Thanks dan salam buat Pak Hoed, Pak Coutrier (mantan boss saya )dan Jatna. 
Kami di WB mengikuti terus perkembangan mining and environment.

RL



>From: "Bambang Ryadi Soetrisno" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
>Date: Thu, 2 Mar 2000 17:20:32 +0700
>
>Saya akan rekam semua jalannya diskusi yang antara lain menurut konfirmasi
>peserta dihadiri oleh Hudiatmo Hoed dari Freeport, INCO, RioTinto, dan
>Newmont. Moderator adalah PL Coutrier dari IMA (Indonesia Mining
>Association). Pembicara dari DR. Supriadi staf ahli Menko Ekuin, DR. Simon
>Sembiring (Dir. Pengusahaan Pertambangan DJPU, Deptamben), dan DR. Jatna
>Suprijatna dari CI Indonesia Program.
>Sayangnya kapasitas diskusinya hanya 50 orang, tapi kalau teman-teman
>lainnya datang saya kira bisa nggelar kursi lagi.
>
>Bambang
>-----Original Message-----
>From: rusdian lubis <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: 01 Maret 2000 21:49
>Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
>
>
> >mas bambang,
> >
> >Jika mungkin mohon hasil diskusi mahakam di miliskan. trims.
> >
> >rl
> >
> >
> >
> >>From: Bambang Ryadi Soetrisno <[EMAIL PROTECTED]>
> >>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> >>To: [EMAIL PROTECTED]
> >>CC: WALHI JABAR <[EMAIL PROTECTED]>
> >>Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
> >>Date: Wed, 01 Mar 2000 06:13:17 +0700
> >>
> >>Antam (Aneka Tambang) di Pongkor meklaim bahwa teknologi ekstraksinya
> >>tidak
> >>menggunakan merkuri tetapi sianida. Jadi menurut mereka, merkuri yang
> >>berkeliaran
> >>pasti dari tambang "liar". Meskipun datanya benar dan dan sudah sangat
> >>mengkuatirkan, saya kuatir bahwa masalah ini justeru sengaja ditonjolkan
> >>oleh Antam
> >>karena Pongkor sendiri memang sudah diserbu para penambang rakyat, yang
> >>sudah masuk
> >>sampai ke terowongan-terowongan milik Antam.
> >>Di Pongkor ini banyak masalah yang kayaknya memang karakteristiknya sama
> >>dengan yang
> >>dilakukan perusahan penambang besar di mana-mana.
> >>
> >>Pertama di manapun ketika ada perusahaan menambang masuk di daerah
> >>terpencil, maka
> >>bayangan rakyat adalah akan ada kemakmuran masuk ke daerah mereka.
> >>Tetapi
> >>kenyataannya selalu lain, rakyat justeru terabaikan dan bahkan
> >>kehilangan banyak
> >>alat-alat produksi ekonomi mereke sendiri, sehingga muncul alternatif
> >>yang
> >>memanfaatkan momentum kesejahteraan yang "diciptakan" perusahaan oleh
> >>masyarakat
> >>sendiri dari interaksi mereka dengan terbukanya daerah itu sendiri (di
> >>Pongkor
> >>muncul penambang-penambang rakyat karena datang penambang rakyat dari
> >>daerah Tasik
> >>Malaya, Jambi, dll)
> >>
> >>Kedua, bahwa perusahaan selalu menganggap bahwa persoalan kesejahteraan
> >>adalah
> >>melulu urusannya pemerintah dan mereka tinggal bayar. Tetapi kerena
> >>banyak di korup
> >>jadi tidak turun-turun ke bawah.
> >>
> >>Ketiga ada gejala tetapi sulit dibuktikan, bahwa adanya penambang liar
> >>di sekitar
> >>perusahaan adalah karena ada yang "memanfaatkan". Secara ekonomi hasil
> >>produksi
> >>penambang liar adalah barang yang nilainya tinggi tetapi harganya murah
> >>sehingga
> >>sangat menguntungkan bagi pemilik modal yang menampung produksinya tanpa
> >>ada resiko
> >>kerugian. Penambang liar sulit dihilangkan karena penampungnya bisa jadi
> >>dari
> >>perusahaan sendiri. Kalau dulu orang sering bilang dengan "oknum".
