mas bambang,
Jika mungkin mohon hasil diskusi mahakam di miliskan. trims.
rl
>From: Bambang Ryadi Soetrisno <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>CC: WALHI JABAR <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
>Date: Wed, 01 Mar 2000 06:13:17 +0700
>
>Antam (Aneka Tambang) di Pongkor meklaim bahwa teknologi ekstraksinya
>tidak
>menggunakan merkuri tetapi sianida. Jadi menurut mereka, merkuri yang
>berkeliaran
>pasti dari tambang "liar". Meskipun datanya benar dan dan sudah sangat
>mengkuatirkan, saya kuatir bahwa masalah ini justeru sengaja ditonjolkan
>oleh Antam
>karena Pongkor sendiri memang sudah diserbu para penambang rakyat, yang
>sudah masuk
>sampai ke terowongan-terowongan milik Antam.
>Di Pongkor ini banyak masalah yang kayaknya memang karakteristiknya sama
>dengan yang
>dilakukan perusahan penambang besar di mana-mana.
>
>Pertama di manapun ketika ada perusahaan menambang masuk di daerah
>terpencil, maka
>bayangan rakyat adalah akan ada kemakmuran masuk ke daerah mereka.
>Tetapi
>kenyataannya selalu lain, rakyat justeru terabaikan dan bahkan
>kehilangan banyak
>alat-alat produksi ekonomi mereke sendiri, sehingga muncul alternatif
>yang
>memanfaatkan momentum kesejahteraan yang "diciptakan" perusahaan oleh
>masyarakat
>sendiri dari interaksi mereka dengan terbukanya daerah itu sendiri (di
>Pongkor
>muncul penambang-penambang rakyat karena datang penambang rakyat dari
>daerah Tasik
>Malaya, Jambi, dll)
>
>Kedua, bahwa perusahaan selalu menganggap bahwa persoalan kesejahteraan
>adalah
>melulu urusannya pemerintah dan mereka tinggal bayar. Tetapi kerena
>banyak di korup
>jadi tidak turun-turun ke bawah.
>
>Ketiga ada gejala tetapi sulit dibuktikan, bahwa adanya penambang liar
>di sekitar
>perusahaan adalah karena ada yang "memanfaatkan". Secara ekonomi hasil
>produksi
>penambang liar adalah barang yang nilainya tinggi tetapi harganya murah
>sehingga
>sangat menguntungkan bagi pemilik modal yang menampung produksinya tanpa
>ada resiko
>kerugian. Penambang liar sulit dihilangkan karena penampungnya bisa jadi
>dari
>perusahaan sendiri. Kalau dulu orang sering bilang dengan "oknum".
>
>Kalau nilai merkuri dibayangkan sebagai bahaya yang mengancam dan bisa
>menjadi
>tragedi Minamata, saya juga membayangkan bahwa berapa kuantitas emas
>yang diproduksi
>dari jumlah merkuri sebasar itu. Kemana larinya emas itu. Apakah itu
>karena
>persoalan teknologi yang tidak efisien atau karena ada permainan "kong
>kalikong".
>GTZ di Kalteng pernah bilang bahwa jumlah merkuri yang dibutuhkan untuk
>tambang emas
>rakyat di Kalteng nilai rupiahnya lebih tinggi dari nilai rupiah emas
>yang di
>produksi, mungkin maksudnya adalah penggunaan merkuri sangat berlebihan
>sehingga
>banyak yang mubajir dan lepas ke sungai-sungai. Tetapi itu kan juga
>menunjukkan
>bahwa kalau kuantitas kebutuhan merkuri untuk tambang-tambang "liar" itu
>begitu
>tinggi maka kuantitas produksinya pun juga tinggi. Lagi-lagi ke mana
>hasil produksi
>itu? Jadi kita mungkin perlu curiga juga bahwa soal merkuri dan
>penambang liar ini
>bisa jadi memang ada yang sengaja memelihara.
>
>Masalah merkuri di Pongkor yang muncul saat ini adalah buah dari masalah
>yang
>berlarut-larut yang sejak awal beroperasinya Antam (Aneka Tambang) di
>Pongkor telah
>diberikan warning. Yang perlu diingat juga bahwa lokasi pertambangan
>Antam di
>Pongkor terletak di bawah kaki Taman Nasional Gunung Halimun. Kalangan
>pertambang
>sudah merengek-rengek untuk meminta pembabasan ke Dephutbun agar kawasan
>itu bisa di
>tambang. Terakhir karena Antam sudah kualahan dengan para penambang
>rakyat maka
>meminta kawasan Taman Nasional dibebaskan untuk penambang rakyat, itu
>yang kata
>Mentamben SBY, rakyat bisa menambang di sana dan hasilnya dijual ke
>Antam.
