Saya setuju dengan Elly, kebetulan saya juga menjadi salah satu peer review
paper Bank Dunia (antara lain ditulis oleh Elly)tentang penambangan di
Indonesia.
Tanpa mengecilkan masalah pertambangan skala besar (yang jelas tidak kecil)
dan sekarang mulai dibumbui isyu politik, kita perlu memperhatikan ancaman
pertambangan skala kecil dan liar yang banyak bertebaran di seluruh tanah
air. Mudah-mudahan Mentamben,MenLH dan Mendagri segera mencari jalan keluar.
Repotnya PETI memang seringkali tidak mempunyai dana dan kemampuan cukup
untuk menyelesaikan persoalan lingkungan tanpa bantuan pemerintah. Ditambah
jaringan "mafia" yang berbelit belit. Teoritis, masalah penambang besar
malah lebih mudah ditangani. Sebab mereka punya dana, skill dan kredibilitas
yang dipertaruhkan dipasar modal. PETI tidak !
NGO perlu menaruh perhatian ke masalah ini. Tidak hanya ke pertambangan
skala besar. Seminar di Bogor itu sangat penting. Salam saya buat Pak Naya
(Elly, tolong bisa di forward ke email beliau ?).
RL
>From: Elly Rasdiani Sudibjo <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
>Date: Tue, 29 Feb 2000 08:38:06 +0700
>
>Pak Witjak,
>
>Sebenarnya masalah ini sudah mulai di diskusikan pada awal tahun 1999.
>Tapi media massa .. mungkin juga LSM .. juga DPR/DPRD (pada waktu itu ..
>dan mungkin juga masih sampai saat ini) lebih tertarik dengan kasus yang
>kontroversial seperti Freeport, Inti Indo Rayon dan Newmont.
>
>OK, perusahaan besar harus diawasi, tapi ya kita jangan lupa juga dengan
>masalah yang disebabkan oleh "notabene rakyat kecil" juga dong !!!
>Masalah Pongkor tidak bisa kita bebankan hanya kepada pemerintah saja,
>semua sekarang harus memikirkan. Studi masalah Pongkor sudah banyak,
>sudah dicoba untuk diangkat diantara media massa juga lho. Sayangnya
>kurang mendapat perhatian yang lebih dari para jurnalis. Kalau kita
>lihat secara lebih mendalam mengenai kasus Pongkor ini, wah ngeri
>sebetulnya. Karena yang involve didalamnya sangat beragam, dan
>mafia-nya juga kuat sekali !!! Bukan saja aparat .. tapi silahkan
>teropong struktur masyarakat di Pongkor tersebut !!! Terus terang saja,
>saya kurang sreg untuk mendiskusikannya secara publik. Saya dapat
>dihubungi di nomor tilpun 62-81-811 8001.
>
>Bagaimana juga dengan kasus yang sama di Kalteng ? atau daerah lainnya ?
>Mungkin tidak di Sulawesi Utara ? Selain itu kemungkinan timbulnya
>masalah air asam di KalSel sudah ada yang meneropong belum ?
>
>Regards,
>Elly
>_________________________________________
>witjaksono wrote:
> >
> > Pecinta Lingkungan Yth,
> > Pencemaran air raksa oleh penambang liar dan mungkin dari
>penambang resmi
> > (?) dari Gunung Pongkor (Media Indonesia 2/26/00; saya tempel di bawah
>pesan
> > saya) adalah sangat gawat. Di Minamata, diperkirakan lebih dari 70-150
>ton
> > air raksa dibuang di Minamata Bay yang kemudian mengakibatkan penyakit
> > Minamata (kerusakan susunan syaraf pusat akibat memakan ikan yang
>tercemar
> > air raksa). Keterangan selanjutnya bisa dibaca di:
> > http://www.caduceus.com.pe/supercourse/lecture/lec0361/index.htm
> > Sedangkan menurut berita di Media Indonesia, dipakai 4.86 ton air raksa
>per
> > bulan. Bila di hitung sejak 1994, maka selama 6 tahun ini telah dipakai
>350
> > ton air raksa. Dan 30% masuk sungai Cikaniki. Ini berarti bahwa tingkat
> > pencemaran sudah menyamai pencemaran di Minamata.