> >>
> >>Kalau nilai merkuri dibayangkan sebagai bahaya yang mengancam dan bisa
> >>menjadi
> >>tragedi Minamata, saya juga membayangkan bahwa berapa kuantitas emas
> >>yang diproduksi
> >>dari jumlah merkuri sebasar itu. Kemana larinya emas itu. Apakah itu
> >>karena
> >>persoalan teknologi yang tidak efisien atau karena ada permainan "kong
> >>kalikong".
> >>GTZ di Kalteng pernah bilang bahwa jumlah merkuri yang dibutuhkan untuk
> >>tambang emas
> >>rakyat di Kalteng nilai rupiahnya lebih tinggi dari nilai rupiah emas
> >>yang di
> >>produksi, mungkin maksudnya adalah penggunaan merkuri sangat berlebihan
> >>sehingga
> >>banyak yang mubajir dan lepas ke sungai-sungai. Tetapi itu kan juga
> >>menunjukkan
> >>bahwa kalau kuantitas kebutuhan merkuri untuk tambang-tambang "liar" itu
> >>begitu
> >>tinggi maka kuantitas produksinya pun juga tinggi. Lagi-lagi ke mana
> >>hasil produksi
> >>itu? Jadi kita mungkin perlu curiga juga bahwa soal merkuri dan
> >>penambang liar ini
> >>bisa jadi memang ada yang sengaja memelihara.
> >>
> >>Masalah merkuri di Pongkor yang muncul saat ini adalah buah dari masalah
> >>yang
> >>berlarut-larut yang sejak awal beroperasinya Antam (Aneka Tambang) di
> >>Pongkor telah
> >>diberikan warning. Yang perlu diingat juga bahwa lokasi pertambangan
> >>Antam di
> >>Pongkor terletak di bawah kaki Taman Nasional Gunung Halimun. Kalangan
> >>pertambang
> >>sudah merengek-rengek untuk meminta pembabasan ke Dephutbun agar kawasan
> >>itu bisa di
> >>tambang. Terakhir karena Antam sudah kualahan dengan para penambang
> >>rakyat maka
> >>meminta kawasan Taman Nasional dibebaskan untuk penambang rakyat, itu
> >>yang kata
> >>Mentamben SBY, rakyat bisa menambang di sana dan hasilnya dijual ke
> >>Antam.
> >>CI (Conservation International) awal tahun ini menerbitkan policy paper
> >>tentang
> >>pertambangan judulnya Lightening the Load. Dalam buku itu Indonesia
> >>termasuk dalam
> >>bahasan yang cukup lumayan bisa dipakai sebagai acuan kita untuk melihat
> >>persoalan
> >>pertambangan dan lingkungan saat ini.
> >>
> >>Wassalam,
> >>Bambang Ryadi Soetrisno
> >>
> >>NB:
> >>hari Jumat, tanggal 3 Maret 2000 LINGKAR 21, CCLI (Cipta Citra Lestari
> >>Indonesia), IMA (Indonesia Mining Asscociation), dan CI IP, di Gran
> >>Mahakam (Jl. Mahakam Blok M, Jakarta) membuat dialog tentang
> >>Pertambangan dan Penguatan Daerah. Kalau kawan-kawan di Jakarta berminat
> >>mau hadir dalam dialog itu kami persilakan. Acara dimulai jam 13.30
> >>sampai jam 17.00.
> >>
> >>witjaksono wrote:
> >>
> >> > Pecinta Lingkungan Yth,
> >> >         Apakah telah banyak dilakukan penyuluhan diantara penambang
>liar
> >>tentang
> >> > bahaya pencemaran air raksa.  Apakah  ada orang di daerah 
>pertambangan
> >>yang
> >> > telah menunjukkan gejala keracunan air raksa.  Apakah para penambang
> >>liar
> >> > tahu hubungan antara penyakit-penyakit saraf itu dengan keracunan air
> >>raksa.
> >> > Mungkin ini semua perlu mereka ketahui dan sadari.  Bisa saja mereka
> >>melihat
> >> > orang sakit saraf tetapi membuat penalaran sendiri bahwa penyakit itu
> >>adalah
> >> > nasib atau cobaan dari Tuhan.  Kalau sudah bicara bahwa suatu petaka
> >>adalah
> >> > nasib, maka berhentilah usaha memperbaiki keadaan.
> >> >         Apakah ada teknologi yang terjangkau oleh penambang liar itu
> >>untuk
> >> > mengelola limbah air raksa itu.  Penyuluhan dan penerapannya mungkin
> >>bisa
> >> > memperlambat laju pertambahan masalah.
