Saya akan rekam semua jalannya diskusi yang antara lain menurut konfirmasi
peserta dihadiri oleh Hudiatmo Hoed dari Freeport, INCO, RioTinto, dan
Newmont. Moderator adalah PL Coutrier dari IMA (Indonesia Mining
Association). Pembicara dari DR. Supriadi staf ahli Menko Ekuin, DR. Simon
Sembiring (Dir. Pengusahaan Pertambangan DJPU, Deptamben), dan DR. Jatna
Suprijatna dari CI Indonesia Program.
Sayangnya kapasitas diskusinya hanya 50 orang, tapi kalau teman-teman
lainnya datang saya kira bisa nggelar kursi lagi.

Bambang
-----Original Message-----
From: rusdian lubis <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 01 Maret 2000 21:49
Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor


>mas bambang,
>
>Jika mungkin mohon hasil diskusi mahakam di miliskan. trims.
>
>rl
>
>
>
>>From: Bambang Ryadi Soetrisno <[EMAIL PROTECTED]>
>>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>>To: [EMAIL PROTECTED]
>>CC: WALHI JABAR <[EMAIL PROTECTED]>
>>Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
>>Date: Wed, 01 Mar 2000 06:13:17 +0700
>>
>>Antam (Aneka Tambang) di Pongkor meklaim bahwa teknologi ekstraksinya
>>tidak
>>menggunakan merkuri tetapi sianida. Jadi menurut mereka, merkuri yang
>>berkeliaran
>>pasti dari tambang "liar". Meskipun datanya benar dan dan sudah sangat
>>mengkuatirkan, saya kuatir bahwa masalah ini justeru sengaja ditonjolkan
>>oleh Antam
>>karena Pongkor sendiri memang sudah diserbu para penambang rakyat, yang
>>sudah masuk
>>sampai ke terowongan-terowongan milik Antam.
>>Di Pongkor ini banyak masalah yang kayaknya memang karakteristiknya sama
>>dengan yang
>>dilakukan perusahan penambang besar di mana-mana.
>>
>>Pertama di manapun ketika ada perusahaan menambang masuk di daerah
>>terpencil, maka
>>bayangan rakyat adalah akan ada kemakmuran masuk ke daerah mereka.
>>Tetapi
>>kenyataannya selalu lain, rakyat justeru terabaikan dan bahkan
>>kehilangan banyak
>>alat-alat produksi ekonomi mereke sendiri, sehingga muncul alternatif
>>yang
>>memanfaatkan momentum kesejahteraan yang "diciptakan" perusahaan oleh
>>masyarakat
>>sendiri dari interaksi mereka dengan terbukanya daerah itu sendiri (di
>>Pongkor
>>muncul penambang-penambang rakyat karena datang penambang rakyat dari
>>daerah Tasik
>>Malaya, Jambi, dll)
>>
>>Kedua, bahwa perusahaan selalu menganggap bahwa persoalan kesejahteraan
>>adalah
>>melulu urusannya pemerintah dan mereka tinggal bayar. Tetapi kerena
>>banyak di korup
>>jadi tidak turun-turun ke bawah.
>>
>>Ketiga ada gejala tetapi sulit dibuktikan, bahwa adanya penambang liar
>>di sekitar
>>perusahaan adalah karena ada yang "memanfaatkan". Secara ekonomi hasil
>>produksi
>>penambang liar adalah barang yang nilainya tinggi tetapi harganya murah
>>sehingga
>>sangat menguntungkan bagi pemilik modal yang menampung produksinya tanpa
>>ada resiko
>>kerugian. Penambang liar sulit dihilangkan karena penampungnya bisa jadi
>>dari
>>perusahaan sendiri. Kalau dulu orang sering bilang dengan "oknum".
>>
>>Kalau nilai merkuri dibayangkan sebagai bahaya yang mengancam dan bisa
>>menjadi
>>tragedi Minamata, saya juga membayangkan bahwa berapa kuantitas emas
>>yang diproduksi
>>dari jumlah merkuri sebasar itu. Kemana larinya emas itu. Apakah itu
>>karena
>>persoalan teknologi yang tidak efisien atau karena ada permainan "kong
>>kalikong".