>CI (Conservation International) awal tahun ini menerbitkan policy paper
>tentang
>pertambangan judulnya Lightening the Load. Dalam buku itu Indonesia
>termasuk dalam
>bahasan yang cukup lumayan bisa dipakai sebagai acuan kita untuk melihat
>persoalan
>pertambangan dan lingkungan saat ini.
>
>Wassalam,
>Bambang Ryadi Soetrisno
>
>NB:
>hari Jumat, tanggal 3 Maret 2000 LINGKAR 21, CCLI (Cipta Citra Lestari
>Indonesia), IMA (Indonesia Mining Asscociation), dan CI IP, di Gran
>Mahakam (Jl. Mahakam Blok M, Jakarta) membuat dialog tentang
>Pertambangan dan Penguatan Daerah. Kalau kawan-kawan di Jakarta berminat
>mau hadir dalam dialog itu kami persilakan. Acara dimulai jam 13.30
>sampai jam 17.00.
>
>witjaksono wrote:
>
> > Pecinta Lingkungan Yth,
> > Apakah telah banyak dilakukan penyuluhan diantara penambang liar
>tentang
> > bahaya pencemaran air raksa. Apakah ada orang di daerah pertambangan
>yang
> > telah menunjukkan gejala keracunan air raksa. Apakah para penambang
>liar
> > tahu hubungan antara penyakit-penyakit saraf itu dengan keracunan air
>raksa.
> > Mungkin ini semua perlu mereka ketahui dan sadari. Bisa saja mereka
>melihat
> > orang sakit saraf tetapi membuat penalaran sendiri bahwa penyakit itu
>adalah
> > nasib atau cobaan dari Tuhan. Kalau sudah bicara bahwa suatu petaka
>adalah
> > nasib, maka berhentilah usaha memperbaiki keadaan.
> > Apakah ada teknologi yang terjangkau oleh penambang liar itu
>untuk
> > mengelola limbah air raksa itu. Penyuluhan dan penerapannya mungkin
>bisa
> > memperlambat laju pertambahan masalah.
> > Bagi penduduk DAS, penyuluhan tentang bahaya keracunan air raksa
>perlu
> > sangat digiatkan. Bila perlu penyuluhan semacam ini juga diberikan pada
> > para penegak hukum dan pemegang kebijakan. Bila perlu mungkin perlu
> > mendatangkan para korban penyakit Minamata. Dengan berkomunikasi
>langsung
> > dengan korban, mungkin kesan menakutkan dan mengerikan dari penyakit
>saraf
> > ini bisa lebih merasuk ke sanubari, cukup merasuk hingga menggerakkan
>akal
> > budi untuk bertindak nyata.
> >
> > Salam,
> > Witjaksono
> >
> > -----Original Message-----
> > From: rusdian lubis [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent: Monday, February 28, 2000 9:51 PM
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
> >
> > Saya setuju dengan Elly, kebetulan saya juga menjadi salah satu peer
>review
> > paper Bank Dunia (antara lain ditulis oleh Elly)tentang penambangan di
> > Indonesia.
> >
> > Tanpa mengecilkan masalah pertambangan skala besar (yang jelas tidak
>kecil)
> > dan sekarang mulai dibumbui isyu politik, kita perlu memperhatikan
>ancaman
> > pertambangan skala kecil dan liar yang banyak bertebaran di seluruh
>tanah
> > air. Mudah-mudahan Mentamben,MenLH dan Mendagri segera mencari jalan
>keluar.
> >
> > Repotnya PETI memang seringkali tidak mempunyai dana dan kemampuan cukup
> > untuk menyelesaikan persoalan lingkungan tanpa bantuan pemerintah.
>Ditambah
> > jaringan "mafia" yang berbelit belit. Teoritis, masalah penambang besar
> > malah lebih mudah ditangani. Sebab mereka punya dana, skill dan
>kredibilitas
> > yang dipertaruhkan dipasar modal. PETI tidak !