> >> >         Bagi penduduk DAS, penyuluhan tentang bahaya keracunan air
>raksa
> >>perlu
> >> > sangat digiatkan.  Bila perlu penyuluhan semacam ini juga diberikan
>pada
> >> > para penegak hukum dan pemegang kebijakan.  Bila perlu mungkin perlu
> >> > mendatangkan para korban penyakit Minamata. Dengan berkomunikasi
> >>langsung
> >> > dengan korban, mungkin kesan menakutkan dan mengerikan dari penyakit
> >>saraf
> >> > ini bisa lebih merasuk ke sanubari, cukup merasuk hingga menggerakkan
> >>akal
> >> > budi untuk bertindak nyata.
> >> >
> >> > Salam,
> >> > Witjaksono
> >> >
> >> > -----Original Message-----
> >> > From: rusdian lubis [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> >> > Sent: Monday, February 28, 2000 9:51 PM
> >> > To: [EMAIL PROTECTED]
> >> > Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
> >> >
> >> > Saya setuju dengan Elly, kebetulan saya juga menjadi salah satu peer
> >>review
> >> > paper Bank Dunia (antara lain ditulis oleh Elly)tentang penambangan 
>di
> >> > Indonesia.
> >> >
> >> > Tanpa mengecilkan masalah pertambangan skala besar (yang jelas tidak
> >>kecil)
> >> > dan sekarang mulai dibumbui isyu politik, kita perlu memperhatikan
> >>ancaman
> >> > pertambangan skala kecil dan liar yang banyak bertebaran di seluruh
> >>tanah
> >> > air. Mudah-mudahan Mentamben,MenLH dan Mendagri segera mencari jalan
> >>keluar.
> >> >
> >> > Repotnya PETI memang seringkali tidak mempunyai dana dan kemampuan
>cukup
> >> > untuk menyelesaikan persoalan lingkungan tanpa bantuan pemerintah.
> >>Ditambah
> >> > jaringan "mafia" yang berbelit belit. Teoritis, masalah penambang 
>besar
> >> > malah lebih mudah ditangani. Sebab mereka punya dana, skill dan
> >>kredibilitas
> >> > yang dipertaruhkan dipasar modal. PETI tidak !
> >> >
> >> > NGO perlu menaruh perhatian ke masalah ini. Tidak hanya ke 
>pertambangan
> >> > skala besar. Seminar di Bogor itu sangat penting. Salam saya buat Pak
> >>Naya
> >> > (Elly, tolong bisa di forward ke email beliau ?).
> >> >
> >> > RL
> >> >
> >> > >From: Elly Rasdiani Sudibjo <[EMAIL PROTECTED]>
> >> > >Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> >> > >To: [EMAIL PROTECTED]
> >> > >Subject: Re: [lingkungan] pencemaran air raksa dari Gunung Pongkor
> >> > >Date: Tue, 29 Feb 2000 08:38:06 +0700
> >> > >
> >> > >Pak Witjak,
> >> > >
> >> > >Sebenarnya masalah ini sudah mulai di diskusikan pada awal tahun 
>1999.
> >> > >Tapi media massa .. mungkin juga LSM .. juga DPR/DPRD (pada waktu 
>itu
> >>..
> >> > >dan mungkin juga masih sampai saat ini) lebih tertarik dengan kasus
> >>yang
> >> > >kontroversial seperti Freeport, Inti Indo Rayon dan Newmont.
> >> > >
> >> > >OK, perusahaan besar harus diawasi, tapi ya kita jangan lupa juga
> >>dengan
> >> > >masalah yang disebabkan oleh "notabene rakyat kecil" juga dong !!!
> >> > >Masalah Pongkor tidak bisa kita bebankan hanya kepada pemerintah 
>saja,
> >> > >semua sekarang harus memikirkan.  Studi masalah Pongkor sudah 
>banyak,
> >> > >sudah dicoba untuk diangkat diantara media massa juga lho.  
>Sayangnya
> >> > >kurang mendapat perhatian yang lebih dari para jurnalis.  Kalau kita
> >> > >lihat secara lebih mendalam mengenai kasus Pongkor ini, wah ngeri
> >> > >sebetulnya.  Karena yang involve didalamnya sangat beragam, dan
> >> > >mafia-nya juga kuat sekali !!! Bukan saja aparat .. tapi silahkan
> >> > >teropong struktur masyarakat di Pongkor tersebut !!!  Terus terang
> >>saja,
> >> > >saya kurang sreg untuk mendiskusikannya secara publik.  Saya dapat
> >> > >dihubungi di nomor tilpun 62-81-811 8001.