>>GTZ di Kalteng pernah bilang bahwa jumlah merkuri yang dibutuhkan untuk
>>tambang emas
>>rakyat di Kalteng nilai rupiahnya lebih tinggi dari nilai rupiah emas
>>yang di
>>produksi, mungkin maksudnya adalah penggunaan merkuri sangat berlebihan
>>sehingga
>>banyak yang mubajir dan lepas ke sungai-sungai. Tetapi itu kan juga
>>menunjukkan
>>bahwa kalau kuantitas kebutuhan merkuri untuk tambang-tambang "liar" itu
>>begitu
>>tinggi maka kuantitas produksinya pun juga tinggi. Lagi-lagi ke mana
>>hasil produksi
>>itu? Jadi kita mungkin perlu curiga juga bahwa soal merkuri dan
>>penambang liar ini
>>bisa jadi memang ada yang sengaja memelihara.
>>
>>Masalah merkuri di Pongkor yang muncul saat ini adalah buah dari masalah
>>yang
>>berlarut-larut yang sejak awal beroperasinya Antam (Aneka Tambang) di
>>Pongkor telah
>>diberikan warning. Yang perlu diingat juga bahwa lokasi pertambangan
>>Antam di
>>Pongkor terletak di bawah kaki Taman Nasional Gunung Halimun. Kalangan
>>pertambang
>>sudah merengek-rengek untuk meminta pembabasan ke Dephutbun agar kawasan
>>itu bisa di
>>tambang. Terakhir karena Antam sudah kualahan dengan para penambang
>>rakyat maka
>>meminta kawasan Taman Nasional dibebaskan untuk penambang rakyat, itu
>>yang kata
>>Mentamben SBY, rakyat bisa menambang di sana dan hasilnya dijual ke
>>Antam.
>>CI (Conservation International) awal tahun ini menerbitkan policy paper
>>tentang
>>pertambangan judulnya Lightening the Load. Dalam buku itu Indonesia
>>termasuk dalam
>>bahasan yang cukup lumayan bisa dipakai sebagai acuan kita untuk melihat
>>persoalan
>>pertambangan dan lingkungan saat ini.
>>
>>Wassalam,
>>Bambang Ryadi Soetrisno
>>
>>NB:
>>hari Jumat, tanggal 3 Maret 2000 LINGKAR 21, CCLI (Cipta Citra Lestari
>>Indonesia), IMA (Indonesia Mining Asscociation), dan CI IP, di Gran
>>Mahakam (Jl. Mahakam Blok M, Jakarta) membuat dialog tentang
>>Pertambangan dan Penguatan Daerah. Kalau kawan-kawan di Jakarta berminat
>>mau hadir dalam dialog itu kami persilakan. Acara dimulai jam 13.30
>>sampai jam 17.00.
>>
>>witjaksono wrote:
>>
>> > Pecinta Lingkungan Yth,
>> >         Apakah telah banyak dilakukan penyuluhan diantara penambang
liar
>>tentang
>> > bahaya pencemaran air raksa.  Apakah  ada orang di daerah pertambangan
>>yang
>> > telah menunjukkan gejala keracunan air raksa.  Apakah para penambang
>>liar
>> > tahu hubungan antara penyakit-penyakit saraf itu dengan keracunan air
>>raksa.
>> > Mungkin ini semua perlu mereka ketahui dan sadari.  Bisa saja mereka
>>melihat
>> > orang sakit saraf tetapi membuat penalaran sendiri bahwa penyakit itu
>>adalah
>> > nasib atau cobaan dari Tuhan.  Kalau sudah bicara bahwa suatu petaka
>>adalah
>> > nasib, maka berhentilah usaha memperbaiki keadaan.
>> >         Apakah ada teknologi yang terjangkau oleh penambang liar itu
>>untuk
>> > mengelola limbah air raksa itu.  Penyuluhan dan penerapannya mungkin
>>bisa
>> > memperlambat laju pertambahan masalah.