> >
> > NGO perlu menaruh perhatian ke masalah ini. Tidak hanya ke pertambangan
> > skala besar. Seminar di Bogor itu sangat penting. Salam saya buat Pak
>Naya
> > (Elly, tolong bisa di forward ke email beliau ?).
> >
> > RL
> >
> > >From: Elly Rasdiani Sudibjo <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> > >To: [EMAIL PROTECTED]
> > >Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
> > >Date: Tue, 29 Feb 2000 08:38:06 +0700
> > >
> > >Pak Witjak,
> > >
> > >Sebenarnya masalah ini sudah mulai di diskusikan pada awal tahun 1999.
> > >Tapi media massa .. mungkin juga LSM .. juga DPR/DPRD (pada waktu itu
>..
> > >dan mungkin juga masih sampai saat ini) lebih tertarik dengan kasus
>yang
> > >kontroversial seperti Freeport, Inti Indo Rayon dan Newmont.
> > >
> > >OK, perusahaan besar harus diawasi, tapi ya kita jangan lupa juga
>dengan
> > >masalah yang disebabkan oleh "notabene rakyat kecil" juga dong !!!
> > >Masalah Pongkor tidak bisa kita bebankan hanya kepada pemerintah saja,
> > >semua sekarang harus memikirkan. Studi masalah Pongkor sudah banyak,
> > >sudah dicoba untuk diangkat diantara media massa juga lho. Sayangnya
> > >kurang mendapat perhatian yang lebih dari para jurnalis. Kalau kita
> > >lihat secara lebih mendalam mengenai kasus Pongkor ini, wah ngeri
> > >sebetulnya. Karena yang involve didalamnya sangat beragam, dan
> > >mafia-nya juga kuat sekali !!! Bukan saja aparat .. tapi silahkan
> > >teropong struktur masyarakat di Pongkor tersebut !!! Terus terang
>saja,
> > >saya kurang sreg untuk mendiskusikannya secara publik. Saya dapat
> > >dihubungi di nomor tilpun 62-81-811 8001.
> > >
> > >Bagaimana juga dengan kasus yang sama di Kalteng ? atau daerah lainnya
>?
> > >Mungkin tidak di Sulawesi Utara ? Selain itu kemungkinan timbulnya
> > >masalah air asam di KalSel sudah ada yang meneropong belum ?
> > >
> > >Regards,
> > >Elly
> > >_________________________________________
> > >witjaksono wrote:
> > > >
> > > > Pecinta Lingkungan Yth,
> > > > Pencemaran air raksa oleh penambang liar dan mungkin dari
> > >penambang resmi
> > > > (?) dari Gunung Pongkor (Media Indonesia 2/26/00; saya tempel di
>bawah
> > >pesan
> > > > saya) adalah sangat gawat. Di Minamata, diperkirakan lebih dari
>70-150
> > >ton
> > > > air raksa dibuang di Minamata Bay yang kemudian mengakibatkan
>penyakit
> > > > Minamata (kerusakan susunan syaraf pusat akibat memakan ikan yang
> > >tercemar
> > > > air raksa). Keterangan selanjutnya bisa dibaca di:
> > > > http://www.caduceus.com.pe/supercourse/lecture/lec0361/index.htm
> > > > Sedangkan menurut berita di Media Indonesia, dipakai 4.86 ton air
>raksa
> > >per
> > > > bulan. Bila di hitung sejak 1994, maka selama 6 tahun ini telah
>dipakai
> > >350
> > > > ton air raksa. Dan 30% masuk sungai Cikaniki. Ini berarti bahwa
>tingkat
> > > > pencemaran sudah menyamai pencemaran di Minamata.
> > > > Hasil dari penyakit Minamata bisa lihat di:
> > > > http://www.tama.or.jp/~sena/minamata/tokyoten/ehome.html (terlalu
> > >mengerikan
> > > > dan menyedihkan untuk dipaparkan). Kegawatan dari pencemaran
>air
> > >raksa ini
> > > > adalah karena masuknya air raksa ini dalam rantai makanan di
>ekosistim
> > >laut
> > > > Minamata dan mengumpul pada ikan sebagai ujung dari rantai itu. Air
> > >raksa
> > > > yang mengumpul di ikan tersebut lalu menyebabkan orang yang makan
>ikan
> > >itu
> > > > jadi sakit bila kadar air raksa dalam tubuh orang tersebut telah
> > >melewati
> > > > batas tertentu. Ini semua terjadi pada air raksa organik dalam
>bentuk
> > > > methyl mercury. Apakah ceritanya akan sama dengan pencemaran air
>raksa
> > >dari
> > > > Gunung Pongkor, saya tidak tahu.