> >> > >
> >> > >Bagaimana juga dengan kasus yang sama di Kalteng ? atau daerah 
>lainnya
> >>?
> >> > >Mungkin tidak di Sulawesi Utara ?  Selain itu kemungkinan timbulnya
> >> > >masalah air asam di KalSel sudah ada yang meneropong belum ?
> >> > >
> >> > >Regards,
> >> > >Elly
> >> > >_________________________________________
> >> > >witjaksono wrote:
> >> > > >
> >> > > > Pecinta Lingkungan Yth,
> >> > > >         Pencemaran air raksa oleh penambang liar dan mungkin dari
> >> > >penambang resmi
> >> > > > (?) dari Gunung Pongkor (Media Indonesia 2/26/00; saya tempel di
> >>bawah
> >> > >pesan
> >> > > > saya) adalah sangat gawat. Di Minamata, diperkirakan lebih dari
> >>70-150
> >> > >ton
> >> > > > air raksa dibuang di Minamata Bay yang kemudian mengakibatkan
> >>penyakit
> >> > > > Minamata (kerusakan susunan syaraf pusat akibat memakan ikan yang
> >> > >tercemar
> >> > > > air raksa).  Keterangan selanjutnya bisa dibaca di:
> >> > > > http://www.caduceus.com.pe/supercourse/lecture/lec0361/index.htm
> >> > > > Sedangkan menurut berita di Media Indonesia, dipakai 4.86 ton air
> >>raksa
> >> > >per
> >> > > > bulan.  Bila di hitung sejak 1994, maka selama 6 tahun ini telah
> >>dipakai
> >> > >350
> >> > > > ton air raksa. Dan 30% masuk sungai Cikaniki.  Ini berarti bahwa
> >>tingkat
> >> > > > pencemaran sudah menyamai pencemaran di Minamata.
> >> > > > Hasil dari penyakit Minamata bisa lihat di:
> >> > > > http://www.tama.or.jp/~sena/minamata/tokyoten/ehome.html (terlalu
> >> > >mengerikan
> >> > > > dan menyedihkan untuk dipaparkan).      Kegawatan dari pencemaran
> >>air
> >> > >raksa ini
> >> > > > adalah karena masuknya air raksa ini dalam rantai makanan di
> >>ekosistim
> >> > >laut
> >> > > > Minamata dan mengumpul pada ikan sebagai ujung dari rantai itu.
>Air
> >> > >raksa
> >> > > > yang mengumpul di ikan tersebut lalu menyebabkan orang yang makan
> >>ikan
> >> > >itu
> >> > > > jadi sakit bila kadar air raksa dalam tubuh orang tersebut telah
> >> > >melewati
> >> > > > batas tertentu.  Ini semua terjadi pada air raksa organik dalam
> >>bentuk
> >> > > > methyl mercury.  Apakah ceritanya akan sama dengan pencemaran air
> >>raksa
> >> > >dari
> >> > > > Gunung Pongkor, saya tidak tahu.
> >> > > >      Ambang batas pencemaran di air adalah 0,1 ppb (0,1 mg dalam 
>1
> >>ton),
> >> > > > sedangkan pencemaran sedimen sungai Cikaniki sudah mencapai
> >>rata-rata
> >> > >3,5
> >> > > > ppm (3,5 g dalam 1 ton) yang berarti 35 ribu kali ambang batas.
> >>Sayang
> >> > > > tidak dicantumkan  kadar pencemaran air sungainya.
> >> > > >         Lalu bagaimana tanggapan pemerintah terhadap masalah ini?
> >> > >Membaca berita
> >> > > > dari Media Indonesia itu, saya menangkap kesan bahwa pemerintah
> >> > >(Mentamben
> >> > > > dan MenegLH) kurang menyadari kegawatan pencemaran dari Gunung
> >>Pongkor.
> >> > > > Usulan pemecahan masalah hanya menitik beratkan pada para 
>penambang
> >> > >liar.