>> >         Bagi penduduk DAS, penyuluhan tentang bahaya keracunan air
raksa
>>perlu
>> > sangat digiatkan.  Bila perlu penyuluhan semacam ini juga diberikan
pada
>> > para penegak hukum dan pemegang kebijakan.  Bila perlu mungkin perlu
>> > mendatangkan para korban penyakit Minamata. Dengan berkomunikasi
>>langsung
>> > dengan korban, mungkin kesan menakutkan dan mengerikan dari penyakit
>>saraf
>> > ini bisa lebih merasuk ke sanubari, cukup merasuk hingga menggerakkan
>>akal
>> > budi untuk bertindak nyata.
>> >
>> > Salam,
>> > Witjaksono
>> >
>> > -----Original Message-----
>> > From: rusdian lubis [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
>> > Sent: Monday, February 28, 2000 9:51 PM
>> > To: [EMAIL PROTECTED]
>> > Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
>> >
>> > Saya setuju dengan Elly, kebetulan saya juga menjadi salah satu peer
>>review
>> > paper Bank Dunia (antara lain ditulis oleh Elly)tentang penambangan di
>> > Indonesia.
>> >
>> > Tanpa mengecilkan masalah pertambangan skala besar (yang jelas tidak
>>kecil)
>> > dan sekarang mulai dibumbui isyu politik, kita perlu memperhatikan
>>ancaman
>> > pertambangan skala kecil dan liar yang banyak bertebaran di seluruh
>>tanah
>> > air. Mudah-mudahan Mentamben,MenLH dan Mendagri segera mencari jalan
>>keluar.
>> >
>> > Repotnya PETI memang seringkali tidak mempunyai dana dan kemampuan
cukup
>> > untuk menyelesaikan persoalan lingkungan tanpa bantuan pemerintah.
>>Ditambah
>> > jaringan "mafia" yang berbelit belit. Teoritis, masalah penambang besar
>> > malah lebih mudah ditangani. Sebab mereka punya dana, skill dan
>>kredibilitas
>> > yang dipertaruhkan dipasar modal. PETI tidak !
>> >
>> > NGO perlu menaruh perhatian ke masalah ini. Tidak hanya ke pertambangan
>> > skala besar. Seminar di Bogor itu sangat penting. Salam saya buat Pak
>>Naya
>> > (Elly, tolong bisa di forward ke email beliau ?).
>> >
>> > RL
>> >
>> > >From: Elly Rasdiani Sudibjo <[EMAIL PROTECTED]>
>> > >Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>> > >To: [EMAIL PROTECTED]
>> > >Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
>> > >Date: Tue, 29 Feb 2000 08:38:06 +0700
>> > >
>> > >Pak Witjak,
>> > >
>> > >Sebenarnya masalah ini sudah mulai di diskusikan pada awal tahun 1999.
>> > >Tapi media massa .. mungkin juga LSM .. juga DPR/DPRD (pada waktu itu
>>..
>> > >dan mungkin juga masih sampai saat ini) lebih tertarik dengan kasus
>>yang
>> > >kontroversial seperti Freeport, Inti Indo Rayon dan Newmont.
>> > >
>> > >OK, perusahaan besar harus diawasi, tapi ya kita jangan lupa juga
>>dengan
>> > >masalah yang disebabkan oleh "notabene rakyat kecil" juga dong !!!
>> > >Masalah Pongkor tidak bisa kita bebankan hanya kepada pemerintah saja,
>> > >semua sekarang harus memikirkan.  Studi masalah Pongkor sudah banyak,
>> > >sudah dicoba untuk diangkat diantara media massa juga lho.  Sayangnya
>> > >kurang mendapat perhatian yang lebih dari para jurnalis.  Kalau kita
>> > >lihat secara lebih mendalam mengenai kasus Pongkor ini, wah ngeri
>> > >sebetulnya.  Karena yang involve didalamnya sangat beragam, dan
>> > >mafia-nya juga kuat sekali !!! Bukan saja aparat .. tapi silahkan
>> > >teropong struktur masyarakat di Pongkor tersebut !!!  Terus terang
>>saja,
>> > >saya kurang sreg untuk mendiskusikannya secara publik.  Saya dapat
>> > >dihubungi di nomor tilpun 62-81-811 8001.
