Bersama ini saya tayangkan tanggapan rekan Ani di Bogor, yang kira2
seminggu lalu hanya terkirim ke email saya sendiri.

Hasjrul Junaid
--------------
>From [EMAIL PROTECTED] Thu Dec 30 11:54:02 1999
Date: Thu, 30 Dec 1999 13:03:49 +0700
From: Ani Mardiastuti <[EMAIL PROTECTED]>
To: skephieu <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: Paper Tentang Departemen Kehutanan dan Perkebunan RI

    [ The following text is in the "iso-8859-1" character set. ]
    [ Your display is set for the "US-ASCII" character set.  ]
    [ Some characters may be displayed incorrectly. ]

Rekan Hasjrul,

Terimakasih atas kiriman papernya.  Sesuai dengan "tagihan" Anda, saya
kirimkan komentar saya atas tulisan tersebut.

Saya sangat setuju bahwa memang sudah saatnya hutan ini dimanfaatkan 
"jasa" nya, dan bukan kayunya saja.  Dengan kata lain, fungsi 
konservasi seharusnya mulai ditingkatkan di masa mendatang.  Saya yakin 
teman-teman di Dephutbun sendiri telah "sadar" akan kesalahan yang 
selama ini dibuat melalui skema HPH.  Pertanyaan berikutnya adalah: 
sistem pengusahaan hutan seperti apakah yang sebaiknya kita laksanakan?  
Kalau memang pengelolaannya diberikan kepada masyarakat, apakah mereka 
telah siap (termasuk industri hilirnya)?
Pada saat negara telah terpuruk begini, apa yang sebaiknya kita lakukan
dengan hutan?

Industri kehutanan kita juga sedang mengalami dilema besar.  Data yang 
ada menunjukkan bahwa kita sesungguhnya hanya memanen (AAC) 29.5 juta 
kubik kayu, sementara demand (plywood/panels, sawn timber, pulp/paper) 
tercatat 60.0 juta kubik.  Lha yang kekurangannya sebesar 31.1 juta 
kubik diambil dari mana?  Kan ini menunjukkan bahwa kita selama ini 
telah "mencuri" kayu kita sendiri?

Bagaimana kalau industri kita kurangi atau kita tutup saja?  Tentu akan
banyak yang dipensiunkan.  Jumlah tenaga kerja yang terkait langsung
tercatat 2.35 juta jiwa dan yang tak terkait langsung 1.5 juta jiwa, 
atau diperkirakan akan menyangkut 15-17 juta jiwa (asumsi berkeluarga 
dengan 2 anak).

Kalau kita simak kembali visi [versi terakhir?] Dephutbun "terwujudnya
pengurusan sumberdaya hutan dan kebun untuk sebesar-besarnya 
kesejahteraan rakyat secara berkeadilan dan berkelanjutan melalui 
pengelolaan yang profesional dan pelayanan prima", agaknya memang tidak 
secara explisit dinyatakan demikian, meskipun di dalam misinya telah 
dicantumkan.  BTW, misi mereka adalah:
a. mewujudkan dan menjamin keberadaan SDH melalui pemantapan kawasan 
hutan tetap termasuk kawasan konservasi daratan dan perairan serta 
areal kebun, yang menjamin tersedianya kapasitas SD tersebut bagi 
mendukung keandalan ekonomi, ketahanan sosial budaya dan kelestarian 
fungsi dan lingkungan hidup 
b. melaksanakan pengelolaan SDH, kawasan konservasi alam dan real 
perkebunan sesuai asas perlindungan sistem penyangga kehidupan, 
pengawetan keanekaragaman jenis flora dan fauna beserta ekosistemnya 
dan pemanfaatannya secara adil dan lestari melalui mekanisme yang 
transparan, partisipatip dan dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat
c. melaksanakan pola regenerasi hutan dan kebun yang berwawasan sosial 
dan lingkungan untuk menanggulangi degradasi hutan dan lahan
d. menjamin distribusi manfaat sumberdaya hutan dan kebun yang adil, 
merata dan berkelanjutan.

Data tentang luas hutan juga masih simpang siur.  Luas areal berhutan
menurut catatan terakhir berkisar antara 121.19 juta ha (versi ODA) 
atau 140.4 juta menurut versi Badan Planologi Dephutbun.  Sementara 
itu, di tubuh Dephutbun sendiri juga retak.  Ada yang ingin melakukan 
"business as usual", ada sebagian lagi yang ingin perombakan total.  
Posisi Perkebunan sendiri masih diperebutkan oleh 2 departemen.  
Tanggal 22 Desember 99 telah dilimpahkan ke Departemen Kehutanan 
melalui suatu Keppres, lima hari kemudian dikembalikan ke Departemen 
Kehutanan melalui Keppres yang lain.

Figur Menhutbun sendiri mencerminkan bahwa ia kurang "kuat", sehingga 
masih perlu mengandalkan teman-teman dekatnya dari luar yang 
pengetahuan kehutanannya terbatas.  Mungkin juga ia merasa tidak ada 
orang (khususnya eselon I) yang dapat dipercaya sebagai sumber berita.  
Maka, pada saat Sekjen dari luar bidang kehutanan akan dilantik, 
departemen itu menjadi heboh luar biasa.

Persoalan kehutanan memang sangat pelik dan kompleks.  Kesalahan yang 
telah kita perbuat di masa lalu mungkin telah sedemikian banyaknya 
sehingga untuk memperbaikinya kita belum tahu harus dimulai dari mana 
dan bagaimana melaksanakannya.  Saya berharap Dephutbun mau 
mendengarkan, mengkaji, memilih options dan melaksanakan saran dari 
pihak luar yang tidak memiliki interest pribadi dengan tujuan yang sama 
- mewujudkan hutan yang lestari. 

Salam dari Bogor,
Ani
Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan
Fakultas Kehutanan IPB





-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/




Kirim email ke