> > > > Ambang batas pencemaran di air adalah 0,1 ppb (0,1 mg dalam 1
>ton),
> > > > sedangkan pencemaran sedimen sungai Cikaniki sudah mencapai
>rata-rata
> > >3,5
> > > > ppm (3,5 g dalam 1 ton) yang berarti 35 ribu kali ambang batas.
>Sayang
> > > > tidak dicantumkan kadar pencemaran air sungainya.
> > > > Lalu bagaimana tanggapan pemerintah terhadap masalah ini?
> > >Membaca berita
> > > > dari Media Indonesia itu, saya menangkap kesan bahwa pemerintah
> > >(Mentamben
> > > > dan MenegLH) kurang menyadari kegawatan pencemaran dari Gunung
>Pongkor.
> > > > Usulan pemecahan masalah hanya menitik beratkan pada para penambang
> > >liar.
> > > > Bangaimana dengan masyarakat yang hidup di daerah aliran sungai yang
> > >airnya
> > > > tercemar? Bila pada tahun-tahun mendatang mereka pada sakit, lahir
> > > > bayi-bayi yang cacat, orang-orang pada sekarat, siapa yang akan
> > >menanggung?
> > > > Apakah penambang-penambang liar yang mungkin juga sudah akan pada
> > >sekarat?
> > > > Pemecahan masalah yang cepat dan nyata perlu segera
>dilakukan.
> > >Perdaganan
> > > > air raksa harus diatur dan hanya badan yang mempunyai fasilitas
> > >pembuangan
> > > > limbah yang memadai yang boleh membeli. Pemilik/pembeli air raksa
>harus
> > > > mendapat ijin dari misalnya Departemen Pertambangan dan Kementrian
>LH.
> > >Bila
> > > > ini dilakukan, maka penambangan liar akan berhenti. Segala
>pencemaran
> > >bisa
> > > > dibebankan pada penambang resmi. Selain itu perlu dilakukan
>penyuluhan
> > > > besar-besaran pada masyarakat DAS supaya tidak terlalu banyak makan
>ikan
> > > > dari sungai yang tercemar. Untuk lebih akuratnya perlu monitoring
>kadar
> > >air
> > > > raksa di ikan tangkapan dari sungai tercemar, sehingga bisa dihitung
> > > > seberapa banyak ikan yang boleh dimakan per harinya. Keramba harus
> > >dilarang
> > > > di sungai yang tercemar.
> > > > Semoga pihak-pihak yang lebih berwenang dan lebih tahu dari
>saya
> > >dapat
> > > > berbuat lebih banyak dalam menangani kasus ini. Supaya di kemudian
>hari
> > > > kita tidak menyesal karena tidak berbuat apa-apa atau terlalu
>terlambat
> > > > menolong para penambang liar bunuh diri dengan bermain air raksa dan
> > >membawa
> > > > serta masyarakat penduduk DAS dan mungkin penduduk kota Bogor dan
> > >Tangerang
> > > > yang memakai air PDAM yang bersumber dari Sungai Cisadane yang
>bersumber
> > > > dari Sungai Cikaniki.
> > > >
> > > > Witjaksono
> > > > Postdoctoral Research Associate
> > > > Tropical Research and Education center
> > > > University of Florida
> > > > 18905 SW 280th Street
> > > > Homestead Florida 33031-3314
> > > > USA
> > > >
> > > > Limbah Bijih Emas Pongkor Melebihi Bahaya di Jepang
> > > > Media Indonesia - Jabotabek (2/26/00)
> > > >
> > > > BOGOR (Media): Limbah pabrik dan buangan
>penggalian
> > > > liar bijih emas Gunung Pongkor mencemari Kali Cisadane. Pencemaran
>logam
> > > > berat mercury itu dapat mengakibatkan kematian bagi manusia.
>Peneliti di
> > > > sana menemukan gumpalan pencemaran mercury di beberapa titik
>melebihi
> > > > kejadian Teluk Minamata, Jepang. Masalah besar akan melanda karena
>Kali
> > > > Cisadane merupakan salah satu sumber bahan baku air bersih PDAM
>Bogor
> > >dan
> > > > PDAM Tangerang.