>> > >
>> > >Bagaimana juga dengan kasus yang sama di Kalteng ? atau daerah lainnya
>>?
>> > >Mungkin tidak di Sulawesi Utara ?  Selain itu kemungkinan timbulnya
>> > >masalah air asam di KalSel sudah ada yang meneropong belum ?
>> > >
>> > >Regards,
>> > >Elly
>> > >_________________________________________
>> > >witjaksono wrote:
>> > > >
>> > > > Pecinta Lingkungan Yth,
>> > > >         Pencemaran air raksa oleh penambang liar dan mungkin dari
>> > >penambang resmi
>> > > > (?) dari Gunung Pongkor (Media Indonesia 2/26/00; saya tempel di
>>bawah
>> > >pesan
>> > > > saya) adalah sangat gawat. Di Minamata, diperkirakan lebih dari
>>70-150
>> > >ton
>> > > > air raksa dibuang di Minamata Bay yang kemudian mengakibatkan
>>penyakit
>> > > > Minamata (kerusakan susunan syaraf pusat akibat memakan ikan yang
>> > >tercemar
>> > > > air raksa).  Keterangan selanjutnya bisa dibaca di:
>> > > > http://www.caduceus.com.pe/supercourse/lecture/lec0361/index.htm
>> > > > Sedangkan menurut berita di Media Indonesia, dipakai 4.86 ton air
>>raksa
>> > >per
>> > > > bulan.  Bila di hitung sejak 1994, maka selama 6 tahun ini telah
>>dipakai
>> > >350
>> > > > ton air raksa. Dan 30% masuk sungai Cikaniki.  Ini berarti bahwa
>>tingkat
>> > > > pencemaran sudah menyamai pencemaran di Minamata.
>> > > > Hasil dari penyakit Minamata bisa lihat di:
>> > > > http://www.tama.or.jp/~sena/minamata/tokyoten/ehome.html (terlalu
>> > >mengerikan
>> > > > dan menyedihkan untuk dipaparkan).      Kegawatan dari pencemaran
>>air
>> > >raksa ini
>> > > > adalah karena masuknya air raksa ini dalam rantai makanan di
>>ekosistim
>> > >laut
>> > > > Minamata dan mengumpul pada ikan sebagai ujung dari rantai itu.
Air
>> > >raksa
>> > > > yang mengumpul di ikan tersebut lalu menyebabkan orang yang makan
>>ikan
>> > >itu
>> > > > jadi sakit bila kadar air raksa dalam tubuh orang tersebut telah
>> > >melewati
>> > > > batas tertentu.  Ini semua terjadi pada air raksa organik dalam
>>bentuk
>> > > > methyl mercury.  Apakah ceritanya akan sama dengan pencemaran air
>>raksa
>> > >dari
>> > > > Gunung Pongkor, saya tidak tahu.
>> > > >      Ambang batas pencemaran di air adalah 0,1 ppb (0,1 mg dalam 1
>>ton),
>> > > > sedangkan pencemaran sedimen sungai Cikaniki sudah mencapai
>>rata-rata
>> > >3,5
>> > > > ppm (3,5 g dalam 1 ton) yang berarti 35 ribu kali ambang batas.
>>Sayang
>> > > > tidak dicantumkan  kadar pencemaran air sungainya.
>> > > >         Lalu bagaimana tanggapan pemerintah terhadap masalah ini?
>> > >Membaca berita
>> > > > dari Media Indonesia itu, saya menangkap kesan bahwa pemerintah
>> > >(Mentamben
>> > > > dan MenegLH) kurang menyadari kegawatan pencemaran dari Gunung
>>Pongkor.
>> > > > Usulan pemecahan masalah hanya menitik beratkan pada para penambang
>> > >liar.
