali saja.
>
>
>Yang terakhir, saya ingin mengulas kembali tentang perlukah rekayasa
>genetika bagi Indonesia dan negara berkembang umumnya? Para proponen
>rekayasa genetika memang mengatakan bahwa ini perlu untuk menanggulangi
>kelaparan, kekurangan gizi dan penyakit di negara berkembang. Bahwa ketiga
>persoalan tersebut adalah kenyataan di negara berkembang, tidak saya
>bantah. Tetapi bahwa rekayasa genetika adalah jawabannya saya pikir tidak
>terlalu benar. Kita seringkali kesengsem dengan teknologi canggih dan
>berpikir bahwa persoalan akan selesai dengan teknologi tersebut. Saya dapat
>menyebutkan banyak contoh: misalnya kekurangan energi dicoba diselesaikan
>dengan tenaga nuklir bukan dengan penghematan dan efisiensi; kekeringan di
>saat El nino diselesaikan dengan percobaan hujan buatan yang memakan biaya
>jutaan dollar padahal hujan buatan hanya dapat berhasil bila ada awan, dan
>pada musim el nino tidak ada cukup awan.
>
>Setelah diruntut, salah satu sebabnya adalah bahwa sistem pendidikan modern
>mendewakan teknologi canggih. Kebetulan, saya sedang membaca buku yang
>berjudul Earth in Mind oleh David W. Orr, terbitan Island Press. 1994. Buku
>in membahas sistem pendidikan dalam kaitan dengan lingkungan hidup. Dia
>sampai pada beberapa kesimpulan menarik, tetapi yang paling penting ada
>dua. Pertama, bahwa pendidikan kita sudah tercerabut dari persoalan
>peradaban manusia sehingga memberikan "know how" tapi mengabaikan "know
>why". Bahkan menurutnya know how diberikan secara terpisah dari know why.
>Akibatnya para murid diajarkan bagaimana menyelesaikan persoalan tapi tidak
>untuk bertanya secara kritis kenapa persoalan itu ada. Dalam konteks
>pembahasan kita adalah bahwa proponen rekayasa genetika bermaksud
>(kadang-kadang dengan hati tulus) menyelesaikan persoalan kelaparan dan
>kesehatan di negara miskin, tetapi lupa  bertanya kenapa ada kelaparan dan
>penyakit?
>
>Kedua,  menurut David Orr, sejak jaman Francis Bacon, terjadi kolusi antara
>pelaku ilmu pengetahuan dengan  kekuasaan (sektor bisnis dan pemerintah).
>Akibatnya pendidikan menjadi bisnis yang tugasnya melahirkan ahli untuk
>dipekerjakan di sektor bisnis guna menghasilkan laba, tanpa mempedulikan
>persoalan sosial masyarakat. Kolusi tersebut sangat nyata dalam
>perkembangan rekayasa genetika, dimana kini masyarakat meragukan kebenaran
>informasi yang diberikan oleh para ahli yang bekerja untuk perusahaan.
>Dalam hal ini kejujuran ilmiah sedang mengalami ujian dan hanya akan lulus
>bila ilmu pengetahuan dikembalikan ke domain masyarakat dan tidak lagi
>berkolusi dengan kekuasaan. Pembahasan tentang aman tidaknya dan perlu
>tidaknya rekayasa genetika baru dapat dilakukan bila para ilmuwan memotong
>ikatan kolusi antara mereka dengan kekuasaan.
>
>Saya mohon maaf pada teman-teman yang tidak tertarik dengan pembahasan ini,
>mungkin terlalu panjang. Harapan saya, bahasan ini dapat memicu wacana
>tidak saja tentang rekayasa genetika tetapi juga tentang hubungan teknologi
>dan lingkungan hidup. Bahasan tentang rekayasa genetika saya sudahi disini
>kecuali bila ada tanggapan. Kalau boleh, saya akan mengirimkan beberapa
>posting baru tentang rekayasa genetika pada waktu-waktu mendatang.
>
>Terima kasih atas kesabaran teman-teman dan sekali lagi terima kasih kepada
>Witjak yang memicu diskusi ini.
>
>Salam
>
>Hira
>
>
>
>
>
>
>
>-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com


-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/




Kirim email ke