> > Hasil dari penyakit Minamata bisa lihat di:
> > http://www.tama.or.jp/~sena/minamata/tokyoten/ehome.html (terlalu
>mengerikan
> > dan menyedihkan untuk dipaparkan). Kegawatan dari pencemaran air
>raksa ini
> > adalah karena masuknya air raksa ini dalam rantai makanan di ekosistim
>laut
> > Minamata dan mengumpul pada ikan sebagai ujung dari rantai itu. Air
>raksa
> > yang mengumpul di ikan tersebut lalu menyebabkan orang yang makan ikan
>itu
> > jadi sakit bila kadar air raksa dalam tubuh orang tersebut telah
>melewati
> > batas tertentu. Ini semua terjadi pada air raksa organik dalam bentuk
> > methyl mercury. Apakah ceritanya akan sama dengan pencemaran air raksa
>dari
> > Gunung Pongkor, saya tidak tahu.
> > Ambang batas pencemaran di air adalah 0,1 ppb (0,1 mg dalam 1 ton),
> > sedangkan pencemaran sedimen sungai Cikaniki sudah mencapai rata-rata
>3,5
> > ppm (3,5 g dalam 1 ton) yang berarti 35 ribu kali ambang batas. Sayang
> > tidak dicantumkan kadar pencemaran air sungainya.
> > Lalu bagaimana tanggapan pemerintah terhadap masalah ini?
>Membaca berita
> > dari Media Indonesia itu, saya menangkap kesan bahwa pemerintah
>(Mentamben
> > dan MenegLH) kurang menyadari kegawatan pencemaran dari Gunung Pongkor.
> > Usulan pemecahan masalah hanya menitik beratkan pada para penambang
>liar.
> > Bangaimana dengan masyarakat yang hidup di daerah aliran sungai yang
>airnya
> > tercemar? Bila pada tahun-tahun mendatang mereka pada sakit, lahir
> > bayi-bayi yang cacat, orang-orang pada sekarat, siapa yang akan
>menanggung?
> > Apakah penambang-penambang liar yang mungkin juga sudah akan pada
>sekarat?
> > Pemecahan masalah yang cepat dan nyata perlu segera dilakukan.
>Perdaganan
> > air raksa harus diatur dan hanya badan yang mempunyai fasilitas
>pembuangan
> > limbah yang memadai yang boleh membeli. Pemilik/pembeli air raksa harus
> > mendapat ijin dari misalnya Departemen Pertambangan dan Kementrian LH.
>Bila
> > ini dilakukan, maka penambangan liar akan berhenti. Segala pencemaran
>bisa
> > dibebankan pada penambang resmi. Selain itu perlu dilakukan penyuluhan
> > besar-besaran pada masyarakat DAS supaya tidak terlalu banyak makan ikan
> > dari sungai yang tercemar. Untuk lebih akuratnya perlu monitoring kadar
>air
> > raksa di ikan tangkapan dari sungai tercemar, sehingga bisa dihitung
> > seberapa banyak ikan yang boleh dimakan per harinya. Keramba harus
>dilarang
> > di sungai yang tercemar.
> > Semoga pihak-pihak yang lebih berwenang dan lebih tahu dari saya
>dapat
> > berbuat lebih banyak dalam menangani kasus ini. Supaya di kemudian hari
> > kita tidak menyesal karena tidak berbuat apa-apa atau terlalu terlambat
> > menolong para penambang liar bunuh diri dengan bermain air raksa dan
>membawa
> > serta masyarakat penduduk DAS dan mungkin penduduk kota Bogor dan
>Tangerang
> > yang memakai air PDAM yang bersumber dari Sungai Cisadane yang bersumber
> > dari Sungai Cikaniki.