>> > > > Bangaimana dengan masyarakat yang hidup di daerah aliran sungai
yang
>> > >airnya
>> > > > tercemar?  Bila pada tahun-tahun mendatang mereka pada sakit, lahir
>> > > > bayi-bayi yang cacat, orang-orang pada sekarat, siapa yang akan
>> > >menanggung?
>> > > > Apakah penambang-penambang liar yang mungkin juga sudah akan pada
>> > >sekarat?
>> > > >         Pemecahan masalah yang cepat dan nyata perlu segera
>>dilakukan.
>> > >Perdaganan
>> > > > air raksa harus diatur dan hanya badan yang mempunyai fasilitas
>> > >pembuangan
>> > > > limbah yang memadai yang boleh membeli.  Pemilik/pembeli air raksa
>>harus
>> > > > mendapat ijin dari misalnya Departemen Pertambangan dan Kementrian
>>LH.
>> > >Bila
>> > > > ini dilakukan, maka penambangan liar akan berhenti.  Segala
>>pencemaran
>> > >bisa
>> > > > dibebankan pada penambang resmi.  Selain itu perlu dilakukan
>>penyuluhan
>> > > > besar-besaran pada masyarakat DAS supaya tidak terlalu banyak makan
>>ikan
>> > > > dari sungai yang tercemar. Untuk lebih akuratnya perlu monitoring
>>kadar
>> > >air
>> > > > raksa di ikan tangkapan dari sungai tercemar, sehingga bisa
dihitung
>> > > > seberapa banyak ikan yang boleh dimakan per harinya. Keramba harus
>> > >dilarang
>> > > > di sungai yang tercemar.
>> > > >         Semoga pihak-pihak yang lebih berwenang dan lebih tahu dari
>>saya
>> > >dapat
>> > > > berbuat lebih banyak dalam menangani kasus ini.  Supaya di kemudian
>>hari
>> > > > kita tidak menyesal karena tidak berbuat apa-apa atau terlalu
>>terlambat
>> > > > menolong para penambang liar bunuh diri dengan bermain air raksa
dan
>> > >membawa
>> > > > serta masyarakat penduduk DAS dan mungkin penduduk kota Bogor dan
>> > >Tangerang
>> > > > yang memakai air PDAM yang bersumber dari Sungai Cisadane yang
>>bersumber
>> > > > dari Sungai Cikaniki.
>> > > >
>> > > > Witjaksono
>> > > > Postdoctoral Research Associate
>> > > > Tropical Research and Education center
>> > > > University of Florida
>> > > > 18905 SW 280th Street
>> > > > Homestead Florida 33031-3314
>> > > > USA
>> > > >
>> > > > Limbah Bijih Emas Pongkor Melebihi Bahaya di Jepang
>> > > >                      Media Indonesia - Jabotabek (2/26/00)
>> > > >
>> > > >                      BOGOR (Media): Limbah pabrik dan buangan
>>penggalian
>> > > > liar bijih emas Gunung Pongkor mencemari Kali Cisadane. Pencemaran
>>logam
>> > > > berat mercury itu dapat mengakibatkan kematian bagi manusia.
>>Peneliti di
>> > > > sana menemukan gumpalan pencemaran mercury di beberapa titik
>>melebihi
>> > > > kejadian Teluk Minamata, Jepang. Masalah besar akan melanda karena
>>Kali
>> > > > Cisadane merupakan salah satu sumber bahan baku air bersih PDAM
>>Bogor
>> > >dan
>> > > > PDAM Tangerang.
>> > > >
>> > > >                      Hal itu terungkap dalam diskusi "Penanganan
>>Masalah
>> > > > Dampak Lingkungan akibat Kegiatan PETI di Kecamatan Nanggung".
>>Diskusi
>> > > > dihadiri Mentamben Bambang Soesilo Yudhoyono, Menteri Lingkungan
>>Hidup
>> > >Sonny
>> > > > Keraf, kemarin, di ruang Serba Guna I Pemda Kabupaten Bogor.