> > > >
> > > > Hal itu terungkap dalam diskusi "Penanganan
>Masalah
> > > > Dampak Lingkungan akibat Kegiatan PETI di Kecamatan Nanggung".
>Diskusi
> > > > dihadiri Mentamben Bambang Soesilo Yudhoyono, Menteri Lingkungan
>Hidup
> > >Sonny
> > > > Keraf, kemarin, di ruang Serba Guna I Pemda Kabupaten Bogor.
> > > > Dalam diskusi sehari yang dipandu Staf Ahli
> > >Mentamben
> > > > bidang Lingkungan Surnatjahja Djajadiningrat,Ketua Bapedal Jawa
>Barat
> > >Dodo
> > > > Perdata terungkap bahwa terdapat sekitar 6.000 orang PETI (penggali
>emas
> > > > tanpa izin) di Gunung Pongkor.
> > > >
> > > > Menurut Dodo Perdata, aktivitas Unit Penggalian
> > >Emas
> > > > Pongkor (Upep) sejak 1994 telah menimbulkan pencemaran berupa zat
>kimia
> > > > mercury yang tak bisa larut dalam senyawa kimia. Hasil penelitian
>Juni
> > >1999
> > > > yang masuk ke Bapedalda Jabar, katanya, pencemaran terjadi pada
> > >sedimentasi
> > > > tanah Kali Cikaniki I dan II (Kali Cisadane hulu), umumnya mencapai
>3,50
> > > > miligram part per million (ppm). Di beberapa titik mencapai 28,38
>ppm.
> > > > "Sementara di Teluk Minamata Jepang
>yang
> > >menewaskan manusia akibat
> > > > kerusakan jaringan otak hanya mencapai 25 ppm," ungkap Dodo memberi
> > > > perbandingan. Pencemaran mercury demikian
>mengerikan
> > > > karena pembersihan bijih emas dari bongkahan tanah setiap
> > > > bulannya menggunakan 4,86 ton zat kimia air raksa. Sekitar 30%
>limbah
> > >air
> > > > raksa masuk ke Kali Cikaniki I dan II. Padahal
> > >kadar Hg
> > > > dalam air telah melampaui batas maksimal 0,1 ppb (part per billion).
> > > > Menanggapi kondisi tersebut, Mentamben menekankan harus dicari
>solusi
> > >yang
> > > > adil dan positif untuk menangani PETI. "Pencemaran hal mendasar dan
> > >besar.
> > > > Diskusi ini harus memberikan kontribusi pertanggungjawaban,
>bagaimana
> > >PETI
> > > > dapat masih berlanjut karena ada segi positifnya," papar Mentamben.
> > >Bambang
> > > > mempertanyakan beberapa kemungkiann keliru yang membuat ulah PETI
> > >berlanjut.
> > > > Apakah ada UU dan regulasinya? Apakah ada kebijakan, baik pusat
>maupun
> > > > daerah, yang keliru? Apakah ada penanganan yang keliru atau ada KKN?
> > > > "Bagaimana jika PETI diikutsertakan dalam penggalian resmi?
>Bagaimana
> > > > legalitasnya?" ia melemparkan usulan. Karena tidak ada jawaban,
> > >Mentamben
> > > > menyarankan penanganan PETI dilakukan bersama melalui pendekatan
> > >fungsional
> > > > sampai pada penindakan hukum yang berlaku.
> > > >
> > > > Mennen LH Sonny Keraf setuju hendaknya
> > >dikoordinasikan
> > > > dengan instansi terkait. Tegakkan law enforcement dengan membuat
>status
> > >PETI
> > > > memiliki izin. Tapi harus dipisahkan antara PETI warga asli setempat
> > > > (sekitar lokasi Upep) dan PETI pendatang. Oknum
> > > > yang terlibat KKN dibersihkan bekerja sama
>dengan
> > > > kepolisian setempat. (Dsa/Ril/J-2
> > > >
> > > > --
> > > > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > > > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > > > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> > >
> > >--
> > >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > >For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > >Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> > ______________________________________________________
> > Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
> >
> > --
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> >
> > --
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>--
><apologies for cross-postings>
>visit LINGKAR Website http://jupiter.centrin.net.id/~lplppr
>
>
>--
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/