> >
> > Witjaksono
> > Postdoctoral Research Associate
> > Tropical Research and Education center
> > University of Florida
> > 18905 SW 280th Street
> > Homestead Florida 33031-3314
> > USA
> >
> > Limbah Bijih Emas Pongkor Melebihi Bahaya di Jepang
> > Media Indonesia - Jabotabek (2/26/00)
> >
> > BOGOR (Media): Limbah pabrik dan buangan penggalian
> > liar bijih emas Gunung Pongkor mencemari Kali Cisadane. Pencemaran logam
> > berat mercury itu dapat mengakibatkan kematian bagi manusia. Peneliti di
> > sana menemukan gumpalan pencemaran mercury di beberapa titik melebihi
> > kejadian Teluk Minamata, Jepang. Masalah besar akan melanda karena Kali
> > Cisadane merupakan salah satu sumber bahan baku air bersih PDAM Bogor
>dan
> > PDAM Tangerang.
> >
> > Hal itu terungkap dalam diskusi "Penanganan Masalah
> > Dampak Lingkungan akibat Kegiatan PETI di Kecamatan Nanggung". Diskusi
> > dihadiri Mentamben Bambang Soesilo Yudhoyono, Menteri Lingkungan Hidup
>Sonny
> > Keraf, kemarin, di ruang Serba Guna I Pemda Kabupaten Bogor.
> > Dalam diskusi sehari yang dipandu Staf Ahli
>Mentamben
> > bidang Lingkungan Surnatjahja Djajadiningrat,Ketua Bapedal Jawa Barat
>Dodo
> > Perdata terungkap bahwa terdapat sekitar 6.000 orang PETI (penggali emas
> > tanpa izin) di Gunung Pongkor.
> >
> > Menurut Dodo Perdata, aktivitas Unit Penggalian
>Emas
> > Pongkor (Upep) sejak 1994 telah menimbulkan pencemaran berupa zat kimia
> > mercury yang tak bisa larut dalam senyawa kimia. Hasil penelitian Juni
>1999
> > yang masuk ke Bapedalda Jabar, katanya, pencemaran terjadi pada
>sedimentasi
> > tanah Kali Cikaniki I dan II (Kali Cisadane hulu), umumnya mencapai 3,50
> > miligram part per million (ppm). Di beberapa titik mencapai 28,38 ppm.
> > "Sementara di Teluk Minamata Jepang yang
>menewaskan manusia akibat
> > kerusakan jaringan otak hanya mencapai 25 ppm," ungkap Dodo memberi
> > perbandingan. Pencemaran mercury demikian mengerikan
> > karena pembersihan bijih emas dari bongkahan tanah setiap
> > bulannya menggunakan 4,86 ton zat kimia air raksa. Sekitar 30% limbah
>air
> > raksa masuk ke Kali Cikaniki I dan II. Padahal
>kadar Hg
> > dalam air telah melampaui batas maksimal 0,1 ppb (part per billion).
> > Menanggapi kondisi tersebut, Mentamben menekankan harus dicari solusi
>yang
> > adil dan positif untuk menangani PETI. "Pencemaran hal mendasar dan
>besar.
> > Diskusi ini harus memberikan kontribusi pertanggungjawaban, bagaimana
>PETI
> > dapat masih berlanjut karena ada segi positifnya," papar Mentamben.
>Bambang
> > mempertanyakan beberapa kemungkiann keliru yang membuat ulah PETI
>berlanjut.
> > Apakah ada UU dan regulasinya? Apakah ada kebijakan, baik pusat maupun
> > daerah, yang keliru? Apakah ada penanganan yang keliru atau ada KKN?
> > "Bagaimana jika PETI diikutsertakan dalam penggalian resmi? Bagaimana
> > legalitasnya?" ia melemparkan usulan. Karena tidak ada jawaban,
>Mentamben
> > menyarankan penanganan PETI dilakukan bersama melalui pendekatan
>fungsional
> > sampai pada penindakan hukum yang berlaku.
> >
> > Mennen LH Sonny Keraf setuju hendaknya
>dikoordinasikan
> > dengan instansi terkait. Tegakkan law enforcement dengan membuat status
>PETI
> > memiliki izin. Tapi harus dipisahkan antara PETI warga asli setempat
> > (sekitar lokasi Upep) dan PETI pendatang. Oknum
> > yang terlibat KKN dibersihkan bekerja sama dengan
> > kepolisian setempat. (Dsa/Ril/J-2
> >
> > --
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>--
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/