>> > > >                      Dalam diskusi sehari yang dipandu Staf Ahli
>> > >Mentamben
>> > > > bidang Lingkungan Surnatjahja Djajadiningrat,Ketua Bapedal Jawa
>>Barat
>> > >Dodo
>> > > > Perdata terungkap bahwa terdapat sekitar 6.000 orang PETI (penggali
>>emas
>> > > > tanpa izin) di Gunung Pongkor.
>> > > >
>> > > >                      Menurut Dodo Perdata, aktivitas Unit
Penggalian
>> > >Emas
>> > > > Pongkor (Upep) sejak 1994 telah menimbulkan pencemaran berupa zat
>>kimia
>> > > > mercury yang tak bisa larut dalam senyawa kimia. Hasil penelitian
>>Juni
>> > >1999
>> > > > yang masuk ke Bapedalda Jabar, katanya, pencemaran terjadi pada
>> > >sedimentasi
>> > > > tanah Kali Cikaniki I dan II (Kali Cisadane hulu), umumnya mencapai
>>3,50
>> > > > miligram part per million (ppm). Di beberapa titik mencapai 28,38
>>ppm.
>> > > >                                 "Sementara di Teluk Minamata Jepang
>>yang
>> > >menewaskan manusia akibat
>> > > > kerusakan jaringan otak hanya mencapai 25 ppm," ungkap Dodo memberi
>> > > > perbandingan.                    Pencemaran mercury demikian
>>mengerikan
>> > > > karena pembersihan bijih emas dari bongkahan tanah setiap
>> > > > bulannya menggunakan 4,86 ton zat kimia air raksa. Sekitar 30%
>>limbah
>> > >air
>> > > > raksa masuk ke Kali                      Cikaniki I dan II. Padahal
>> > >kadar Hg
>> > > > dalam air telah melampaui batas maksimal 0,1 ppb (part per
billion).
>> > > > Menanggapi kondisi tersebut, Mentamben menekankan harus dicari
>>solusi
>> > >yang
>> > > > adil dan positif untuk menangani PETI. "Pencemaran hal mendasar dan
>> > >besar.
>> > > > Diskusi ini harus memberikan kontribusi pertanggungjawaban,
>>bagaimana
>> > >PETI
>> > > > dapat masih berlanjut karena ada segi positifnya," papar Mentamben.
>> > >Bambang
>> > > > mempertanyakan beberapa kemungkiann keliru yang membuat ulah PETI
>> > >berlanjut.
>> > > > Apakah ada UU dan regulasinya? Apakah ada kebijakan, baik pusat
>>maupun
>> > > > daerah, yang keliru? Apakah ada penanganan yang keliru atau ada
KKN?
>> > > > "Bagaimana jika PETI diikutsertakan dalam penggalian resmi?
>>Bagaimana
>> > > > legalitasnya?" ia melemparkan usulan. Karena tidak ada jawaban,
>> > >Mentamben
>> > > > menyarankan penanganan PETI dilakukan bersama melalui pendekatan
>> > >fungsional
>> > > > sampai pada penindakan hukum yang berlaku.
>> > > >
>> > > >                      Mennen LH Sonny Keraf setuju hendaknya
>> > >dikoordinasikan
>> > > > dengan instansi terkait. Tegakkan law enforcement dengan membuat
>>status
>> > >PETI
>> > > > memiliki izin. Tapi harus dipisahkan antara PETI warga asli
setempat
>> > > > (sekitar lokasi Upep) dan PETI pendatang. Oknum
>> > > >                      yang terlibat KKN dibersihkan bekerja sama
>>dengan
>> > > > kepolisian setempat. (Dsa/Ril/J-2
>> > > >
>> > > > --
>> > > > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> > > > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> > > > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>> > >
>> > >--
>> > >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> > >For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> > >Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>> > >
>> > >
>> > >
>> > >
>> > >
>> >
>> > ______________________________________________________
>> > Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>> >
>> > --
>> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>> >
>> > --
>> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>>
>>--
>><apologies for cross-postings>
>>visit LINGKAR Website http://jupiter.centrin.net.id/~lplppr
>>
>>
>>--
>>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>>
>>
>>
>>
>>
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
>
>--
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>


--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/




Kirim email ke