> >> > > > Bangaimana dengan masyarakat yang hidup di daerah aliran sungai
>yang
> >> > >airnya
> >> > > > tercemar?  Bila pada tahun-tahun mendatang mereka pada sakit, 
>lahir
> >> > > > bayi-bayi yang cacat, orang-orang pada sekarat, siapa yang akan
> >> > >menanggung?
> >> > > > Apakah penambang-penambang liar yang mungkin juga sudah akan pada
> >> > >sekarat?
> >> > > >         Pemecahan masalah yang cepat dan nyata perlu segera
> >>dilakukan.
> >> > >Perdaganan
> >> > > > air raksa harus diatur dan hanya badan yang mempunyai fasilitas
> >> > >pembuangan
> >> > > > limbah yang memadai yang boleh membeli.  Pemilik/pembeli air 
>raksa
> >>harus
> >> > > > mendapat ijin dari misalnya Departemen Pertambangan dan 
>Kementrian
> >>LH.
> >> > >Bila
> >> > > > ini dilakukan, maka penambangan liar akan berhenti.  Segala
> >>pencemaran
> >> > >bisa
> >> > > > dibebankan pada penambang resmi.  Selain itu perlu dilakukan
> >>penyuluhan
> >> > > > besar-besaran pada masyarakat DAS supaya tidak terlalu banyak 
>makan
> >>ikan
> >> > > > dari sungai yang tercemar. Untuk lebih akuratnya perlu monitoring
> >>kadar
> >> > >air
> >> > > > raksa di ikan tangkapan dari sungai tercemar, sehingga bisa
>dihitung
> >> > > > seberapa banyak ikan yang boleh dimakan per harinya. Keramba 
>harus
> >> > >dilarang
> >> > > > di sungai yang tercemar.
> >> > > >         Semoga pihak-pihak yang lebih berwenang dan lebih tahu 
>dari
> >>saya
> >> > >dapat
> >> > > > berbuat lebih banyak dalam menangani kasus ini.  Supaya di 
>kemudian
> >>hari
> >> > > > kita tidak menyesal karena tidak berbuat apa-apa atau terlalu
> >>terlambat
> >> > > > menolong para penambang liar bunuh diri dengan bermain air raksa
>dan
> >> > >membawa
> >> > > > serta masyarakat penduduk DAS dan mungkin penduduk kota Bogor dan
> >> > >Tangerang
> >> > > > yang memakai air PDAM yang bersumber dari Sungai Cisadane yang
> >>bersumber
> >> > > > dari Sungai Cikaniki.
> >> > > >
> >> > > > Witjaksono
> >> > > > Postdoctoral Research Associate
> >> > > > Tropical Research and Education center
> >> > > > University of Florida
> >> > > > 18905 SW 280th Street
> >> > > > Homestead Florida 33031-3314
> >> > > > USA
> >> > > >
> >> > > > Limbah Bijih Emas Pongkor Melebihi Bahaya di Jepang
> >> > > >                      Media Indonesia - Jabotabek (2/26/00)
> >> > > >
> >> > > >                      BOGOR (Media): Limbah pabrik dan buangan
> >>penggalian
> >> > > > liar bijih emas Gunung Pongkor mencemari Kali Cisadane. 
>Pencemaran
> >>logam
> >> > > > berat mercury itu dapat mengakibatkan kematian bagi manusia.
> >>Peneliti di
> >> > > > sana menemukan gumpalan pencemaran mercury di beberapa titik
> >>melebihi
> >> > > > kejadian Teluk Minamata, Jepang. Masalah besar akan melanda 
>karena
> >>Kali
> >> > > > Cisadane merupakan salah satu sumber bahan baku air bersih PDAM
> >>Bogor
> >> > >dan
> >> > > > PDAM Tangerang.
> >> > > >
> >> > > >                      Hal itu terungkap dalam diskusi "Penanganan
> >>Masalah
> >> > > > Dampak Lingkungan akibat Kegiatan PETI di Kecamatan Nanggung".
> >>Diskusi
> >> > > > dihadiri Mentamben Bambang Soesilo Yudhoyono, Menteri Lingkungan
> >>Hidup
> >> > >Sonny
> >> > > > Keraf, kemarin, di ruang Serba Guna I Pemda Kabupaten Bogor.
> >> > > >                      Dalam diskusi sehari yang dipandu Staf Ahli
> >> > >Mentamben
> >> > > > bidang Lingkungan Surnatjahja Djajadiningrat,Ketua Bapedal Jawa
> >>Barat
> >> > >Dodo
> >> > > > Perdata terungkap bahwa terdapat sekitar 6.000 orang PETI 
>(penggali
> >>emas
> >> > > > tanpa izin) di Gunung Pongkor.
> >> > > >
> >> > > >                      Menurut Dodo Perdata, aktivitas Unit
>Penggalian
> >> > >Emas
> >> > > > Pongkor (Upep) sejak 1994 telah menimbulkan pencemaran berupa zat
> >>kimia
> >> > > > mercury yang tak bisa larut dalam senyawa kimia. Hasil penelitian
> >>Juni
> >> > >1999
> >> > > > yang masuk ke Bapedalda Jabar, katanya, pencemaran terjadi pada
> >> > >sedimentasi
> >> > > > tanah Kali Cikaniki I dan II (Kali Cisadane hulu), umumnya 
>mencapai
> >>3,50
> >> > > > miligram part per million (ppm). Di beberapa titik mencapai 28,38
> >>ppm.
> >> > > >                                 "Sementara di Teluk Minamata 
>Jepang
> >>yang
> >> > >menewaskan manusia akibat
> >> > > > kerusakan jaringan otak hanya mencapai 25 ppm," ungkap Dodo 
>memberi
> >> > > > perbandingan.                    Pencemaran mercury demikian
> >>mengerikan
> >> > > > karena pembersihan bijih emas dari bongkahan tanah setiap
> >> > > > bulannya menggunakan 4,86 ton zat kimia air raksa. Sekitar 30%
> >>limbah
> >> > >air
> >> > > > raksa masuk ke Kali                      Cikaniki I dan II. 
>Padahal
> >> > >kadar Hg
> >> > > > dalam air telah melampaui batas maksimal 0,1 ppb (part per
>billion).
> >> > > > Menanggapi kondisi tersebut, Mentamben menekankan harus dicari
> >>solusi
> >> > >yang
> >> > > > adil dan positif untuk menangani PETI. "Pencemaran hal mendasar 
>dan
> >> > >besar.
> >> > > > Diskusi ini harus memberikan kontribusi pertanggungjawaban,
> >>bagaimana
> >> > >PETI
> >> > > > dapat masih berlanjut karena ada segi positifnya," papar 
>Mentamben.
> >> > >Bambang
> >> > > > mempertanyakan beberapa kemungkiann keliru yang membuat ulah PETI
> >> > >berlanjut.
> >> > > > Apakah ada UU dan regulasinya? Apakah ada kebijakan, baik pusat
> >>maupun
> >> > > > daerah, yang keliru? Apakah ada penanganan yang keliru atau ada
>KKN?
> >> > > > "Bagaimana jika PETI diikutsertakan dalam penggalian resmi?
> >>Bagaimana
> >> > > > legalitasnya?" ia melemparkan usulan. Karena tidak ada jawaban,
> >> > >Mentamben
> >> > > > menyarankan penanganan PETI dilakukan bersama melalui pendekatan
> >> > >fungsional
> >> > > > sampai pada penindakan hukum yang berlaku.
> >> > > >
> >> > > >                      Mennen LH Sonny Keraf setuju hendaknya
> >> > >dikoordinasikan
> >> > > > dengan instansi terkait. Tegakkan law enforcement dengan membuat
> >>status
> >> > >PETI
> >> > > > memiliki izin. Tapi harus dipisahkan antara PETI warga asli
>setempat
> >> > > > (sekitar lokasi Upep) dan PETI pendatang. Oknum
> >> > > >                      yang terlibat KKN dibersihkan bekerja sama
> >>dengan
> >> > > > kepolisian setempat. (Dsa/Ril/J-2
> >> > > >
> >> > > > --
> >> > > > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >> > > > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >> > > > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> >> > >
> >> > >--
> >> > >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >> > >For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >> > >Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> >> > >
> >> > >
> >> > >
> >> > >
> >> > >
> >> >
> >> > ______________________________________________________
> >> > Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
> >> >
> >> > --
> >> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >> > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >> > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> >> >
> >> > --
> >> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >> > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >> > Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> >>
> >>--
> >><apologies for cross-postings>
> >>visit LINGKAR Website http://jupiter.centrin.net.id/~lplppr
> >>
> >>
> >>--
> >>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >
> >______________________________________________________
> >Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
> >
> >
> >--
> >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
>--
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com


--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/




Kirim email ke